Berita Provinsi NTT

Menteri BUMN: Target Produksi Garam di Desa Bipolo Capai 30.000 Ton Satu Musim Produksi

Menteri BUMN, Rini M. Soemarno mengatakan, target produksi garam di lahan seluas 314 Hektare di Desa Bipolo, Kecamatan Sulamu, Kabupaten Kupang

Menteri BUMN: Target Produksi Garam di Desa Bipolo Capai 30.000 Ton Satu Musim Produksi
POS-KUPANG.COM/Gecio Viana
Rini M Soemarno, menteri BUMM yang mengenakan topi ti'i langga ketika melakukan panen garam di desa Bipolo, Kecamatan Sulamu, Kabupaten Kupang, Selasa (14/8/2018) 

Laporan Reporter POS-KUPANG.COM, Gecio Viana

POS-KUPANG.COM | KUPANG - Menteri BUMN, Rini M. Soemarno mengatakan, target produksi garam di lahan seluas 314 Hektare di Desa Bipolo, Kecamatan Sulamu, Kabupaten Kupang mencapai sekitar 30.000 ton dalam satu musim produksi atau selama 10 bulan proses produksi, Selasa (14/6/2018).

"Kira-kira ada 300 hektare. Nah 300 hektare itu pada dasarnya untuk bisa mencapai ke garam, sepersembilannnya yang bisa jadi garam. Jadi harus melalui proses 9 kotak kristalisasi. Jadi kalau kita berbicara 300 hektare yang bisa berproduksi adalah kira-kira 33 hektare. Per hektarnya kira-kira 100 ton," kata menteri Rini kepada awak media seusai melakukan panen garam dan penyaluran KUR (Kredit Usaha Rakyat) petani garam di desa Bipolo, Kecamatan Sulamu, Kabupaten Kupang.

Dia mengatakan, pihaknya berharap dapat bekerja sama dengan para petani yang ada untuk membuat program inti plasma.

Baca: Jalan Utama Ditutup untuk Karnaval, Jalur III Kota Larantuka Macet Total

"Nah, ini sebagian sudah inti plasma. Makanya kita kasih pinjam KUR, karena waktu kita sudah panen, di kita proses yang paling utama itu 5 bulan. Jadi ada kira-kira 4 bulan bisa dimanfaatkan para petani untuk membudidayakan ikan. Nah kita lagi kembangkan supaya pendapatan mereka bisa bertambah, mereka budidaya bandeng," jelasnya.

Ia menjelaskan, pihaknya sedang mengusulkan kepada kementerian Agraria dan Tata Ruang (ATR) dan juga ingin berbicara dengan gubernur NTT terpilih untuk memanfaatkan lahan yang terlantar untuk menjalankan program inti plasma tersebut.

"Karena ini ada 2.000 hektar lahan terlantar. Nah ini kalau bisa kita manfaatkan dengan program inti plasma. Sebagian masyarakat di sini belum punya lahan, jadi mereka kalau kita bikin inti plasma mereka bisa dapat lahan juga. Mereka bukan lagi sebagai buruh, tapi bisa punya lahan juga," ujarnya.

Ia menambahkan, produksi garam di desa Bipolo jika dilihat dari kandungan HCLnya bisa untuk memenuhi kebutuhan garam konsumsi saat diproses lebih lanjut, akan tetapi untuk sekarang yang dibutuhkan adalah garam industri.

"Selama ini kita garam industri impor terus, nah ini kita harapkan kalau lahannya makin besar, ini kan makan waktu ya, saya ke sini 2015, jadi hasilnya yang betul bagus itu baru kelihatan setelah 3 tahun. Tapi kualitasnya sangat baik, sudah dibutuhkan dimana-mana mereka lihat hasilnya dari industri sudah mau ambil semua," katanya.

Dirinya berharap, Badan Usaha Milik Negara dapat bekerja sama dengan gubernur NTT untuk menjadikan provinsi NTT sebagai wilayah penghasil garam di Indonesia, "Mungkin NTT bisa kita jadikan provinsi garam untuk indonesia," tambahnya. (*)

Penulis: Gecio Viana
Editor: Kanis Jehola
Sumber: Pos Kupang
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help