Berita Kota Kupang

NTT Populasi Ternak Babi Terbanyak Indonesia

Populasi ternak babi keadaan tahun 2018 mencapai 1,8 juta ekor,terbanyak di Indonesia. Rata-rata dua ekor babi per-rumah tangga

NTT Populasi Ternak Babi Terbanyak Indonesia
POS KUPANG/GERADUS MANYELA
Kadis Peternakan NTT, Danny Suhadi (kanan) berbincang dengan pihak AIP Rural.

Laporan Reporter POS KUPANG.COM, Geradus Manyela

POS-KUPANG.COM|KUPANG--Populasi ternak babi keadaan tahun 2018 mencapai 1,8 juta ekor,terbanyak di Indonesia. Rata-rata dua ekor babi per-rumah tangga. Jumlah peternak aktif mencapai 900 ribu rumah tangga.

Data ini terungkap pada acara AIP-Rural Journalist Workshop and Fiel Visit NTT Briefing Sheet Prisma-Interversi Sektor Babi di Hotel Sotis Kupang, Selasa (14/8/2018).

Acara yang diikuti wartawan media lokal dan nadional yang dimoderatori Muhamad Karim Wirasaputra (Head of Communication) menghadirkan nara sumber, Ferdinand Rondong (Principal Business Cknsultant), Gracia Christie Napitupulu (Senior Business Consultan Portfolio IV-Prisma), Tarya (Manajer Wilayah Bali-NTT) PT Medion Ardhika Bhakti, Rian Nurcahyono (Business Consultan) dan Ir. Danny Suhadi (Kadis Peternakan Prkvinsi NTT).

Ferdi mengatakan, sektor pertanian masih punya ruang bertumbuh maka AIP-Rural fokus ke pettanian untuk peningkatan ekonomi masyarakat. Dari potensi itu, babi menjadi salah satu komoditas yang cepat mendongkrak pettumbuhan ekonomi.

Di Indonesia bagian timur babi memberi kontribusi Rp 1,4 triliun peningkatan pendapatan dan NTT merupakan salah satu daerah yang prospeknya cemerlang. Namun masyarakat masih diperhadapkan dengan masalah akses teknologi sehingga perlu ada inovasi yang mendongkrak daya saing petani, termasuk peternak babi.

AIP-Rural tidak memberi ikan dan juga kail, tapi mempertemukan orang yang membuat kail agar diajarkan cara yang tepat agar masyarakat bisa membuat kail jika mau menangkap ikan. Untuk itu katanya, pelaku pasar (petani dan pengusaha pakan dan obat-obatan berbagi peran yang harus memiliki kapasitas dalam mendorong pola usaha yang saling menguntungkan.

Gracia mengatakan, babi menjadi fokus pengembangan di NTT karena daging babi paling banyak dikonsumsi (40,1 persen). Lanjutnya, populasi babi di Indonesia meningkat 2 persen dan NTT terbanyak. NTT menyumbang 10,2 persen dari total produksi daging babi Indonesia.

Lanjut Gracia, di NTT rata-rata satu rumah tangga memiliki dua ekor babi sehingga menjadi provinsi babi terbanyak di Indonesia. Diestimasikan ada 900 ribu rumah tangga sebagai peternak babi. Hal ini dipicu setiap urusan budaya dan agama menbutuhkan babi. Peternakan babi juga melibatkan tenaga kerja wanita.

Kondisi riil di NTT, kata Gracia, peternak berpendapatan rendah akibat produktivitas rendah karena kualitas bibit rendah dan kualitas pakan rendah.

Selain itu, lanjut Gracia,pengetahuan terkait kesehatan hewan terbatas dan keterbatasan teknik beternak.
Prisma memfasilitadi agar akses leternak ke bibit dan pakan sertaI informasi yang tepat. Dengan demikian perlu kerja sama perusahaan pembibitan, pakan dan obat-obatan.

Rian menegaskan, kesehatan hewan sangat penting. Program Prisma mempermudah petani peternak mendapatkan obat, memberikan pelatihan kepada peternak dan penjual obat.

Manajemen penjualan obat, kata Rian, sangat penting termasuk manfaatnya. Prisma juga mendesain alat promosi yang mudah dipahami. Prisma juga pernah menggempur Sumba dalam memerangi hog cholera yang merupakan penyakit mematikan.

Sedangkan Tarya dari PT Medion Ardhika Bhakti memotivasi peternak agar terus berkembang.
Kepala Dinas Peternakan Provinsi NTT, Ir. Danny Suhadi mengatakan babi adalah simbol harkat dan martabat bhdaya bagi madyarakat terutama Sumba dan Flores.

Babi juga harus diperhatikan kedejahteraannya, tidak boleh ditombak, babi juga sumber pendapatan. Masyarakat NTT, katanya, sehari mengonsumsi babi antara 200-250 ekor untuk sei, warung-warung, pesta dan kematian. Pendapatan petani peternak sebulan bisa mencapai Rp 700 juta. (*)

Penulis: Gerardus Manyela
Editor: Rosalina Woso
Sumber: Pos Kupang
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved