Berita Travel

Kenapa Sate Menggunakan Arang Lebih Nikmat? Simak Penjelasannya

Kenapa banyak tukang sate yang mempertahankan menggunakan arang, meski telah berjualan di era modern seperti sekarang?

Kenapa Sate Menggunakan Arang Lebih Nikmat? Simak Penjelasannya
KOMPAS.com/Muhammad Irzal Adiakurnia
Sate Maranggi Sari Asih yang beroprasi 24 jam, masih menggunakan cara tradisional untuk memasaknya. Tepatnya berada di Jalan Raya Pacet, Cipendawa, Kabupaten Cianjur. 

POS-KUPANG.COM | JAKARTA - Kenapa banyak tukang sate yang mempertahankan menggunakan arang, meski telah berjualan di era modern seperti sekarang?

Selain tukang sate, mungkin Anda pun pernah memilih masak sate menggunakan arang, dibanding dengan kompor.

Eman, yang kini memegang warisan Sate Maranggi Sari Asih, Puncak, Cianjur, mengatakan dahulu mendapat amanah turun-temurun dari pelopornya untuk terus menggunakan arang dalam membuat sate.

Baca: Sanur Village Festival 2018 Tampilkan Seni Tradisional dan Modern

Ia sendiri mengaku menggunakan arang merupakan pilihan terbaik, kendati kini mulai sulit mencari bahan arang yang bagus, seperti kayu sengon, dan kayu mahoni.

"Selain mandat ya memang untuk sate lebih bagus pake arang, wanginya keluar," tutur Eman saat dikunjungi KompasTravel di kedainya di Cianjur, Minggu (12/8/2018).

Ia mengatakan, memasak dengan arang punya keunggulan api kecil yang konstan. Jika zaman sekarang menurutnya hampir sama dengan teknik slow cooking dalam memasak daging agar empuk.

Hal tersebutlah yang membuat arang bisa mengeluarkan aroma si masakan. Selain itu juga menurutnya, sate bisa lebih matang dengan merata, dalam suhu yang pas, tidak terlalu besar apinya, tidak terlalu kecil juga.

"Kalau masalah awet itu tergantung kayunya, kalau pake kayu-kayu yang keras bakal awet, apinya bagus kena kecap nggak mati," tuturnya.

Menurutnya jika sudah biasa menggunakan arang, ketika beralih ke kompor atau alat modern lainnya, hasilnya tidak sesedap menggunakan arang.

"Nggak bisa, kalau api kompor kecil nggak mateng-mateng rasanya, tapi kalau api gede dikit malah gosong, keras nanti daging," ungkap Eman.

Ia menambahkan, akan terus menggunakan arang, meski mulai sulit mencari arang dari kayu terbaik. (*)

Editor: Kanis Jehola
Sumber: Kompas.com
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved