Opini Pos Kupang

Ile Adowajo dan Festival Gunung (Biru) Lembata

Selain menyambungkan memori masa kecil saat para vulkanolog silh berganti datang ke Lerek, tetapi juga untuk meluruskan

Ile Adowajo dan Festival Gunung (Biru) Lembata
istimewa
Gunung Ile Ape

Jarak tersebut menyebabkan molekul udara kecil ogsigen, nitrogen, molekul air dan debu pegunungan berinteraksi dengan cahaya yang menjadikan warna pegunungan seperti langit, kelihatan biru.

Untuk konteks Festival 3 Gunung di Lembata tentu tidak bisa dikategorikan sebagai `blue mountains' dalam arti sebenarnya. Ia bisa dipahami, sejauh mana ruang lingkup nasional dan regional memandang Lembata dalam keseluruhan keterkaitan sosial budaya di dalamnya.

Jelasnya memandang Lembata seperti sebuah rangkaian pegunungan yang bila dipandang dari jauh akan kelihatan `biru' dalamnya terdapat rangkaian budaya yang menjadikannya hidup.

Pertama, pegunungan `Ile Werun' sebagai gunung parasiter (selevel Pangrango dan Bromo) dan kehadiran Ile Hobal sebagai gunung bawah laut teraktif di Indonesia menjadi sebuah nilai jual yang sangat menarik.

Tentu hal itu perlu diapresiasi oleh warga Lembata dan kemudian diharapkan menjadi daya tarik untuk masyarakat jagat. Pada tataran ini, festival 3 gunung memiliki nilai strategis sekaligus peluang yang perlu dibenahi secara baik dan benar.

Kedua, Gunung `Adowajo' menampilkan panorama khas nyaris tertandingi di dunia karena gunung dengan ketinggian 585 Mdpl, di belakangnya berdiri megah Gunung Mauraja yang lebih tinggi (1.000 Mdpl) yang menjadi sudut untuk memandang dari atas Ile Adowajo.

Model pemandangan seperti ini, pada hampir semua gunung, hanya bisa dipantau dari atas, tepatnya dari pesawat sehingga menjadikan sebuah panorama indah. Meski oleh jarak dekat dan belum membentuk warna biru, tetapi panorama yang khas seperti ini menjadi hal langka yang tidak bisa dianggap sepele.

Ketiga, gunung biru harusnya dimaknai sebagai sebuah panorama indah yang melingkupi tidak saja gunung secara fisik tetapi juga melingkupi masyarakat. Posisi hidup di atas cincin api "ring of fire' menjadikan orang Atadei sebagai `orang yang selalu berdiri', siaga.

Di sini keberadaan di daerah ini nyaris diperhatikan oleh asumsi, membangun Atadei tidak bersifat jangka panjang karena kapan pun ada bencana alam.

Festival 3 Gunung justru secara positif menyadarkan, gunung harus diakrabi, didekati, ditata, dikelola secara positif agar tidak saja gunung dipandang, tetapi masyarakat pun memperoleh pengembangan yang positif.

Pengembangan itu akan menjadi sebuah warna indah yang bila dipandang dari kejauhan menebarkan warna khas biru, ekspresi harapan seperti yang dihadirkan langit bagi setiap penghuninya. *

Editor: Putra
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved