Berita Kota Kupang

Deddy Sebut FGD Hasil Perekaman Persidangan Perkara Tipikor Sebagai Moment Belajar

Deddy Manafe mengatakan, pelaksanaan FGD tentang Kajian Hasil Perekaman Persidangan Perkara Tipikor sebagai moment pembelajaran hukum.

Deddy Sebut FGD Hasil Perekaman Persidangan Perkara Tipikor Sebagai Moment Belajar
POS-KUPANG.COM/TOMMY MBENU NULANGI
Wakil Dekan 1 FH Universitas Undana Kupang, Deddy Manafe. 

Laporan Reporter POS-KUPANG.COM, Tommy Mbenu Nulangi

POS-KUPANG.COM | KUPANG - Wakil Dekan 1 Fakultas Hukum (FH) Universitas Nusa Cendana (Undana) Kupang, Deddy Manafe mengatakan, pelaksanaan Focus Group Disscussion (FGD) tentang Kajian Hasil Perekaman Persidangan Perkara Tindak Pidana Korupsi (Tipikor) sebagai moment pembelajaran hukum.

"Kalau untuk FH Undana sendiri, ini merupakan moment belajar lebih dalam terkait dengan perkembangan kasus-kasus korupsi," kata Deddy ketika dimintai tanggapan mengenai kegiatan FGD kajian hasil perekaman persidangan perkara tipikor di Ruang Teleconference Fakultas Hukum Undana pada, Rabu (15/8/2018) siang.

Selain itu, jelas Deddy, pelaksanaan FGD kajian hasil perekaman persidangan perkara tipikor juga sebagai moment belajar untuk melihat perkembangan penerapan doktrin-doktrin ilmu hukum kedalam kasus-kasus nyata yang terjadi di lapangan.

Baca: Bhayangkari Polda NTT Bantu Air Bersih untuk Warga Manutapen Kupang

"Sehingga kita bisa belajar bahwa apa yang law in the book itu ketika dibawa ke law in action itu seperti apa, dan itu menjadi suatu proses yang luar biasa sehingga dosen-dosen yang terlibat didalam bisa merekam semua proses persidangan," ungkapnya.

Deddy menambahkan, dengan pelaksanaan FGD kajian hasil perekaman persidangan perkara tipikor minimal dapat mendorong para dosen FH Undana untuk lebih memperdalam apa yang ada didalam teori dan apa yang dipraktekan sehingga nantinya dapat ditularkan kepada mahasiswa.

"Dan mungkin kedepan, diskusi-diskusi semacam ini akan melibatkan mahasiswa semester tertentu lebih khusus mereka yang memprogram mata kuliah pendidikan anti korupsi sehingga mereka dibawah ke alam nyata. Bukan hanya alam teoritikal saja tapi dibawah ke alam praktis bahwa apa yang dipelajari didalam kelas dengan apa yang dipraktekan dapat didekatkan," pungkas Deddy.

Sementara itu, tambah Deddy, tujuan lain dalam pelaksanaan FGD kajian hasil perekaman persidangan perkara tipikor tersebut adalah untuk dalam tanda kutip mendalami putusan-putusan perkara tersebut, apakah putusan-putusan perkara tersebut telah mencerminkan perasaan keadilan secara substantif.

" Dalam kaitannya dengan penegakan hukum yang lebih baik lebih khusus pada pemberantasan korupsi. Apakah semangat pemberantasan korupsi kita di Indonesia on the track atau tidak dalam kaitannya dengan mewujudkan keadilan berdasarkan Ketuhanan Yang Maha Esa," ungkap Deddy. (*)

Penulis: Thomas Mbenu Nulangi
Editor: Kanis Jehola
Sumber: Pos Kupang
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved