Berita Kabupaten Belu

Ini Yang Dilakukan Viviana Lay Untuk Pelestarian Budaya Tenun di Belu

Motif yang terdapat dalam kain tenun bukanlah simbol belaka tetapi ada cerita dan sejarah tentang kehidupan masyarakatnya

Ini Yang Dilakukan Viviana Lay Untuk Pelestarian Budaya Tenun di Belu
POS KUPANG/TENY JENAHAS
Nyonya Viviana Sebut Buku-buku Legenda di Belu Berkurang

Laporan Reporter POS KUPANG.COM,Teni Jenahas

POS- KUPANG.COM|ATAMBUA--Motif yang terdapat dalam kain tenun bukanlah simbol belaka tetapi ada cerita dan sejarah tentang kehidupan masyarakatnya. Ada pula sejarah tentang suku, rumah adat dan aspek kehidupan lainnya.

Cerita dan sejarah sebuah motif kain tenun ini lambat laun tidak diketahui oleh generasi muda karena makna motif dalam kain tenun tidak tertulis dalam buku atau teks ilmiah. Seluruh makna motif pada kain tenun hanya tertuang dalam lembaran kain.

Hal ini yang menginspirasi Viviana Ng.Lay untuk menulis buku tentang kisah penenun di Kabupaten Belu.

"Saya rencana menulis buku tentang kisah penenun di Belu yang sejak jaman Belanda, Jepang dan sampai sekarang masih ada. Pasti ceritanya menarik," kata istri Bupati Belu ini kepada Pos Kupang.Com, Rabu (29/8/2018).

Menurut Viviana Lay, melestarikan tenun ikat bukan hanya soal menciptakan pasar untuk kerajinan tetapi memotivasi generasi mudah untuk bisa menulis tentang kisah penenun di Kabupaten Belu. Mumpung para penenun yang hidup sejak jaman Belanda masih ada sampai saat ini.

Viviana Lay yang adalah Bunda PAUD Kabupate Belu ini mengatakan, setiap motif tenun yang dibuat pasti mempunyai makna tersendiri. Makna motif tersebut yang mesti digali lalu dituliskan dalam bentuk buku sehingga menjadi referensi bagi generasi mudah yang hidup di jaman modern saat ini.

Selain menulis tentang motif, ada aspek lain yang cukup menarik untuk ditulis seperti kisah penenun saat melakukan tenun kain di masa penjajahan.

Viviana akan menulis buku tentang kisah penenun di Kabupaten Belu dalam beberapa waktu ke depan. Ia berencana menulis buku sebagai bentuk motivasi bagi generasi muda di Kabupaten Belu untuk terus mengembangkan budaya literasi.

Menurut Viviana, menulis buku merupakan impiannya sejak sekolah. Ia termasuk orang yang suka membaca bahkan semasa sekolah ia dijuluki sebagai kutu buku.

"Saya dulu dijluki kutu buku. Saat sekolah, saya selalu beli buku. Kalau
pulang libur saya jarang beli ole-ole makanan tetapi beli buku," katanya. (*)

Penulis: Teni Jenahas
Editor: Rosalina Woso
Sumber: Pos Kupang
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help