Berita Nasional

Berkat Direktorat Tindak Pidana Siber, Seorang Mahasiswa Lepas dari Jerat Hukum Australia

Seorang WNI berinisial AS berhasil terbebas dari jerat hukuman penjara di Australia berkat upaya Direktorat Tindak Pidana Siber Bareskrim Polri.

Berkat Direktorat Tindak Pidana Siber, Seorang Mahasiswa Lepas dari Jerat Hukum Australia
KOMPAS.com/Devina Halim
Dua tersangka di Kantor Direktorat Tindak Pidana Siber Bareskrim, Gambir, Jakarta Pusat, Selasa (28/8/2018) 

POS-KUPANG.COM | JAKARTA - Seorang warga negara Indonesia (WNI) berinisial AS berhasil terbebas dari jerat hukuman penjara di Australia berkat upaya Direktorat Tindak Pidana Siber Bareskrim Polri.

Sebuah surat dari Kementerian Luar Negeri dan Kepolisian di Australia menyebutkan telah terjadi penangkapan dan persidangan terhadap AS.

Ia diduga menerima barang hasil kejahatan yang dibeli menggunakan kartu kredit milik warga negara Australia. Pengadilan pun mendakwakan sembilan tuduhan penipuan terhadap AS.

Baca: Rossa Terkejut Lihat Bakat Penyanyi Cilik Indonesia

Direktur Tindak Pidana Siber Bareskrim, Brigjen Pol Albertus Rachmad Wibowo mengatakan, pihaknya langsung menindaklanjuti surat tersebut.

"Setelah kita menginterograsi, kami melakukan penyelidikan dan diketahui bahwa barang-barang itu diminta untuk dikirim ke Indonesia dengan menggunakan beberapa proxy untuk mengaburkan identitas, sampai kita menemukan Dedek di Bandung dan Adhitya di Yogyakarta," tutur Albertus di Kantor Bareskrim, Gambir, Selasa (28/8/2018).

Kedua tersangka berinisial DSC dan AR melakukan pencurian data kartu kredit nasabah di Australia. Hal itu dilakukan melalui link yang dikirimkan lewat surel kepada nasabah.

Data kartu kredit tersebut kemudian mereka gunakan untuk berbelanja di beberapa situs e-commerce. Keduanya ternyata memanfaatkan AS yang tinggal di Australia untuk menerima dan mengirim barang perbelanjaan tersangka ke Indonesia.

AS kenal dengan salah satu tersangka, AR, lewat media sosial. Pengungkapan tersebut langsung diteruskan oleh Direktorat Tindak Pidana Siber ke pengadilan di Australia terkait kasus AS.

"Setelah terungkap kasus ini, melalui hubungan police to police, Bareskrim Polri dengan Kepolisian Australia, kami sampaikan bahwa kami telah menangkap pelaku. Itu pun sudah disampaikan ke pengadilan sehingga putusan pengadilan bisa (diringankan)," tutur dia.

Pada akhirnya, berkat kerja sama berbagai pihak, AS berhasil lolos dari tuduhan tindak pidana yang tidak dilakukannya. Meski, ia masih harus membayar denda.

"Yang bersangkutan tetap ditenda dan itu cukup berat, karena yang bersangkutan juga masih mahasiswi," ujarnya.

Sementara itu, kedua tersangka sudah ditangkap. Pelaku berinisial AR ditangkap di sebuah asrama di Sleman, Yogyakarta, pada 6 Juni 2018.

Sementara itu, tersangka DSC ditangkap di rumahnya, di Bandung, Jawa Barat, pada tanggal yang sama.

Para pelaku telah melakukan tindakan tersebut selama kurang lebih dua tahun. Dalam kurun waktu itu, mereka berhasil mendapatkan 4.000 data kartu kredit. Kerugian yang diakibatkan ditaksir mencapai 20.000 dollar Australia. (*)

Editor: Kanis Jehola
Sumber: Kompas.com
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help