Opini Pos Kupang

Demitologisasi dan Desakralisasi Persatuan

Bandingkan dengan kebanyakan negara bekas jajahan lain di dunia yang tetap menggunakan bahasa penjajah sebagai bahasa resmi.

Demitologisasi dan Desakralisasi Persatuan
net
Bendera Merah Putih 

Gerakan Budi Utomo tahun 1908, misalnya, pada galibnya diilhami semangat untuk menemukan jati diri dari the happy few, sekelompok pemuda yang mengeyam pendidikan di masa penjajahan. Semangat persatuan adalah nada dasar Sumpah Pemuda, sebuah 'testamen politik' para pemuda untuk bergandeng tangan meraih kemerdekaan.

Sumpah itu sudah tentu mengandung cita-cita kemerdekaan, hanya saja kemerdekaan itu belum eksplisit dinyatakan. Yang eksplisit dinyatakan adalah persatuan: satu nusa, satu bangsa dan satu bahasa. Dan, Proklamasi Kemerdekaan 17 Agustus 1945 adalah eksplisitasi paling akhir dari cita-cita persatuan itu.

Pengalaman kolektif akan ketertindasan mendesak semangat dan membakar dada untuk segera menyatakan merdeka, bebas dan lepas dari belenggu kolonialisme.

Dalam konteks pemikiran seperti ini, roh persatuan mempunyai sifat mitis. Sifatnya yang mitis itu justru memperkuat dan memperkukuh persatuan sebagaimana yang dicita-citakan oleh para pemuda ketika itu.

Muhammad Yamin, tokoh pemuda terkemuka, memperkuat lagi sifat mitis itu dengan menghubungkan Sumpah Pemuda dengan Sumpah Palapa yang diucapkan Gajah Mada tahun 1331.

Baca: RM BTS Ketemu Penyanyi Dunia Cantik ini di Korea, ARMY: Kolaborasi?

Dari tujuannya meraih kemerdekaan, roh persatuan itu memang sangat penting. Dia menjadi spirit yang menggerakkan dan semangat yang mendorong pemuda untuk bersatu membebaskan diri dari pengalaman bersama akan ketertindasan penjajah.

Tetapi bagi para pemuda ketika itu, persatuan itu cuma monokausal yang mendorong mereka untuk mengikat diri dalam tali persatuan. Mereka sama-sama merasa senasib di bawah penindasan penjajah. Perasaan senasib akan penderitaan di bawah penindasan bangsa penjajah, mendorong mereka untuk bersatu.

Dalam perjalanan selanjutnya setelah kemerdekaan, persatuan yang bersifat mitis itu kemudian semakin dimitoskan dalam sejarah.

Dalam bentangan sejarah dari Orde Lama hingga Orde Baru dan bahkan hingga sekarang ini, persatuan itu tidak cuma menjelma menjadi sesuatu yang sakral dan tak boleh diganggu gugat, tetapi bahkan lebih menjadi suatu ideologi. Padahal, dalam arti dan konteks tertentu ideologi itu kerap kali memperlihatkan dampak buruk.

Mengutip Dr. Ignas Kleden, "Ideologi hanyalah suatu istilah yang lebih halus dari apa yang sering dinamakan kesadaran palsu, yaitu kesadaran yang menipu seseorang tentang posisinya dalam struktur sosial yang ada, kemudian menghilangkan semangat seseorang untuk mengubah struktur yang semula dianggapnya tidak adil."

Halaman
1234
Editor: Putra
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved