Berita Kabupaten Flores Timur

Ini Pesan Agus Boli Saat Menyelesaikan Masalah Tanah di Desa Lewogeka

Wakil Bupati Flores Timur Agustinus Payong Boli atau Agus Boli mengejutkan masyarakat Lewogeka Kecamatan Solor Timur Flotim

Ini Pesan Agus Boli Saat Menyelesaikan Masalah Tanah di Desa Lewogeka
POS KUPANG/FELIKS JANGGU
Wakil Bupati Flotim Agustinus Payong Boli 

Laporan Reporter POS-KUPANG.COM, Feliks Janggu

POS-KUPANG.COM|LARANTUKA-- Wakil Bupati Flores Timur Agustinus Payong Boli atau Agus Boli mengejutkan masyarakat Lewogeka Kecamatan Solor Timur Flotim-NTT Senin (20/8/2018).

Agus Boli bertemu masyarakat untuk menyelesaikan masalah tanah dengan masyarakat adat menggunakan hukum adat Lamaholot Flores Timur.

"Saya lakukan pendekatan Hukum Adat yakni Hukum Adat Lamaholot dengan pendasaran pada "Nobo Lema" sebagai Pancasilanya Lamaholot yakni Nobo ruha "kakan keru arin baki," kata Agus Boli kepada POS-KUPANG.COM Selasa (21/8/2018).

Jelas Agus Boli penyelesaian dengan hukum adat menggunakan pola persuasif dari hati ke hati dan akhirnya bersepakat yang dikukuhkan dengan hukum adat Lamolot.

Agus Boli mengatakan kalau cenderung pakai hukum positif peninggalan Belanda kadang tidak sesuai dengan karakter adat Lamaholot dan menimbulkan bias masalah hukum baru.

Sebaliknya kalau menyelesaikan masalah dengan hukum adat, penyelesaiannya satu kali dan itu final mengikat dari hati ke hati sebagai kaka adik.

Mengapa? Karena terjadi kesepamahaman bersama yang disebut "Nayu Baya" yakni perjanjian yang mengikat segala turunan ahli waris.

"Ini lebih efektif dan langsung damai para pihak dan saling menerima," kata Agus Boli.

Agus Boli meminta kepada seluruh masyarakat Flotim Lamaholot terutama di wilayah-wilayah yang berpotensi konflik agar menyelesaikan masalah tanah dan masalah lainnya dengan hukum adat Lamaholot.

"Hukum adat membangun semangat 'kakan keru arin baki". Harus saling mendengarkan dan mengalah utk "Nayu Baya" persehatian atas dasar nilai-nilai kemanusiaan "atadiken"," kata Agus Boli.

Artinya, tambah Agus Boli nyawa manusia bagi orang Lamaholot lebih mahal dari apa pun, dan dari benda-benda yang di-konflikkan.

"Kita selesaikan masalah tanpa perang antar sesama.Kita omong baik-baik daru hati ke hati dan saling mengalah dan mengisi," kata Agus Boli.

Jika kelompok masyarakat yang berkonflik menyadari prinsip kemanusiaan Lamaholot itu, maka pemda hadir hanya sebagai fasilitator antar para pihak supaya saling mengalah dan menerima.

"Saya minta segala bentuk konflik di masyarakat Lamaholot, agar mengedepankan hukum adat Lamaholot dalam penyelesaiannya. Yang selalu menjunjungi tinggi persaudaraan dan kekeluargaan," kata Agus Boli.(*)

Penulis: Felix Janggu
Editor: Rosalina Woso
Sumber: Pos Kupang
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help