Opini Pos Kupang

Demitologisasi dan Desakralisasi Persatuan

Bandingkan dengan kebanyakan negara bekas jajahan lain di dunia yang tetap menggunakan bahasa penjajah sebagai bahasa resmi.

Demitologisasi dan Desakralisasi Persatuan
net
Bendera Merah Putih 

Oleh Tony Kleden
Wartawan, tinggal di Kupang

POS-KUPANG.COM - Tidak seperti negara-negara bekas jajahan lain di dunia, Indonesia memiliki semacam historical blessing dari masa penjajahannya.

Berkat sejarah itu adalah roh persatuan yang mengatasi segala sentimen, baik itu suku, agama, ras maupun golongan. Penggunaan bahasa Melayu Riau sebagai bahasa resmi di masa perjuangan dan kemudian menjadi bahasa nasional adalah eksplisitasi paling jelas dari roh persatuan itu.

Bandingkan dengan kebanyakan negara bekas jajahan lain di dunia yang tetap menggunakan bahasa penjajah sebagai bahasa resmi.

Baca: 10 Drakor alias Drama Korea Tentang Percintaan di SMA dan Kampus Terbaik, Asli Bikin Baper

Ini tidak cuma mengekalkan dominasi penjajah melalui kebudayaan dalam hal ini bahasa, tetapi sekaligus memperlihatkan lemahnya semangat persatuan.

Pada awal kemerdekaan mestinya suku Jawa dapat memaksakan bahasa Jawa sebagai bahasa nasional dan budaya Jawa sebagai kebudayaan nasional.

Atau orang Sumatera sangat mungkin memisahkan diri dari daerah-daerah lain di tanah air dan membentuk negara sendiri dengan menggunakan bahasa Melayu. Nyatanya, pemikiran seperti itu tidak tumbuh dalam diri para pemuda, para pejuang dan para pendahulu kita tempo dulu.

Dengan roh persatuan di dada, dengan perasaan senasib yang membakar semangat, para pemuda dan pejuang-pejuang dulu menyatakan tekad untuk tetap satu: Indonesia.

Yang lebih membanggakan lagi, roh persatuan itu tumbuh dan mekar jauh sebelum bangsa ini menyatakan Proklamasi Kemerdekaannya tahun 1945. Para pejuang dan bapak-bapak bangsa ketika itu sungguh yakin, hanya dengan persatuan, kemerdekaan dapat diraih.

Baca: 5 Zodiak ini Ternyata Simpan Pesona di Mata Lawan Jenisnya lho! Zodiak Kamu Termasuk?

Dalam sejarah tualang bangsa ini, roh persatuan itu bagaikan rahmat yang dianugerahkan. Dari mana datangnya, tak cukup jelas benar. Dia, persatuan itu, seolah datang dari luar sejarah dan menjadi bagian inheren dari sejarah bangsa ini.

Halaman
1234
Editor: Putra
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved