Berita Tamu Kita

Pater Dr. Paulus Budi Kleden, SVD : Superior General SVD Pertama Asal Indonesia

Pater Dr.Paulus Budi Kleden,SVD,terpilih sebagai Superior General (Pemimpin tertinggi SVD sedunia)dengan masa jabatan enam tahun.

Pater Dr. Paulus Budi Kleden, SVD :  Superior General SVD Pertama Asal Indonesia
Apolonia Matilde Dhiu
Pater Dr. Paulus Budi Kleden, SVD 

Laporan Reporter POS-KUPANG.COM, Apolonia Matilde Dhiu

POS-KUPANG.COM|KUPANG - SeRIKAT Sabda Allah (bahasa Latin: Societas Verbi Divini, disingkat SVD) atau populer dengan sebutan The Society of the Divine Word atau Divine Word Missionaries adalah salah satu ordo dari Gereja Katolik Roma yang didirikan pada tahun 1875 di Steyl, Belanda oleh Santo Arnoldus Janssen.

Sejak tahu 1913, SVD bekerja di Indonesia. Selain membangun gereja lokal, SVD juga berperan mendirikan lembaga-lembaga pendidikan dan pemberdayaan ekonomi masyarakat. Saat ini, Kongregasi Serikat Sabda Allah aktif di lebih dari 80 negara, dengan sebagian besar misionarisnya adalah orang Indonesia.

Dalam Kapitel General (Pertemuan Umum para wakil SVD sejagat) ke-18 bulan Juni-Juli 2018 di Roma Italia, putra Indonesia asal Waibalun, Flores Timur, NTT, Pater Dr. Paulus Budi Kleden, SVD, terpilih sebagai Superior General (Pemimpin tertinggi SVD sedunia) dengan masa jabatan enam tahun.

Baca: Jenazah Wisawatan Asal Surabaya Sudah Dihantar ke Labuan Bajo

Berikut petikan wawancara wartawati Pos Kupang, Apolonia Matilde Dhiu, dengan Pater Dr. Paulus Budi Kleden, SVD, di Biara Soverdi, Oebufu-Kota Kupang di sela-sela kesibukan visitasi biara dan anggota SVD Timor, Kamis (23/8/2018).

Pater Budi, pertama-pertama Pos Kupang ucapkan selamat karena terpilih sebagai pemimpin tertinggi SVD sejagat (superior general). Bisakah Anda menceritakan sekilas proses pemilihan hingga Pater terpilih?
Sebelum menduduki posisi sebagai Superior General, saya adalah anggota dewan general SVD. Untuk posisi ini, saya adalah anggota keempat asal Indonesia. Yang pertama adalah Mgr. Anton Pain Ratu, SVD, yang kedua almarhum Pater Yohanes Perason, SVD, yang ketiga Pater Leo Kleden, SVD, lalu yang keempat saya. Itu sebagai anggota dewan, tetapi sebagai pemimpin umum atau Superior General saya orang Asia kedua, dan orang Indonesia pertama. Ini suatu proses pemilihan oleh para utusan SVD yang memiliki hak suara waktu itu, sebanyak 118 orang mewakili 6.000-an orang SVD yang bekerja di 84 negara. Suatu proses yang ditandai oleh doa, refleksi, yaitu refleksi iman bersama, suatu proses yang sangat spiritual. Lalu ketika nama saya muncul sangat kuat, saya cemas karena saya juga tahu teristimewa enam tahun terakhir menjadi anggota dewan membantu superior general kami pendahulu. Saya tahu apa artinya tugas seperti ini, tapi kemudian saya juga sadar bahwa saya tidak sendiri, saya didukung oleh banyak orang, dengan doa dengan kerelaan untuk membantu saya, maka saya katakan ya. Saya menerima tugas seperti ini, karena ini juga bagian dari tanggung jawab yang saya terima sebagai anggota dari suatu kongregasi.
Jadi anggota dari suatu kongregasi artinya melaksanakan tugas yang diberikan oleh kongregasi dan sekarang kongregasi ini minta kesediaan dari saya untuk menjadi pemimpin selama enam tahun. Karena itu, sebagai konsekuensi dari keanggotaan saya dalam kongregasi dan saya mengatakan, ya, saya menerima.

Baca: Ini Penjelasan Kadis Pariwisata Ngada Soal Tewasnya Wisatawan Asal Surabaya

Bisakah Anda menjelaskan kriteria dan tugas utama untuk menjadi Superior General?
Kriteria khusus menjadi superior hanya bahwa orang tersebut sekurang-kurangnya 10 tahun dalam kaul kekal, itu saja. Ada tiga tugas utama pemimpin SVD. Pertama menganimasi, kedua mengkoordinasi, dan ketiga tugas administratif.
Animasi artinya berusaha untuk meyakinkan, menyadarkan, mendorong para anggota SVD sedunia untuk memberikan diri mereka, untuk melaksanakan apa yang menjadi orientasi dasar dari serikat, apa yang menjadi keputusan serikat, animasi untuk hidup dan bekerja sebagai anggota SVD.
Koordinasi, artinya kami terstruktur dalam 60 provinsi region dan misi, mengkoordinasi kegiatan-kegiatan kami supaya walaupun ada diferensiasi atau perbedaan tetapi arahnya sama. Koordinasi ini juga dalam arti bantuan nasional, bantuan keuangan dan tenaga. Artinya, kami mengambil dari negara-negara yang punya banyak panggilan untuk distribusikan sesuai dengan kebutuhan di berbagai negara, juga finansial kami bantu provinsi-provinsi yang masih memerlukan dukungan dengan meminta dukungan dari mereka yang masih punya kelebihan.
Sedangkan, tugas administrasi, terkait dengan keputusan-keputusan yang harus diambil dan dipertimbangkan. Apa yang menjadi arahan dan prinsip bersama menjadi realitas, konkret, memenuhi standar dari aturan serikat dan kami mengambil keputusan-keputusan itu serta menyampaikannya pada pihak-pihak terkait.

Bisakah Anda menjelaskan kondisi SVD saat ini?
Sebagai anggota SVD saat ini khususnya dalam enam tahun terakhir, saya merasa bangga. Bangga sebagai orang SVD bukan saja karena kami berjumlah cukup besar (6.000-an anggota), tetapi juga karena ada berbagai hal positif dan berbagai inisiatif yang berguna yang diambil oleh para anggota SVD di berbagai tempat di dunia.
Itu hal yang luar biasa. Di mana-mana ada banyak SVD yang bekerja dengan berdedikasi, memberikan hidupnya, mengembangkan bakat-bakatnya untuk membantu masyarakat. Ada banyak inisiatif yang sangat bermanfaat memperbaiki kondisi dan kebutuhan masyarakat menemukan cara-cara baru untuk evangelisasi. Artinya mewartakan kabar sukacita injil, sukacita keselamatan dalam kata dan perbuatan. Karena itu saya sungguh bangga dan juga optimis dengan SVD, karena saya sadar, walaupun ada banyak yang sudah dibuat tapi juga ada banyak potensi yang bisa dikembangkan. Banyak orang SVD itu punya bakat yang luar biasa, punya pendidikan yang luar biasa. Dan ini masih bisa dikembangkan, masih bisa dimanfaatkan, lebih juga karena ada kehendak untuk berubah, mengubah diri juga untuk mengubah gaya hidup untuk pelayanan.
Namun, untuk mengubah kondisi masyarakat perlu ada kolaborasi yang sangat baik dengan banyak pihak terutama dengan gereja-gereja lokal dengan kongregasi-kongregasi yang lain, juga dengan awam. Karena itu, sikap dasar saya, saya bangga dan optimis. Memang ada sejumlah tantangan yang harus kami hadapi. Ada sejumlah kesulitan yang harus kami selesaikan, tapi sikap dasar saya adalah optimis dan kebanggaan.
Dengan sikap seperti ini tantangan akan lebih mudah dijawab dan supaya tantangan dan kesulitan dilihat secara profesional karena bahaya yang bisa muncul adalah kita hanya berkonsentrasi pada sejumlah persoalan, lalu lupa ada banyak hal yang positif.
Hal-hal yang kurang, tidak dilihat sebagai kesalahan tetapi dengan banyak hal yang positif saya optimis kami dapat melengkapi hal-hal yang kurang.

Baca: FOPPMAPOR Kupang Tanamkan Cinta Seni dan Budaya

Bagaimana Anda memandang sarana komunikasi modern dan efektivitasnya dalam pewartaan misi SVD?
Salah satu pertemuan penting kami di Roma yang juga memilih saya menjadi pemimpin umum adalah tentang media komunikasi modern, soal medianya, juga soal generasi. Generasi kita saat ini sangat dibentuk oleh media komunikasi. Pertama-tama saya yakin suatu media yang dapat dimanfaatkan secara baik untuk mengembangkan misi kami, misi gereja, misi SVD. Pendiri SVD, St. Arnoldus Yansen sudah melihat media cetak yang mulai muncul pada waktu itu, sebagai sarana yang sangat penting untuk pewartaan injil.
Sekarang yang kita miliki adalah media komunikasi, media sosial sebab pertama- tama kami harus melihat ini sebagai peluang untuk mewartakan atau menyampaikan hal-hal yang positif, nilai-nilai yang dianggap penting untuk masyarakat dan untuk gereja.
Terkandung di sana juga sejumlah bahaya, untuk itu kami perlu menyadarkan diri akan pentingnya penggunaan media massa secara cerdas. Media sosial, sifatnya sosial, karena itu perlu ada kecerdasan untuk membedakan apa yang perlu, apa yang pantas dibagikan secara sosial dan apa yang tidak perlu atau tidak pantas. Saya yakin kecerdasan seperti ini perlu ditanamkan. Kami harapkan, SVD bisa meyakinkan orang akan pentingnya kecerdasan seperti ini. Memang kita tidak bisa melarang orang, tetapi bisa membuat pertimbangan yang matang, apa yang bisa kita tempatkan di sana karena sekali menjadi konsumsi publik, akan terus menjadi konsumsi publik.

Baca: Ritual Adat Se Zee Kampung Adat Gurusina Pasca Kebakaran, Simak Yuk!

Sebagai perintis gereja lokal, bagaimana Anda dan SVD memandang posisi dan peran gereja lokal saat ini?
SVD mempunyai sejarah panjang di Nusa Tenggara sebagai salah satu perintis gereja lokal. Karena hal itu menjadi misi SVD dan kharisma SVD untuk membantu memperkuat gereja lokal baik gereja lokal yang sudah ada tetapi belum mandiri, maupun yang belum mulai.
Saat ini, umumnya gereja lokal sudah sangat maju. Gereja lokal merupakan gereja umat yang didukung oleh umat dan umat dengan penuh kesadaran melihat sebagai gereja yang ditunjukkan dengan beberapa hal. Pertama, ketenagaan. Gereja lokal merelakan orang-orangnya menjadi imam, biarawan-biarawati yang secara penuh melayani gereja. Dalam hal keuangan atau finansial.
Semakin banyak orang yang memberi untuk membiayai hidup dan pelayanan gereja. Struktur gereja lokal juga sangat baik. Saya melihat dewasa ini, gereja lokal amat berkembang, imam-imam projo sudah sangat banyak. Saya rasa dan melihat semua ini adalah hal positif dan merupakan hasil karya SVD.
Karena itu, saya bangga melihat perkembangan ini dan saya harapkan gereja lokal menjadi tempat komunitas-komunitas religius tetap ada, karena gereja menjadi kaya oleh keberagaman. Gereja itu katolik, universal, lintas bangsa, lintas budaya dan tidak hanya milik sekelompok orang, tetapi diperkaya juga oleh kehadiran bermacam-macam tarekat religius dengan kharismanya masing-masing.
Bagaimana Anda melihat spiritualitas misi SVD saat ini tetap relevan menjawabi tantangan zaman?
Iya, dalam kapitel kami terakhir kemarin di bulan Juni-Juli 2018, kami berkonsentrasi pada pemperbarui spiritual misioner dan hal itu akan kami utamakan. Artinya, kami merasa semakin perlu untuk semakin berakar dalam spiritual misioner dalam serikat kami. Manakala tidak, kami gampang mengikuti arus, gampang kehilangan orientasi, tenggelam dalam karya.
Kalau tenggelam dalam karya maka kesuksesan dalam karya itu menjadi ukuran. Ketika tidak sukses orang merasa krisis dalam panggilannya. Karena itu pengalaman spiritual misioner menjadi hal yang terutama yang kami lihat sebagai tantangan serta menjadi peluang.
Kalau kami mendalami spiritualitas misioner lebih sungguh, tanggapan dan inisiatif-inisiatif misioner kami akan lebih bisa menjawabi perubahan. Karena itu, pendalaman spiritualitas misioner kami tidak hanya langkah untuk memuaskan diri kami sendiri, tetapi suatu langkah untuk menguatkan kami ke dalam agar lebih kuat, lebih memiliki kreativitas, lebih memiliki daya tahan untuk bekerja bagi umat dan melayani masyarakat. Itu pertama. Tantangan kedua adalah soal pembinaan para calon. Situasi para calon sangat bervariasi.
Di Eropa, tidak ada lagi calon. Tantangan besar kami sebagai serikat internasional, kalau jumlah SVD di Eropa terus menurun dan tidak ada lagi, akan menjadi pemiskinan bagi kami. Karena kami bersifat internasional. Kalau kita kehilangan satu benua maka kita akan mengalami kemiskinan. Lalu di Amerika Serikat, Amerika Selatan, juga sedikit memprihatinkan. Amerika Utara situasinya cukup baik dalam hal panggilan. Panggilan di benua Afrika terus meningkat. Dan panggilan paling banyak dari Asia terutama Indonesia. Tantangan kita berkaitan dengan vokasi adalah bagaimana mempersiapkan adik-adik yang berminat menjadi anggota SVD supaya mereka betul disiapkan dengan baik menjadi misionaris. Indonesia, menjadi tempat yang baik untuk persemaian panggilan dengan kualitas kepribadian yang baik, pengetahuan yang cukup, spiritualitas yang mendalam, dan sejumlah keahlian mendasar untuk bisa tanggap terhadap situasi yang berbeda-beda di berbagai wilayah.

Baca: Melihat Pesona Pape Kebun Sayur yang Memikat Hati

Seminari Tinggi Ledalero menjadi penyumbang terbesar misionaris SVD sejagat. Ada banyak tanggapan baik positif maupun negatif berkaitan dengan output Seminari Tinggi Ledalero. Salah satu di antaranya adalah kecenderungan terjadi penurunan kualitas. Langkah apa yang dilakukan untuk menyeimbangkan jumlah dan mutu imam-misonaris SVD?
Hal yang selalu saya tekankan saat berkunjung ke rumah-rumah formasi seperti Ledalero, Novisiat Kuwu, Nenuk, Biara Bruder St. Konradus Ende adalah soal kreativitas. Kami harus menjadi misionaris yang kreatif. Kreatif artinya memiliki keberanian untuk berpikir kritis, berpikir mandiri, melihat apa yang mungkin, mendiskusikan secara mendalam, lalu mengambil langkah.
Menjadi orang yang kreatif tidak hanya menjadi orang yang mengulang, tetapi kreatif dalam pemikiran, kreatif dalam sikap, memiliki inisiatif baru. Saya pikir hal ini secara sadar perlu ditingkatkan karena sebagaimana dikatakan tadi, tantangan saat ini lebih besar. Tantangan yang membuat kita hanya mengulang, merepetisi apa yang dibuat oleh orang lain, yang ditawarkan kepada kita melalui orang lain lewat media sosial dan sebagainya bisa melemahkan kita.
Saya ingat saat berkunjung ke India, dalam satu kesempatan berkunjung ke sebuah seminari, salah satu pembina berkomentar sangat baik tentang para seminaris yang dalam karya-karya seni mereka tidak hanya mengambil apa yang ada dalam media sosial, tetapi juga mengadaptasi secara kreatif dalam pentasan-pentasan mereka. Karena itu, kami selalu tekankan kreativitas dalam formasi-formasi kami. Dan saya yakin orang-orang muda itu punya kreativitas. Hanya perlu diberi ruang, perlu didorong, perlu diyakinkan akan pentingnnya kreativitas. (*)

Baca: Bank BTN Buka Kesempatan Kerja untuk Lulusan S1, Ini Jadwal dan Persyaratannya

Kurangi Menulis

SETELAH ditunjuk menjadi Superior General SVD sedunia, Pater Dr. Paulus Budi Kleden, SVD, meminta maaf karena sejak enam tahun terakhir dan enam tahun ke depan dirinya tidak bisa lagi menulis secara intens seperti dulu. Baik di media massa maupun menulis buku dan sebagainya.

Kepada Pos Kupang di Biara Soverdi Oebufu Kupang, Kamis (23/8/2018), Pater Paul, menyampaikan permohonan maafnya yang pertama kepada Harian Pagi Pos Kupang.

"Saya minta maaf kepada Pos Kupang karena sudah enam tahun tidak menulis, tidak seperti dulu, karena memang apa yang saya kerjakan dalam enam tahun terakhir dan saya lanjutkan dalam enam tahun ke depan membutuhkan cukup banyak waktu. Saya merasa tidak bisa menulis seperti dulu lagi khususnya untuk Pos Kupang karena kebanyakan waktu saya berada di luar negeri dan tidak bisa mengikuti apa yang didiskusikan di NTT secara lebih intens. Saya harus akui sudah lama saya tidak menulis dan tidak menjanjikan untuk menulis," ujar putra kelima pasangan Petrus Sina Kleden (alm) dan Dorothea Sea Halan ini.

Pater Paul yang mengawali karya pastoral di Swiss tahun 1993-1996 ini, mengatakan, bahkan untuk menulis buku sendiri tidak sempat lagi, tetapi untuk sekedar menulis pengantar buku-buku atau artikel ilmiah, ya masih sempat.
"Yang semi popular yang saya yakin penting dan biasa saya buat di Ledalero, untuk sementara saya tinggalkan," ujarnya.

Pulang ke Indonesia, katanya, selain untuk berlibur, dia juga menggunakan waktu untuk mengunjungi komunitas-komunitas dan anggota SVD, berbicara dengan awam, mendengar masukan-masukan dari mereka maupun biarawan-biarawati yang lain, apa yang mereka lihat dan pikirkan untuk kehidupan SVD ke depan.

Selain itu, Pater Paul meminta dukungan doa dan kerja sama dari para anggota SVD dan banyak orang lainnya untuk bisa menjalankan tugas dengan baik. (nia)

Biodata
Nama : Dr. Paulus Budi Kleden
Lahir : Waibalun-Larantuka, 16 November 1965.
Ayah : Petrus Sina Kleden (alm)
Ibu : Dorothea Sea Halan

Pendidikan :
SDK Waibalun 1 Tahun 1972-1977.
SMPK Pancratio Putera Tahun 1978-1981.
SMA Seminari Hokeng Tahun 1981-1985.
Masuk Novisiat SVD di Ledalero Tahun 1985.
Studi Filsafat di Ledalero Tahun 1986-1988.
Tahun 1988 ke Austria belajar di Theologische Hochschule Sankt Gabriel, Moedling.
Kaul kekal tahun 1992. Tahbisan imam tahun 1993.

Riwayat kerja:
Karya pastoral di Swis tahun 1993-1996. Tahun 1996- 2000 studi doctoral bidang teologi dogmatik pada Albert-Ludwigs-Universitaet Freiburg-Jerman.
Tahun 2001-2012 menjadi pendidik di Seminari Tinggi SVD di Ledalero dan dosen STFK Ledalero.
Tahun 2012-2018 menjadi anggota dewan jenderal SVD di Roma.
Tanggal 4 Juli 2018 terpilih sebagai superior jenderal ke-12 SVD.

Penulis: Apolonia M Dhiu
Editor: Apolonia Matilde
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help