Berita Kabupaten Flores Timur

Profesor Intiyas Pesan Agar Wisata Kampung Adat Lewokluok Dilengkapi Storyboard

Kabupaten Flotim NTT baru memiliki satu desa wisata yakni Desa Lewokluk Kecamatan Demon Pagong. Desa Wisata Lewokluok unik karena ritual

Profesor Intiyas Pesan Agar Wisata Kampung Adat Lewokluok Dilengkapi Storyboard
pos kupang.com, feliks janggu
Profesor Dr.Intiyas Utami 

Laporan Reporter POS-KUPANG.COM, Feliks Janggu

POS-KUPANG.COM|LARANTUKA- Kabupaten Flores Timur-NTT baru memiliki satu desa wisata yakni Desa Lewokluk Kecamatan Demon Pagong. Desa Wisata Lewokluok unik karena ritual pembangunan rumah adatnya setiap tahun.

Akan tetapi desa ini juga memiliki keunikan kain tenun ikat yang dilengkapi aksesoris khusus. Aksesoris yang dijahitkan pada kain tenun ikat.

Untuk mempersiapkan masyarakat setempat, Dinas Pariwisata Flotim menghadirkan Profesor Dr.Intiyas Utami dari Universitas Kristen Artha Wacana Salatiga Jumat (24/8/2018).

Profesor Intiyas yang berpengalaman berwirausaha membagikan pengalamannya menjalankan CV Smart Indana Parama Salatiga-Jawa Tengah.

Profesor Intiyas kepada Pos-Kupang.com usai kegiatan mengharapkan segera dibangun kelompok sadar wisata di Lewokluok agar terbuka dan sadar pentingnya berwirausaha.

Kata Profesor Intiyas dukungan pemerintah dan semangat masyarakat sudah bagus. Tinggal dibantu mengawal semangat yang serta mendorong BUMDes membuatkan paket wisata yang dimulai dari potensi yang ada.

BUMDes di desa dihantui kekhawatiran akan kebangkuratan dan sebenarnya karena belum mencoba.

Ia meminta BUMDes cukup fokus pada Jambu Mente dan jadikan Mente daya tarik wisata di desa.

BUMDes juga bisa bekerja sama dengan BUMDes desa lain. Tapi dengan tetap menggunakan prinsip one village one product seperti di Jepang.

Jambu Mente yang ada sudah harus dikemas dalam bentuk makanan siap saji dengan kemasan aneka rasa. Menonjolkan aroma yang lebih kreatif.

Yang perlu dilakukan, kata Profesor Intiyas setiap desa saling mengisi kekurangan, bukan hanya menonjolkan kelebihan product di masing-masing desa.

"Masalah yang hampir sama di setiap desa itu ego sektoral. Masih mau menunjukkan keunggulan dan tidak mau kerja sama," kata Profesor Intiyas. (*)

Penulis: Felix Janggu
Editor: Ferry Ndoen
Sumber: Pos Kupang
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved