Opini Pos Kupang

Kesadaran tentang Toleransi Kita

Kita sering mendefinisikan toleransi sebagai sikap memberikan kelonggaran terhadap orang untuk

Kesadaran tentang Toleransi Kita
ILUSTRASI

Oleh: JB Kleden
PNS Kanwil Agama NTT

POS-KUPANG.CIM - Setelah berlarut selama dua tahun, Pengadilian Negeri Medan pada 21 Agustus 2018 menjatuhkan vonis kepada Meiliana, warga Tanjung Balai, Medan, Sumatra Utara satu tahun enam bulan.

Putusan ini kemudian mencuatkan pro-kontra. Artikel ini tidak secara khusus membahas kasus ini, namun kasus ini seakan menyentuh titik kesadaran tentang toleransi kita.

Kita sering mendefinisikan toleransi sebagai sikap memberikan kelonggaran terhadap orang untuk melaksanakan kewajibannya. Kita masih membiarkan sesuatu dilakukan, walaupun sebenarnya tidak boleh lagi. Kita berbicara tentang batas toleransi jam masuk kantor. Kita sudah menetapkan batasnya, namun masih ada limit toleransi.

Saya mentolerir kesalahan tertentu, yang seharusnya dihukum. Di sini toleransi adalah ungkapan kebaikan hati seseorang yang bersedia bertindak di luar ketentuan demi kebaikan orang lain. Orang yang berpegang teguh pada aturan dan tidak memberikan pengertian apapun bagi yang melanggar aturan disebut intoleran.

Dalam relasi antaragama toleransi di sini berarti sikap dermawan yang ditunjukkan satu masyarakat agama, yang masih memperkenankan kehadiran agama-agama lain, walaupun sebenarnya kehadiran mereka menyalahi pandangan dasar agamanya sendiri.

Kehadiran agama lain ada dalam batas toleransi, dan hanya sejauh itu mereka diterima. Toleransi model ini disebut toleransi belas kasihan.

Kita juga sering mengggunakan kata toleransi dalam pengertian: menerima dan membiarkan sesuatu ada, selama kita tidak berdaya meniadakan atau mengubahnya.

Dasarnya sama, yakni bahwa sesuatu itu semestinya tidak boleh ada. Namun, selama saya tidak berdaya meniadakannya, saya mentolerirnya. Untuk hubungan antaragama, toleransi ini berarti menerima saja kehadiran agama lain karena kita tidak berdaya meniadakan mereka.

Pada dasarnya, agama-agama lain itu tidak boleh ada, namun mereka terpaksa diterima karena mereka sudah ada terlebih dahulu, atau karena mereka membentuk mayoritas penduduk. Selama kita menganut paham toleransi seperti ini, maka kita sangat mudah berkolaborasi dengan kekuatan dan kekuasaan yang menjanjikan dominasi mutlak kita. Sebab, kita sebenarnya sedang menunggu waktu dan kemungkinan untuk mengubah keadaan. Toleransi ini disebut toleransi pragmatis.

Halaman
1234
Editor: Putra
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved