Opini Pos Kupang

Ile Adowajo dan Festival Gunung (Biru) Lembata

Selain menyambungkan memori masa kecil saat para vulkanolog silh berganti datang ke Lerek, tetapi juga untuk meluruskan

Ile Adowajo dan Festival Gunung (Biru) Lembata
istimewa
Gunung Ile Ape

Oleh Robert Bala
Pemerhati Sosial Budaya. Tinggal di Jakarta

POS-KUPANG.COM - Februari 2018, di awal rencana pelaksanaan Festival 3 Gunung (Api) di Lembata, penulis merasa perlu menggali informasi di Pusat Vulkanologi Bandung.

Sebuah kunjungan yang sengaja disisihkan di sela-sela kegiatan lain, tetapi bagi penulis hal ini penting.

Selain menyambungkan memori masa kecil saat para vulkanolog silh berganti datang ke Lerek, tetapi juga untuk meluruskan nama yang pada hemat penulis sangat penting.

Apabila nama itu tanda, maka makna di balik Ile Adowajo yang merupakan salah satu gunung parasiter di Indonesia?

Gunung Parasiter

Nama-nama gunung seperti Gunung Gede dan Gunung Pangrango di Jawa Barat, Gunung Sindoro dan Gunung Sumbing di Temanggung Jawa Tengah atau Gunung Bromo, Batok, dan Tenger di Jawa Timur, merupakan contoh gunung parasiter yang cukup menarik perhatian wisatawan internasional.

Baca: 10 Judul Drakor 2018 yang Dibintangi Idol KPop Alias Anak Boyband, Ada Park Seo Joon

Kedekatan mereka di satu lokasi menjadi menarik karena gunung yang berdekatan itu sebenarnya hanya satu. Mereka mendapatkan pasokan magma dari dapur magma yang sama.

Hal ini membedakan dari gunung kembar yang ada berdampingan (seperti Gunung Lewotobi), tetapi sesungguhnya memiliki dapur magma berbeda.

Keutamaan yang langka seperti inilah yang menjadi ciri dari gunung `Ile Adowajo' yang juga merupakan gunung parasiter. Sebuah fenomena menarik yang oleh masyarakat umum tidak diketahui dan apalagi dikagumi.

Catatan historis yang terekam bahwa pada tahun 1870, terjadi letusan eksplosif di kaldera Lerek, tempat di mana kini menjadi Gunung Adowajo. Kemudian tahun 1910 dan 1928 tercatat lagi ada asap membubung dan membentuk gunung baru (Ile Werun) yang oleh masyarakat disebut sebagai Adowajo.

Kedahsyatan magma dari dalam kemudian tidak keluar dari kawah Ile Adowajo tetapi justru pada lerengnya dan membentuk gunung baru (Ile Werun) yakni Peterus Gripe pada tahun 1948. Kemudian selama tiga tahun hampir terjadi letusan yang sangat dahsyat pada tahun 1951.

Baca: Kebiasaan Unik Member BTS, Suga Doyan Pakai CD Member Lain, Jungkook Paling Berantakan?

Kedahsyatan `Ile Adowajo' sebagai induk tidak selesai. Pada 5 Desember 1973, adanya semburan air dan uap dari laut Sawu yang berjarak sekitar 3 km dari Ile Adowajo.

Kejadian yang sama terjadi pada tahun 1976 dengan munculnya tujuh pulau baru (yang kemudian tenggelam), 1983, 1995, 1999, dan kemudian lagi tahun 2013.

Yang menarik, Ile Hobal sebagai `gunung baru' (Ile Werun) hadir dengan keunikannya sebagai gunung di bawah laut dan mencatatkan diri sebagai salah satu dari tujuh gunung bawah laut di Indonesia.

Enam gunung lainnya adalah Banua Wuhu/Mahangetang, Submarin 1922 dan Kawio Barat (ketiganya di perairan Sangihe, Sulawesi Utara) serta Gunung Yersey, Emperor of China dan Nieuwerkerk (ketiganya di perairan Laut Banda, Maluku).

Dari ketujuh gunung berapi bawah laut tersebut hanya Gunung Hobal yang paling aktif dan terdahsyat hingga kini.

Gunung Biru

Terlalu gegabah bila mengategorikan Ile Adowajo (serta Ile Lewotolok dan Ile Batutara) dalam kategori `Blue Mountains' (pegunungan biru) seperti yang dimiliki Australia. Di sana ada wisata alam seluas satu juta hektar dengan pesona hutan lebat, tebing batu berpasir serta air.

Baca: 5 Zodiak ini Ternyata Simpan Pesona di Mata Lawan Jenisnya lho! Zodiak Kamu Termasuk?

Jelasnya, penamaan biru pada pegunungan (blue mountains) seperti di New South Wales, Australia, terjadi oleh jarak yang jauh antara sudut pandang mata dengan pengunungan yang sangat jauh, sejauh mata memandang ke langit.

Jarak tersebut menyebabkan molekul udara kecil ogsigen, nitrogen, molekul air dan debu pegunungan berinteraksi dengan cahaya yang menjadikan warna pegunungan seperti langit, kelihatan biru.

Untuk konteks Festival 3 Gunung di Lembata tentu tidak bisa dikategorikan sebagai `blue mountains' dalam arti sebenarnya. Ia bisa dipahami, sejauh mana ruang lingkup nasional dan regional memandang Lembata dalam keseluruhan keterkaitan sosial budaya di dalamnya.

Jelasnya memandang Lembata seperti sebuah rangkaian pegunungan yang bila dipandang dari jauh akan kelihatan `biru' dalamnya terdapat rangkaian budaya yang menjadikannya hidup.

Pertama, pegunungan `Ile Werun' sebagai gunung parasiter (selevel Pangrango dan Bromo) dan kehadiran Ile Hobal sebagai gunung bawah laut teraktif di Indonesia menjadi sebuah nilai jual yang sangat menarik.

Tentu hal itu perlu diapresiasi oleh warga Lembata dan kemudian diharapkan menjadi daya tarik untuk masyarakat jagat. Pada tataran ini, festival 3 gunung memiliki nilai strategis sekaligus peluang yang perlu dibenahi secara baik dan benar.

Kedua, Gunung `Adowajo' menampilkan panorama khas nyaris tertandingi di dunia karena gunung dengan ketinggian 585 Mdpl, di belakangnya berdiri megah Gunung Mauraja yang lebih tinggi (1.000 Mdpl) yang menjadi sudut untuk memandang dari atas Ile Adowajo.

Model pemandangan seperti ini, pada hampir semua gunung, hanya bisa dipantau dari atas, tepatnya dari pesawat sehingga menjadikan sebuah panorama indah. Meski oleh jarak dekat dan belum membentuk warna biru, tetapi panorama yang khas seperti ini menjadi hal langka yang tidak bisa dianggap sepele.

Ketiga, gunung biru harusnya dimaknai sebagai sebuah panorama indah yang melingkupi tidak saja gunung secara fisik tetapi juga melingkupi masyarakat. Posisi hidup di atas cincin api "ring of fire' menjadikan orang Atadei sebagai `orang yang selalu berdiri', siaga.

Di sini keberadaan di daerah ini nyaris diperhatikan oleh asumsi, membangun Atadei tidak bersifat jangka panjang karena kapan pun ada bencana alam.

Festival 3 Gunung justru secara positif menyadarkan, gunung harus diakrabi, didekati, ditata, dikelola secara positif agar tidak saja gunung dipandang, tetapi masyarakat pun memperoleh pengembangan yang positif.

Pengembangan itu akan menjadi sebuah warna indah yang bila dipandang dari kejauhan menebarkan warna khas biru, ekspresi harapan seperti yang dihadirkan langit bagi setiap penghuninya. *

Editor: Putra
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved