Berita Kabupaten TTS

Terkait Maraknya Penambangan Batu Warna di Kolbano, Ini Sikap Pemkab TTS

Bupati TTS, Ir. Paul Mella mengatakan, pihaknya tidak bisa berbuat apa-apa terkait masih maraknya tambang batu warna di Pantai Kolbano

Terkait Maraknya Penambangan Batu Warna di Kolbano, Ini Sikap Pemkab TTS
POS-KUPANG.COM/DION KOTA
Bupati TTS, Ir. Paul Mella

Laporan Reporter POS-KUPANG.COM, Dion Kota

POS-KUPANG.COM | SOE - Bupati TTS, Ir. Paul Mella mengatakan, pihaknya tidak bisa berbuat apa-apa terkait masih maraknya aktivitas tambang batu warna di kawasan wisata Pantai Kolbano. Sebab kewenangan tambang dialihkan ke propinsi.

Mella mengatakan ia sudah melakukan koordinasi dengan Dinas Pertambangan Provinsi NTT untuk bisa turun ke lapangan menertibkan aktivitas tambang di kawasan wisata tersebut, tetapi hingga saat ini Dinas Pertambangan NTT masih enggan turun ke Pantai Kolbano.

Baca: Bebaskan Anak Korban Perkosaan, Putusan Pengadilan Tinggi Jambi Diapresiasi

"Kita sudah turun bersama DPRD TTS untuk minta warga hentikan aktivitas tambang batu warna di kawasan wisata pantai kolbano, tetapi masyarakat berkeras tetap melakukan penambangan batu warna di kawasan wisata tersebut. Bahkan, ada bahasa yang keluar dari masyarakat yang menyebutkan Pemkab TTS tidak punya wewenang soal tambang, karena sudah dialihkan ke provinsi. Oleh sebab itu, kita koordinasi dengan Propinsi agar bisa turun ke pantai Kolbano untuk menertibkan tambang batu warna, tetapi hingga saat ini Dinas Pertambangan Provinsi NTT diam saja," ungkap Bupati Mella ketika dihubungi POS- KUPANG.COM, Selasa (28/8/2018) melalui sambungan telepon selulernya.

Wakil Ketua DPRD TTS, Imanuel Olin yang dikonfirmasi terpisah terkait aktivitas tambang batu warna di kawasan Pantai Kolbano mengatakan sulit menghentikan aktivitas tambang batu warna karena hal tersebut sudah menjadi mata pencarian masyarakat sekitar.

Sudah berulang kali DPRD TTS dan Pemda TTS turun ke kawasan pantai Kolbano untuk meminta masyarakat menghentikan aktivitas tambang di kawasan tersebut, tetapi hingga saat ini aktivitas tambang masih tetap dilakukan.

"Kita (Pemda TTS) pergi mereka berhenti tambang, kita pulang, mereka tambang batu warna lagi. Ini memang sulit dihentikan karena tambang batu warna sudah menjadi mata pencarian masyarakat sekitar. Oleh sebab itu, ke depan pemerintah perlu menyediakan alternatif pekerjaan untuk masyarakat sekitar sehingga masyarakat di kawasan pantai kolbano tetap memiliki penghasilan," ujar Olin.

Kepala Dinas Pariwisata Kabupaten TTS, Tian Yosis Tallo mengatakan, sulit menghentikan aktivitas tambang di kawasan wisata pantai kolbano.

Ia mengaku, pada tahun 2017 lalu sudah mengalokasikan anggaran untuk menata kawasan pantai kolbano, tetapi gagal direalisasikan karena mendapat penolakan dari warna sekitar.

Bahkan, masyarakat sekitar sempat mengejar petugas Dinas Pariwisata Kabupaten TTS yang hendak melakukan pengukuran untuk pembangunan fasilitas penunjang di kawasan pantai Kolbano.

"Pak, petugas kami turun di pantai kolbano mau ukur untuk pembangunan fasilitas penunjang dikerjar oleh masyarakat setempat dengan parang. Masyarakat bahka klaim kalau kawasan pantai kolbano merupakan tanah mereka. Padahal sesuatu aturan, 100 meter dari bibir pantai merupakan jalur hijau yang dikuasai negara. Namun masyarakat mati-mati kalau itu tanah mereka bahka sampai kejar pegawai kami dengan parang," tuturnya.

Penambangan batu warna di Pantai Kolbano kian mereshkan. Aktivitas tambah yang tidak terkendali menyebabkan proses abrasi pantai semakin cepat. Jika terus dibiarkan keindahan pantai kolbano dengan batu warnanya akan menjadi kenangan. Selain itu, akses jalan lintas selatan pun terancam putus jika abrasi pantai terus terjadi. (*)

Penulis: Dion Kota
Editor: Kanis Jehola
Sumber: Pos Kupang
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved