Berita Kabupaten Kupang

Para Siswa Butuh Pendampingan Psikis Pasca Bentrok Warga Oebelo dan Tanah Merah

Para siswa butuh pendampingan psikis pasca bentrok berdarah warga Desa Oebelo dan warga Desa Tanah Merah.

Para Siswa Butuh Pendampingan Psikis Pasca Bentrok Warga Oebelo dan Tanah Merah
POS-KUPANG.COM/GECIO VIANA
Mariajina Soares S.Pd, Kepala SD-SMP Kristen Rehobot ketika ditemui POS-KUPANG.COM di ruang kerjanya di sekolah tersebut yang berada di RT 22 RW 08 Dusun 4 Sesa Oebelo, Keamatan Kupang Tengah, Kabupaten Kupang, Senin (28/8/2018). 

Laporan Reporter POS-KUPANG, Gecio Viana

POS-KUPANG.COM | KUPANG - Mariajina Soares, S.Pd, Kepala SD-SMP Kristen Rehobot mengatakan, para siswa membutuhkan pendampingan psikis pasca bentrok berdarah antara warga Desa Oebelo dan warga Desa Tanah Merah, Kecamatan Kupang Tengah, Kabupaten Kupang, Provinsi NTT, Selasa (28/8/2018) siang

Kepada POS-KUPANG.COM di ruang kerjanya di sekolah yang berada di RT 22 RW 08 Dusun 4 Desa Oebelo, Mariajina menjelaskan para siswa mengalami trauma mendalam karena sebagian siswa melihat secara langsung bentrokan yang terjadi pada hari pertama, Kamis (23/8/2018), yang mengakibatkan satu korban tewas dari Desa Oebelo.

"Harus ada pendampingan secara psikologi. Itu penting karena psikologi mereka (siswa) terganggu. Mereka terganggu secara mental dan akan dibawa sampai besar. Apalagi mereka lihat langsung kejadian banyak orang bawa senjata tajam, senapan dan berkelahi," tegasnya.

Selain itu, ia mengungkapkan, trauma tersebut membuat cemas, khawatir dan ketakutan bagi para siswa. Bahkan untuk sekarang banyak anak yang enggan untuk bersekolah karena takut terjadi bentrok susulan dimana keselamatan mereka pun tidak terjamin.

Ia mengatakan, lokasi bentrok antara dua warga desa tersebut terjadi di dekat area sekolah dan karena situasi yang belum kondusif pihaknya memutuskan untuk meliburkan sekolah sementara waktu hingga keadaan kembali kondusif.

"Keadaan begini (bentrok) sangat merugikan anak-anak, sudah lima hari mereka tidak sekolah dan mereka juga terlambat materi mata pelajaran. Kasihan juga siswa yang sudah kelas enam dan kelas sembilan yang mau menghadapi ujian nasional," keluhnya.

Dikatakannya, para guru di sekolah tersebut pun merasa takut ke sekolah untuk melaksanakan aktivitas belajar mengajar karena situasi yang belum kondusif, apalagi, kata Mariajina, sebagian guru menyaksikan langsung bentrokan tersebut.

Ia mengungkapkan, untuk keadaan sekarang, anak-anak juga merasa takut bukan saja ke sekolah akan tetapi di rumah pun mengalami rasa takut yang sama.

Oleh karena itu, ia sangat mengharapkan langkah pemprov NTT yang telah menyepakati empat point penyelesaian bentrok antar warga dua desa pada Minggu (26/8/2018) untuk dalam waktu dekat ini diimplementasikan sehingga persoalan tersebut jangan berlarut-larut dan ada jalan damai bagi kedua belah pihak.

Semua kelompok kepentingan menurutnya harus bertemu dan duduk bersama baik itu pemerintah desa, tokoh masyarakat, tokoh adat dan tokoh pemuda dari kedua desa.

Karena dari keempat point kesepakatan itu tidak dibicarakan terkait pendampingan psikis bagi siswa pasca bentrok, ia meminta hal tersebut wajib dilakukan oleh pemerintah karena sangat berpengaruh pada mental dan tumbuh kembang siswa di sekolah.

Mariajina mengungkapkan, para siswa yang bersekolah di sekolah tersebut bukan saja dari desa Oebelo akan tetapi banyak juga dari desa Tanah Merah, Desa Tuapukan bahkan sampai desa-desa di bagian kecamatan Kupang Timur, Kabupaten Kupang.

Sekolah yang dipimpinnya tersebut memiliki 251 siswa dengan pembagian sebanyak 172 siswa Sekolah Dasar (SD) yang terdiri dari delapan rombongan belajar (Rombel) dan sebanyak 79 siswa Sekolah Menengah Pertama (SMP) yang terdiri dari empat rombel.

Untuk jumlah guru, kata Marjiana, sekolahnya memiliki 25 guru baik tingkat SD maupun SMP dimana lebih banyak berdomisili di luar desa Oebelo yakni di daerah Kota Kupang. Sekolah tersebut juga menerapkan jam sekolah siang bagi sebagian rombel sehingga aktivitas sekolah dari pukul 07.30 hingga pukul 14.30 Wita (*)

Penulis: Gecio Viana
Editor: Agustinus Sape
Sumber: Pos Kupang
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help