Berita Sumba Barat Daya

Cerita Stefanus, Sang Pendiri Posyandu Babi di Sumba Barat Daya

Senyum bahagia tersungging dari mulut Stefanus B Laka (51), saat rombongan wartawan

Cerita Stefanus, Sang Pendiri Posyandu Babi di Sumba Barat Daya
KOMPAS.com/Sigiranus Marutho Bere
Stefanus B Laka saat menimbang berat badan seekor babi. 

Posyandu itu, menurut dia, guna mengecek berat badan babi setiap hari setelah diberi pakan tersebut. Dari hasil pakan ternak itu diketahui bahwa berat babi milik masyarakat bertambah 500 gram per hari.

Stefanus mengaku, jika menggunakan pakan, berat badan ternak peliharaan justru bertambah menjadi 700 gram per harinya.

"Saat saya bangun posyandu ini, warga desa di sini juluki saya sebagai bidan babi. Saya juga bisa memberikan suntikan vitamin ke babi serta mengebiri babi," imbuhnya.

Stefanus melakukan kegiatan itu semata-mata untuk menambah pendapatan peternak babi di daerah itu agar bisa meningkatkan kesejahteraan masyarakat.

Menurut Stefanus, setelah diberi pakan ternak babi, maka harga jual babi meningkat 10 sampai 20 kali lipat. Stefanus bahkan pernah menjual babi dengan harga Rp 12 juta per ekor yang digunakan untuk biaya anaknya yang saat ini bersekolah di luar NTT.

Selain Posyandu, Stefanus juga membuat delapan kelompok arisan pakan ternak babi, karena rendahnya daya beli peternak babi di tiga desa di daerah itu.

"Per kelompok arisan sebanyak lima orang. Awalnya arisan hanya 1-2 kilogram per minggu. Sekarang sudah capai 5 kilogram per minggunya," ucapnya.

Stefanus mengatakan, permintaan pakan ternak babi di Kabupaten Sumba Barat Daya sangat tinggi. Saat ini, kebutuhan pakan ternak babi mencapai dua ton per tahun.

Hal senada juga disampaikan oleh peternak lainnya, Albertina Leda Kadi dan Yohana Dadabulu. Keduanya mengaku penggemukan babi sangat bagus setelah menggunakan pakan babi, karena berat badan babi bisa bertambah dalam waktu singkat. (*)

Editor: Kanis Jehola
Sumber: Kompas.com
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help