Berita Kampung Gurusina

Ritual Adat Se Ze'e Kampung Adat Gurusina Pasca Kebakaran, Simak Yuk!

Pria yang mengenakan baju berwarna coklat memakai Boku (penutup kepala) dan kain adat (siwe) tampak siap diseputar mesbah (Nabe).

Ritual Adat Se Ze'e Kampung Adat Gurusina Pasca Kebakaran, Simak Yuk!
POS KUPANG/GORDI DONOFAN
Suasana ritual adat Se Ze'e atau Se Mae Da Ze'e (Pembersihan Kampung) di Kampung Gurusina Desa Watu Manu, Jerebu'u Kabupaten Ngada, Jumat (24/8/2018).

Mereka saat itu mengenakan Boku (Penutup kepala laki-laki, Kain Siwe, kalau laki-ada sawe rawe sedangkan perempuan tidak ada. 

Sementara Ketua Lembaga Pengelola Kampung Pariwisata Gurusina, Aloysius Dopo (68), mengaku, acara penyampaian permohonan maaf kepada leluhur sudah dilakukan Kamis malam. 

"Darah kerbau ini disiram  diseluruh kampung ini. Membersihkan. Tadi pagi sudah dibuang sial lewat air, sekarang bersih dengan darah  dikampung. Sehingga aman dan sejuk kembali dan tidak ada lagi sial," papar Aloysius.

Ia mengaku ritual Se Ze'e juga harus ada ayam berbulu putih, karena itu melambangkan ketulusan dari dalam hati memberikan persembahan kepada leluhur.

"Kenapa harus ayam putih, itu melambangkan pemberian dengan hati tulus iklhas. Tidak setengah. Artinya kita murni dan tulus menggelar acara ritual adat ini.
Ini juga doa untuk para leluluhur dan ajak mereka kembali ketempat ini menjaga kampung adat Gurusina. Sampai ada api itu kita sudah minta maaf dan kita sampaikan kepada para leluhur. Bahwa kita salah," ujar Aloysius.

Ia juga mengaku peran anak muda sangat penting dalam ritual adat seperti ini. Agar bisa mengenal dan mengetahui tentang budaya istiadat.

"Setiap ada hajatan anak muda dekat dengan orangtua. Agar sisampaikan oleh orangtua, anak anak bisa tahu dan mengenal adat budaya. Ini juga bagian dari warisan para leluhur Gurusina," ujar Aloysius.

Ia mengungkapkan, sebelum acara Se Ze"e sudah dilakukan acara Zose Api (mengetahui sumber pertama api dari mana). Sehingga acara Se Ze'e tidak sulit untuk mengikuti alur adat yang sudah dilakukan.

"Zose Api satu hari hari setelah kebakaran. Untuk mengetahui dari mana sumber api pertama itu berasal. Dan kami sudah tau bahwa api itu awalnya dari rumah (sao) bagian pertama (Tiwu Pau). 
Sebelum soze api, warga yg terkena musibah tidak boleh keluar dari kampung Gurusina dan harus menetap disini. Sesudah  Soze api boleh. Tapi tidak boleh hura-hura dan dalam keadaan hening. Karena kita lagi sementara duka. Dan setelah acara Se Ze'e itu kita sudah bisa "bebas" keluar dan  siapkan bahan untuk bangun kembali rumah. Untuk kembali bangun rumah nanti ditempat yang sama tidak sembarang bangun. Makanya harus ditanya dulu kepada leluhur lewat acara Mau Tua. Itu tidak sekedar tapi harus betul-betul dari hati," ungkap Aloysius.

Tokoh Adat Gurusina, Kletus Wou (76) mengaku, ritual Se Ze'e wajib dilakukan. Sehingga warga sudah bisa menata kembali rumah atau membuat rumah baru. Karena secara adat sudah dibersihkan dari segala musibah. Dan diyakini akan nyaman dan damai seperti sebelum terbakar.

Ia mengaku saat acara Se Ze'e bagi siapa saja yang datang dan masuk ke Kampung Gurusina wajib ikut hingga usai acara. Karena diyakini kalau tidak maka akan berakibat fatal. Bisa saja sial atau mendapat musibah.

"Kalau acara kita harus ikut hingga usai. Kalau sudah masuk kedalam kampung berarti ikut. Kalau tidak nanti ada kena musibah," ujar Kletus.

Ia mengaku musibah kebakaran 
baru pertama kali ia saksikan. Ini pengalaman hidup yang memang tidak bisa dilupakan.

Ia mengatakan generasi dari generasi dan kami teruskan kepada anak cucu soal adat dan ritual ini. 

"Itu bahaya kalau tidak meneruskan  Anak-anak harus diwariskan dan budaya dan paham akan ritual. Ini peninggalan leluhur yang mesti dijaga dan dilestarikan.
Ketika anggap sepele itu dengan adat maka kembali kediri sendiri (Kena Tebo Weki) artinya akibatnya ditanggung sendiri," ujar Kletus.

Ia mengaku kampung Gurusina harus kembali dibangun seperti yang dulu. Tata dan bangunannya harus seperti dahulu. Sehingga warisan dan budaya tetap terjaga.

"Kampung ini harus kembali dibangun. Kita minta restu leleluhur agar tetap melindungi kampung adat ini. Setiap Ngadu dan Bhaga dan 33 rumah harus berdiri kembali. Proses pendinginan selama satu tahun. Tapi untuk rumah darurat bisa mulai dari esok. Tapi untuk rumah adat permanen jangan dulu bangun. Kumpul bahan dan bisa jangka satu tahun. Pengumpulan bahan. Pendinginan sampai mengumpulkan bahan. Mungkin dalam satu tahun dua rumah adat dulu. Karena semua sifat gotong royong.  Waktu mau bangun itu musyawarah dulu. Motifnya harus ambil yang asli. Supaya ada ciri khas tersendiri," papar Kletus.

Acara Se Ze'e berlangsung aman dan lancar. Para warga tampak bergotong-royong saat itu. Mereka terlihat semangat. Acara diakhiri dengan makan adat bersama. Tapi sebelum makan adat, terlebih dahulu diberikan makan kepada leluhur. Setelah itu makanan baru dibagikan kepada warga serta tamu  undangan lainnya.

Pemda Ngada Serius Bangun Kembali Kampung Gurusina

 Pemerintah Kabupaten Ngada sangat intens dan serius membangun kembali perkampungan Gurusina pasca terbakar beberapa waktu lalu.

Pemda tidak tinggal dan terus mendroping bantuan serta tetap berkoordinasi dengan berbagai pihak untuk segera membangun kembali kampung tersebut.

"Bencana Gursuina adalah bencana Kabupaten Ngada. Karena Gurusina itu merupakan bagian dari  Pemda Ngada. Kami dari sejak kejadian, sudah komunikasi dan koordinasi. Karena memang kami Tidak nyaman karena kebakaran melanda kampung Gurusina," ungkap Sekretaris Daerah Ngada, Hironimus Reba Watu, saat acara Se Ze'e di Kampung Gurusina Jerebu'u Kabupaten Ngada, Jumat (24/8/2018).

Acara Se Ze'e atau Se Mae Da Ze'e (Pembersihan Kampung) pasca kebakaran.

Ia mengatakan, Pemda Ngada komit mengatakan bahwa Bencana Gurusina merupakan Bencana bersama yang menjadi tanggungjawab Pemda dan masyarakat.

Ia menilai sikap gotong-royong saat ini terus dipupuk dan saling membantu itu yang sangat diperlukan. Sehingga meringankan beban bagi korban musibah kebakaran.

"Saya mengajak seluruh warga untuk menjadikan peristiwa ini sebagai momen refleksi bagi kita.Karen Tuhan tidak pernah memberikan beban yang tidak sesuai dengan kemampuan kita," ujar Hironimus.

Ia meminta kepada panitia pembangunan kampung Gurusina agar menerima semua bentuk bantuan dari siapa saja dan harus transparan. Harus semua orang tau dan melalui satu pintu.

"Tentu akan banyak simpatisan dari luar, panitia harus satu pintu transparan dan bagi rata seluruh warga," ujar Hironimus.

Ia mengaku Pemda sudah melaksanakan tanggap darurat dan akan ada lagi tahapan rehabilitasi untuk pembuatan rumah darurat satu tipe untuk semua korban. Sambil menunggu pembuatan rumah-rumah adat yang baru. Karena masih menunggu penyiapan bahan yang memang butuh waktu satu tahun masa pendinginan di Kampung adat.

"Pemda sudah diskusi soal bantuan. Ada tahapan pnting yaitu  tanggap darurta, selama satu munggu dijadikan tanggap darurat. Karena masih belum normal kondisi disini maka dilanjutkan. Dan hari ini selesai," ujar Hironimus.

Ia mengaku selesai penanganan darurat ada tahapan rehabilitasi berupa pembuatan rumah darurat bagi warga. Sehingga warga bisa kembali tinggal dirumah masing-masing sambil menyiapkan bahan untuk pembangunan rumah adat permanen yang dibiayai oleh kementerian terkait.

"Kalau butuh tenaga yang banyak Pemda siap dan kami membantu Tapi kita rancang satu kali. Tidak usah kwuatir dengan makanan Pemda siap adakan renaga. Baik PNS, TNI dan Polri, Tagana dan semua pihak yang membantu membangun Gurusina dan tanpa pamri membantu membuat rumah darurat. Itu tahap rehabilitasi, ujarnya.

Ia mengaku jangan menunggu waktu begitu lama untuk mendirikan rumah darurat. Karena Saat ini pemerintah pusat sangat memperhatikan Kampung Adat Gurusina.

"Sehingga kita jamgan sia-siakan kesempatan ini. Jangan sampai dengan tahun 2021. Karena bantuan sosial prinsipnya tidak mengikat, tidak terus menerus. Sehi ngga manfaatkan waktu dengan baik.

"Tolong diskusikan dengan baik sehingga kita laksanakan pula dengan baik. Kita kerja secara partisipasi. Tadi Bapa Bupati Ingatkan. Kerja sama-sama. Baku ator baik-baik. Supaya membangun kembali Gurusina.
Pemda sangat tanggap dengan situasi saat ini. Kami tidak tinggal diam. Kami tidak tinggal diam.
Kalau ada yang tidak baik itu menjadi bahan evaluasi kami kedepan," ujar Hironimus.

Sementara Ketua Panitia Pembangunan Kampung Ada Gurusina, Florianus Rero, mengatakan, pihaknya saat ini akan segera bermusyahwara untuk membuat rumah darurat.

"Kehadiran bapak ibu semua berarti kami punya saudara-saudari. Kami memiliki kalian dan Kami tidak sendirian. Terima kasih banyak atas semua partisipasi moril. Material dan moral yang berikan kepada kami.
Kami menyampaikan terima kasih, kepada semua pihak yang dengan caranya masing-masing meringankan beban kami.Kami permohonan maaf bila kami ada salah," ujar Florianus.

Pantauan POS KUPANG.COM, acara Se Ze'e berlangsung aman dan lancar. Ritual Se Ze'e adalah ritual pembersihan kampung dari musibah atau bencana.

Acara ini berawal dari pembuangan puing-puing kebakaran ke kali atau sungai yang sudah ditentukan, lewat air yang mengalir, semua bencana ataupun musibah dibawa oleh air yang mengalir.

Ritual juga ditandai dengan penyembelihan seekor kerbau jantan, dua ekor babi dan satu ekor ayam berbulu putih.

Darah kerbau akan disiram diseluruh Sao (rumah) yang sudah terbakar sebagai bentuk pembersihan dan memanggil kembali nenek moyang atau leluhur  untuk tinggal kembali dikampung Gurusina.

Ritual Se Ze'e dipimpin oleh Ketua Adat  Kampung Gurusina, Aloysius Dopo dan Kletus Wou tokoh masyarakat.

Acara diikuti kurang lebih 200 orang dan hadir diantaranya, Plt. Sekda Kabupaten Ngada, Drs. Heronimus R. Watu, Kadis Sosial Pemda Kab. Ngada Drs. Vianey Siwey, Dandim 1625/Ngada diwakili Pasipers, Letda Arm Iwan Arsyadiharjo, Camat Aimere, Ignatius Dopo, Camat Jerebuu,Titus Tuli, S.H, Danramil 1625-02/Aimere, Lettu Inf Ahmad, Kapolsek Aimere, AKP Usman Hasan, Plt. Kades Watumanu, Modesta Kurnia, Babinsa Desa Watumanu, Kopda Evaris Mosa, Kapospol Jerebuu, Aipda Asrin, Pastor Paroki Santo Paulus Jerebuu, Romo Peter Nday, Perwakilan siswa/i SD, SMP dan SMA se-Kec. Jerebuu.(*)

 

Penulis: Gordi Donofan
Editor: Rosalina Woso
Sumber: Pos Kupang
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help