Opini Pos Kupang

Kesadaran tentang Toleransi Kita

Kita sering mendefinisikan toleransi sebagai sikap memberikan kelonggaran terhadap orang untuk

Kesadaran tentang Toleransi Kita
ILUSTRASI

Pengalaman pertumbuhan setiap pribadi dan pergaulan lintas batas mengingatkan kita bahwa seringkali terjadi penyimpangan dalam perilaku dan ketidakmatangan dalam kecakapan. Hal ini tidak selalu disebabkan oleh niat yang buruk, tetapi karena kurangnya pengalaman.

Sebab itu, kita tidak perlu segera menilai seseorang sebagai pribadi yang tidak menghargai kerukunan dan mengancam kebebasan beragama apabila orang tersebut pada kesempatan tertentu berperilaku menyimpang.

Agar dialog dan solidaritas dapat berjalan sesuai nilai yang disadari dan perilaku yang dibangun, maka diperlukan perangkat peraturan dan struktur tertentu untuk memberikan jaminan legal-formal bagi kebebasan beragama.

Namun, jaminan legal ini harus didukung kesadaran berdemokrasi dan gagasan teologis yang mengakui hak setiap orang untuk memeluk agamanya masing-masing. Apabila kita hanya mengandalkan jaminan legal/formal dari negara, maka toleransi beragama hanya merupakan sebuah rumusan tanpa isi normatif.

Dalam membangun budaya toleransi, negara berperan sebagai struktur yang memajukan kesadaran berdemokrasi pada tataran esensial dan pada tataran pragmatis dengan memberikan argumentasi pragmatis melalui peraturan perundangan yang menjamin kebebasan beragama.

Agama-agama sendirilah yang berperan sebagai sumber argumentasi esensial yang memberikan pendasaran teologis.

Peran ini tidak tergantikan dan tidak dapat diambil alih negara. Penataan gagasan teologis yang mendukung dialog dan bela rasa memang dapat didorong oleh pengalaman kerja sama dan interaksi yang intensif dari agama-agama.

Namun, upaya ini sering mesti berhadapan dengan satu masalah kemanusiaan yang sangat besar, yang menampakkan dirinya sebagai sumber kekerasan dalam relasi antarmanusia adalah ketakutan akan yang lain.

Ketakunan akan yang lain merupakan satu gejala yang dapat diamati dalam konflik-konflik antarkelompok. Yang lain adalah anggota dan wakil dari satu kelompok bukan kita yang dieksklusi dari `kita' dan dilemparkan ke dalam `mereka'. Kita terpenjara dalam rasa takut bersentuhan dengan yang lain.

Kita pantas untuk hidup, sedangkan mereka distigma menjijikkan dan pantas dibenci bahkan dilenyapkan. Apabila terjadi krisis dalam masyarakat, mereka mudah dilihat sebagai anomali yang menyebabkan krisis itu. Krisis menggetarkan jiwa, mengaduk-aduk emosi-emosi rendah yang membutuhkan kanalisasi. Kanalisasi itu ditemukan dalam tindakan kekerasan terhadap mereka. Karena itu, melenyapkan mereka dinilai sebagai satu kewajiban etis bahkan agama.

Halaman
1234
Editor: Putra
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help