Berita Asian Games 2018

7 Hal yang Bisa Dipetik dari Perjuangan Para Peraih Medali Emas Asian Games 2018

Hingga Kamis (30/8/2018), Indonesia telah mendapatkan 30 emas, 22 perak, dan 37 perunggu.

7 Hal yang Bisa Dipetik dari Perjuangan Para Peraih Medali Emas Asian Games 2018
KOMPAS.com/Akbar Bhayu Tamtomo
Sebagian atlet Indonesia peraih medali emas Asian Games 2018. 

Perjalanan keduanya juga tak mudah, sejak usia belasan tahun harus tinggal jauh dari keluarga dan tinggal di asrama.

5. Eko Yuli

Atlet Angakt Besi Putra Indonesia, Eko Yuli Irawan berselebrasi setelah berhasil meraih medali emas di kelas 62 kilogram pada Asian Games 2018 di JI Expo Kemayoran, Jakarta, Selasa (21/8/2018). Ia menyumbang medali emas untuk Indonesia dengan melakukan angkatan total 311 kg (snatch 141 dan clean and jerk 170).
Atlet Angakt Besi Putra Indonesia, Eko Yuli Irawan berselebrasi setelah berhasil meraih medali emas di kelas 62 kilogram pada Asian Games 2018 di JI Expo Kemayoran, Jakarta, Selasa (21/8/2018). Ia menyumbang medali emas untuk Indonesia dengan melakukan angkatan total 311 kg (snatch 141 dan clean and jerk 170). (KOMPAS.com/KRISTIANTO PURNOMO)

Eko Yuli, atlet cabor angkat besi, menjadi salah satu penyumbang medali emas untuk Indonesia pada Asian Games 2018. Ia mulai menggeluti angkat besi sejak sekolah dasar.

Eko juga melalui jalan yang tak mudah, berjuang dari bawah. Lahir dari keluarga sederhana, ayah Eko seorang pengayuh sepeda yang terkadang juga menjadi tukang bangunan. Sedangkan ibunya seorang pedagang sayuran.

Keterbatasan ekonomi menjadi pelecut semangatnya. Ia bertekad untuk keluar dari keadaan tersebut dan membantu keluarganya.

Ia tak pernah terpikir menjadi seorang atlet. Namun, sejak sekolah dasar ia memang sudah berlatih di tempat latihan sekitar rumahnya. Belum satu tahun latihan, pada 2001 ia meraih gelar juara nasional.

Hal ini menjadi motivasi Eko untuk terus berlatih dan mendapatkan juara di olimpiade.

Pada Asian Games 2018, total beban yang ia catatkan adalah 311 kg. Bahkan, demi berjuang untuk Indonesia, ia harus melewatkan proses persalinan anak keduanya.

6. Kevin Sanjaya/Marcus Gideon

Ganda putra Indonesia, Marcus Fernaldi Gideon - Kevin Sanjaya Sukamuljoberhasil meraih emas setelah menundukkan ganda putra Indonesia, Fajar Alfian - Muhammad Rian Ardianto pada pertandingan final ganda putra Asian Games 2018 di Istora Senayan, Jakarta, Selasa (28/8/2018).
Ganda putra Indonesia, Marcus Fernaldi Gideon - Kevin Sanjaya Sukamuljoberhasil meraih emas setelah menundukkan ganda putra Indonesia, Fajar Alfian - Muhammad Rian Ardianto pada pertandingan final ganda putra Asian Games 2018 di Istora Senayan, Jakarta, Selasa (28/8/2018). (KOMPAS.com/KRISTIANTO PURNOMO)

Kevin Sanjaya bersama pasangannya Marcus Fernaldi Gideon berhasil menyumbangkan emas untuk Indonesia dari nomor ganda campuran bulutangkis.

Kemenangan di Asian Games 2018 ini membuat Kevin meneteskan air mata. Ini kali pertama ia menangis setelah memenangkan pertandingan.

Kevin mengaku, apa yang diraihnya semua karena kebaikan Tuhan. Pertarungan melawan rekan senegaranya di babak final, Rian/Fajar, berlangsung sengit.

Namun, Kevin/Markus tak patah semangat. Setelah sempat tertinggal, pasangan ini berhasil memenangkan pertandingan. Tak pantang menyerah, itu kuncinya.

7. Jonatan Christie

Pebulu tangkis tunggal putra Indonesia Jonatan Christie melakukan servis ke arah lawannya pebulu tangkis Jepang Kenta Nishimoto, pada babak semifinal Asian Games 2018 di Istora Senayan, Jakarta, Senin (27/8/2018).
Pebulu tangkis tunggal putra Indonesia Jonatan Christie melakukan servis ke arah lawannya pebulu tangkis Jepang Kenta Nishimoto, pada babak semifinal Asian Games 2018 di Istora Senayan, Jakarta, Senin (27/8/2018). (ANTARA FOTO/INASGOC/M RISYAL HIDAYAT)

Jojo, sapaan akrab Jonatan Christie, dielu-elukan publik setelah meraih medali emas dari nomor tunggal putra bulutangkis.

Ia mulai berlatih bulu tangkis saat berusia 6 tahun. Sang papalah yang mendorong dan mendukungnya.

Untuk persiapan Asian Games 2018 ini, Jojo mengaku meningkatkan latihan untuk fisiknya. Di mana durasi latihan di lapangan menjadi 85 menit ke atas, ditambah lari, gym, dan berenang. Ia berhasil membungkam kritikan terhadapnya dengan prestasi.

Jojo mengatakan, ia mempunyai satu folder di ponselnya yang berisi tangkapan layar komentar negatif dari para warganet. Folder tersebut dinamai "penyemangat".

Ia gunakan komentar tersebut sebagai pelecut semangat dan motivasi baginya. Selain itu, sebagai pengingat ketika ia berada di atas, agar tidak cepat puas dan lupa diri.

Jojo mengatakan, harga termahal yang ia korbankan adalah terbatasnya waktu bersama keluarga dan teman-temannya. Namun, perjuangan dan pengorbanan itu membuahkan hasil maksimal di Asian Games 2018.

Kemenangan ini menjadikan Jojo lebih percaya diri menghadapi kompetisi selanjutnya. Kini, Jojo telah bersiap untuk kembali bertarung.

Pekan depan, ia akan bertolak ke Jepang dan China, melanjutkan perjuangan mengharumkan nama bangsa.

Infografik: Bonus Atlet dan Pelatih Berprestasi Di Asian Games 2018.
Infografik: Bonus Atlet dan Pelatih Berprestasi Di Asian Games 2018. (KOMPAS.com/Akbar Bhayu Tamtomo)

Artikel ini telah tayang di Kompas.com dengan judul "7 Hal yang Bisa Dipelajari dari Perjuangan Jojo dan Para Juara", https://lifestyle.kompas.com/read/2018/08/30/174300220/7-hal-yang-bisa-dipelajari-dari-perjuangan-jojo-dan-para-juara.
Penulis : Mela Arnani

Editor: Agustinus Sape
Sumber: Kompas.com
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved