Berita Kota Kupang

Dialog Kerukunan Umat Beragama Sebagai Strategi Antisipasi Konflik

Dialog merupakan salah satu pendekatan dalam strategi untuk mengantisipasi munculnya konflik

Dialog Kerukunan Umat Beragama Sebagai Strategi Antisipasi Konflik
POS-KUPANG.COM/Oby Lewanmeru
Ketua FKUB Provinsi NTT, Dr. Maria Theresia Geme, S.H, M.H

Laporan Reporter POS-KUPANG.COM, Oby Lewanmeru

POS-KUPANG.COM | KUPANG - Dialog merupakan salah satu pendekatan dalam strategi untuk mengantisipasi munculnya konflik, selain mensinergikan kekuatan semua elemen masyarakat dalam upaya memelihara dan terus mewariskan kualitas keberagaman yang lebih baik.

Hal ini disampaikan Ketua FKUB Provinsi NTT, Dr. Maria Theresia Geme, S.H, M.H pada acara dialog FKUB di Hotel Cahaya Bapa, Jalan Herewila, Kota Kupang, Sabtu (25/8/2018).

Dialog ini mengambil tema kerukunan umat beragama dengan sub tema merawat kerukunan umat beragama dengan media sosial.

Baca: Dua Polisi PJR Ditembak Orang Tak Dikenal

Saat membuka acara ini, Maria Theresia Geme mengatakan, dengan dialog, maka dapat mengantisipasi konflik yang terjadi secara horizontal di tengah masyarakat.

"Dialog ini merupakan sarana terbaik untuk menjumpakan persamaan maupun perbedaan yang menyempurnakan identitas dalam keberagaman," kata Theresia.

Dijelaskan, selain dialog sebagai satu pendekatan dalam strategi mengantisipasi konflik, dialog juga menjadi momentum untuk mempertemukan semua elemen.

Lebih lanjut, dikatakan, Peraturan bersama Menteri Dalam Negeri (Mendagri) nomor 8 dan 9 tahun 2006 tentang pelaksanaan tugas kepada seluruh kepala daerah dalam memelihara kerukunan antar umat beragama dan pendirian rumah ibadat.

"Selanjutnya, memberikan tugas kepada FKUB NTT dan kabupaten kota untuk melakukan dialog secara intensif yang mempertemukan semua elemen masyarakat untuk saling mendengarkan, menyepakati cara yang sama dalam melindungi kepentingan semua umat beragama dan cara menghadapi ancaman kerukunan beragama," jelasnya.

Dikatakan, momentum dialog yang berahmat itu dilakukan atas dasar keprihatinan terhadap ketidakberdayaan struktur maupun kultur dalam menghadapi ekses negatif dari sebuah kemajuan.

"Kebebasan beragama juga bereforia dalam kebebasan berekspresi juga dengan menggunakan media sosial. Kondisi ini telah membawa masyarakat beragama di Indonesia ke dalam kotak baja atas nama agama yang saling menjauhkan serta identitas kebagsaan kita juga disamarkan," katanya.

Dia mengakui, dengan adanya dialog kerukunan umat beragama yang digelar FKUB NTT, akan memberikan ruang untuk saling berbagi pengetahuan, pengalaman dengan panduan nara sumber atau pemateri untuk menemukan cara bersama dan bekerja sama dalam tekad untuk melipatgandakan nilai positif.

"Adanya teknologi komunikasi itu dapat dimanfaatkan sebesar-besarnya bagi keselamatan umat manusia dan alam semesta. Karena itu, mari menolak diam, Tuhan pasti menolong kita," ujarnya. (*)

Penulis: Oby Lewanmeru
Editor: Kanis Jehola
Sumber: Pos Kupang
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved