Opini Pos Kupang

Libur Sehari di Ulang Tahun Ibu Pertiwi

Dari Miangas sampai Rote. Dari yang paling suci sampai yang paling banyak dosanya. Dari presiden sampai rakyat jelata

Libur Sehari di Ulang Tahun Ibu Pertiwi
net
Bendera Merah Putih 

Tapi barang barang beginian ini sudah semakin sedikit. Padahal pada awal kebangkitan ekonominya dulu bung tahu. Apa saja bisa dibuat. Dengan nama suka-suka pula. Sekarang tidak lagi. Industri rumah tangga dengan produksi barang barang kawe sudah tidak boleh. Yang ada hanya produk pabrik pabrik besar yang sebagian besar berkualitas.

Kembali ke tanah air. Kenapa kita tidak bisa tiru itu? Kekuatan kita berapa?. 240 juta jiwa. Artinya seperlima China. Atau hampir dua kali Jepang yang hanya 127 juta jiwa.

Nah, mestinya kita juga tidak perlu ribut soal mutu dulu. Asal barang saudara sendiri, sikat habis. Toh harganya jauh lebih murah. Kalah mutu tapi menang di harga. Jadi impas bung.

Mirip 8 mesin diesel Dong Feng yang setara harganya dengan 1 mesin Yanmar. Pilih yang mana? Tentu 8 Don Feng. Kalau rusak buang saja. Ganti dengan yang baru. Atau mau lebih hemat? Ganti spare-partnya dengan yang baru yang harganya murah meriah. Itu sebabnya bung lihat Yanmar sekarang nyaris hilang di pasaran.

Jadi peferensi barang saudara sendiri itu perlu. Embargo produk luar dengan sendirinya akan muncul. Tidak perlu pakai disuruh-suruh. Apalagi pakai aturan seperti pasang tarif bea masuk yang tinggi atau kuota. Kalau pakai aturan begini pasti akan ada tindakan balasan seperti antara China dan Amerika. Perang dagang.

Cukup dengan semangat nasionalisme tinggi embargo produk luar akan terjadi otomatis. Pertanyaannya hanya satu. Bisakah bung? Sayangnya kita ini terlalu agamis. Soal nasionalisme bagi kita nomor dua.

Bahkan kata orang kita paling agamis di dunia. Hasilnya? Bung lihat. Fanatisme agama tumbuh pesat di mana-mana. Hasilnya? Sayangnya orang hidup bukan jadi semakin suci tapi semakin eksklusif dan tidak toleran. Menganggap agama atau bahkan aliran keagamaannya sendiri paling benar. Yang lainnya salah melulu. Ini juga sebenarnya akibat negara salah urus. Kenapa negara dan bukan pemerintah?

Karena terjadi sudah sejak zaman dahulu kala. Dari pemerintahan ke pemerintahan ini sudah terjadi. Kebijakan pemerintah dalam menentukan hari libur misalnya. Atau kebijakan pemerintah dalam pemberian THR dan gaji ke-13 bukan menjelang 17 Agustus. Kebiasaan (atau aturan?) pejabat dalam salam pembuka pakai diksi agama yang kalau kurang suka bikin ada yang tersinggung. Masih banyak yang lain.

Untuk hari libur saja coba bung periksa di kalender. Hitung. Berapa banyak untuk hari kebangsaan dan hari keagamaan. Untuk 2018, dari total 23 hari libur, hari kebangsaan cuma dua. Satunya 17 Agustus. Satunya lagi 1 Juni, hari lahir Pancasila yang baru ditambahkan presiden Jokowi. Sementara itu berapa jumlah hari libur keagamaan?

Delapan belas bung. Bayangkan. Delapan belas dibanding dua. Itupun sudah untung. Sebelumnya cuma satu. Betapa pentingnya hari keagamaan. Dan betapa tidak pentingnya hari kebangsaan bagi kita. Maka itu jangan heran bung.

Hidup sekarang sudah semakin susah. Semakin terkotak-kotak. Sekat agama ini dindingnya terasa sudah terlalu tebal dan keras. Karena itu, libur 17 Agustus yang cuma sehari ini bisa bikin apa?

Paling enak tidur bung. Ah, terserah kau saja Pace. Daripada ko stroke karena marah melulu. Tapi jangan lupa ucapkan selamat ulang tahun dulu kepada Ibu Pertiwi. Merdeka. *

Editor: Putra
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved