Opini Pos Kupang

Merindukan Policy Maker Pendidikan yang Kuat

Lalu, apa artinya ini? Pernyataan tersebut dapat dipahami sebagai bentuk penghalusan (peredaman emosi) untuk mengantisipasi

Merindukan Policy Maker Pendidikan yang Kuat
Net
Ilustrasi 

Oleh Willem B Berybe
Mantan guru, tinggal di BTN Kolhua Kupang

POS-KUPANG.COM - Sejak dua tahun terakhir, Kemendiknas tidak lagi mengumumkan hasil UN dalam kategori peringkat nasional untuk seluruh provinsi.

"Walaupun tidak dibuat peringkat secara nasional, pemerintah pusat tetap akan membuat pemetaan hasil nilai di setiap daerah. Pemerintah pusat akan membuat kategori atau klasifikasi dan pengelompokan nilai. Jadi, tidak akan dibuat peringkat karena ada provinsi yang akan protes", demikian berita Pos Kupang, 4 Mei 2018.

Lalu, apa artinya ini? Pernyataan tersebut dapat dipahami sebagai bentuk penghalusan (peredaman emosi) untuk mengantisipasi reaksi sentimental di tengah masyarakat.

Kita masih ingat bagaimana reaksi keras masyarakat NTT ketika prestasi akademik provinsi ini (nilai hasil belajar siswa) dituding sebagai penyebab merosotnya ranking Indonesia di panggung internasional.

Baca: Ramalan Zodiak Hari ini Sabtu 25 Agustus-Pisces Alami Keajaiban, Aquarius Dapat Kejutan Bahagia

Ketika peringkat bulu tangkis Indonesia di sektor tunggal putra/i, ganda putra/i melorot jauh dari negara-negara raksasa bulu tangkis dunia dewasa ini, para ofisial, atlet, pelatih, pembina, penanggung jawab klub tetap berjuang dan berusaha bangkit kembali.

Segala pikiran dan tenaga termasuk kajian secara ilmiah mengejar ketertinggalan peringkat dicurahkan dan dilakukan.

Mereka tahu persis, melihat langsung perolehan poin-poin kelemahan namun mereka juga terima dan mengakui semua itu dengan lapang dada dan sportif. Ilustrasi komparatif ini mau mengatakan bahwa pelatih (baca: guru di sekolah) tidak sendirian di lapangan. Dalam dunia pendidikan juga bisa demikian.

Jika fakta dan realitas hasil pendidikan kita tetap dibungkus dan tak diapa-apakan tanpa sebuah tindakan folow-up (melihat, mengkaji, menganalisa, mencari jalan keluar) maka jangan harap akan terjadi perubahan dan kemajuan.

Kedudukan UN dalam proses pendidikan di Indonesia tetap menjadi barometer profil pendidikan nasional meski kalangan tertentu menegasikannya. Bagi sekolah-sekolah yang berkomitmen tinggi terhadap mutu pendidikan melalui jalur UN tetap menempatkannya sebagai alat ukur kemajuan prestasi sekolah mereka. Dalam evaluasi pendidikan terdapat dua pelaksanaan ujian secara internal dan eksternal.

Baca: 10 Drakor alias Drama Korea Tentang Percintaan di SMA dan Kampus Terbaik, Asli Bikin Baper

Halaman
1234
Editor: Putra
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help