Berita Regional

Ini Bahayanya Cuci Daging Kurban di Sungai

Dinas Pertanian, Ketahanan Pangan, dan Perikanan Kota Surakarta mengimbau panitia kurban tidak mencuci daging kurban di sungai.

Ini Bahayanya Cuci Daging Kurban di Sungai
KOMPAS.com/Labib Zamani
Dinas Pertanian, Ketahanan Pangan, dan Perikanan Kota Surakarta memeriksa sapi yang dijual di lokasi penjualan hewan kurban di Kelurahan Pajang, Kecamatan Laweyan, Solo, Jawa Tengah, Senin (20/8/2018). 

POS-KUPANG.COM | SOLO - Dinas Pertanian, Ketahanan Pangan, dan Perikanan Kota Surakarta mengimbau panitia kurban tidak mencuci daging kurban di sungai.

"Selain dapat mencemari lingkungan, daging kurban yang dicuci di sungai juga tidak bersih," ujar Kepala Dinas Pertanian, Ketahanan Pangan, dan Perikanan Kota Surakarta, Weni Ekayanti, saat memeriksa hewan kurban di Kecamatan Laweyan, Solo, Jawa Tengah, Senin (20/8/2019).

Weni meminta panitia kurban membuat sumur pompa untuk membersihkan atau mencuci daging kurban dan saptic tank guna membuang kotoran hewan kurban setelah disembelih.

Baca: Asian Games Hari Kedua, Menko PMK Kalungkan Medali ke Lindswell Kwok

"Masih banyak kita temukan hewan kurban dicuci di sungai. Harusnya ada sumur pompa dan saptic tank untuk mengalirkan kotorannya," jelas Weni.

Weni mengaku selalu meminta update data lokasi penjualan dan penyembelihan hewan kurban dan memberikan surat edaran tentang pelaksanaan penyembelihan hewan kurban ke masing-masing kelurahan atau panitia penyembelihan kurban.

Di samping itu, pihaknya memberikan sosialisasi dan pelatihan kepada petugas panitia kurban di masing-masing wilayah. Sebab, petugas tersebut tidak hanya dari Dinas Pertanian, namun melibatkan dari wilayah.

"Lokasi penyembelihan hewan kurban di Solo terus meningkat. Tahun ini ada sekitar 3.000 lokasi penyembelihan hewan kurban," sebutnya.

Untuk pemeriksaan hewan kurban, pihaknya telah membentuk tim di lima kecamatan. Tim ini memeriksa hewan yang dijual di lokasi penjualan di daerahnya masing-masing. Weni menambahkan, pemeriksaan ini untuk memastikan hewan kurban yang dijual layak untuk disembelih.

"Secara syariat hewan yang disembelih untuk kurban sudah cukup umur ditandai dengan tumbuhnya sepasang gigi tetap (sudah poel) dan kondisinya sehat," kata Weni.

Penjual hewan kurban, Manto (53) mengaku sudah 30 tahunan berjualan hewan kurban. Hewan kurban yang dia jual selama ini adalah sapi dengan berbagai jenis dan ukuran.

"Ada sapi metal, limosin, dan sapi lokal yang saya jual. Harganya mulai dari Rp 15 juta-50 juta per ekor," jelas Manto.

Manto mengaku, penjualan hewan kurban tahun ini menurun dibanding tahun sebelumnya. Dulu ia bisa menjual 80 ekor sapi, namun tahun ini hanya 29 ekor sapi.

"Penjualan sapi kurban sekarang mengalami penurunan. Tahun-tahun sebelumnya dalam waktu 10 hari saja sudah banyak sapi yang terjual. Sekarang ini baru mendekati Idul Adha," pungkasnya. (*)

Editor: Kanis Jehola
Sumber: Kompas.com
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help