Opini Pos Kupang

Kesadaran tentang Toleransi Kita

Kita sering mendefinisikan toleransi sebagai sikap memberikan kelonggaran terhadap orang untuk

Kesadaran tentang Toleransi Kita
ILUSTRASI

Di Indonesia kita bertumbuh dan hidup dalam kondisi kebhinekaan sebagai realitas terberi yang telah menjadi bagian dari jati diri bangsa Indonesia. NKRI harga mati.

Perjuangan kita saat ini bukan lagi membangun tetapi memelihara dan menyuburkan kebhinekaan. Dalam perspektif ini, kita tidak dapat lagi mempertahankan kedua pemahaman tentang toleransi seperti di atas.

Toleransi sebuah kebersamaan perjuangan tidak dapat lagi didasarkan hanya pada kebaikan agama kita yang membiarkan kehadiran agama lain dalam batas yang bisa ditolerirnya. Juga tidak dapat dibangun di atas basis keterpaksaan karena kita tidak berdaya meniadakan kelompok agama lain.

Di sini toleransi adalah ekspresi budaya dialogal dan solider. Budaya dialogal adalah sikap terbuka mendengarkan dan kesediaan untuk membagi kekayaan iman kepada orang lain dengan tujuan meningkatkan, solidaritas.

Umat beragama tidak sekadar terbuka satu sama lain untuk saling belajar satu dari yang lain, tetapi juga menggalang kekuatan bersama guna menghadapi berbagai persoalan masyarakat, bangsa dan lingkungan (dialogal-solider). Dalam terminologi lain, toleransi kita tidak hanya berada pada tingkatan ko-eksistensi, tetapi juga pro-eksistensi.

Bila keselamatan dibenarkan oleh setiap agama, dan karena keselamatan tidak mentolerir usaha-usaha yang merugikan keselamatan orang lain, maka sebetulnya apapaun cara yang diajarkan setiap agama untuk mencapai keselamatan selalu tidak mentolerir usaha yang merugikan keselamatan orang lain dalam bentuk apapun.

Toleransi beragama dengan demikian adalah usaha menjaga dan memelihara keselamatan itu sendiri, agar cara hidup beragama jangan sampai merugikan keselamatan orang lain dan merusak keutuhan NKRI.

Untuk menumbuhkan toleransi dialogal dan solider ini, diperlukan kesadaran atau keyakinan, kecakapan atau perilaku serta peraturan dan struktur. Ketiga unsur ini merupakan elemen-elemen yang ada dalam setiap kebudayaan.

Budaya dialog dan berbela rasa antarumat beragama dapat dilahirkan apabila kita memiliki keyakinan akan pentingnya hal tersebut. Di sini dijawab pertanyaan tentang mengapa kerukunan, dialog dan solidaritas penting dalam kehidupan antarumat beragama.

Dari kesadaran tersebut akan lahir dan dibentuk sejumlah perilaku dan kecakapan untuk berdialog dan bekerja sama. Perilaku dan kecakapan adalah jawaban atas pertanyaan bagaimana dialog dan solidaritas dapat dibangun dan dikembangkan. Yang patut diingat di sini adalah bahwa perilaku dan kecakapan adalah hasil pembelajaran terus-menerus.

Halaman
1234
Editor: Putra
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help