Opini Pos Kupang

Kampus, Kempis dan Koruptor

Penelikungan etika dan moral akademik sedang terjadi secara banal dan vulgar di republik ini. Nilai pencerahan seakan

Kampus, Kempis dan Koruptor
Shutterstock
ilustrasi 

Menariknya, gonta-ganti kurikulum pun seakan-akan tergantung pada keinginan sang menteri. Semua pihak, entah itu pengamat pendidikan, pemerhati pendidikan, aktor pendidikan ramai-ramai mencerca sang menteri.

Mengkritisi sang menteri tidak salah, namun jika kita sadar, sesungguhnya, pergantian kurikulum adalah bukti bekerjanya kekuatan tersembunyi rezim kapitalisme dan neoliberalisme dalam pendidikan kita. Pertanyaannya, bagaimana dua kekuatan ini bisa memengaruhi dunia pendidikan. Persis di situlah gugatan utamanya.

Dua kekuatan ini secara simultan memengaruhi dunia pendidikan karena para pemikir dan pegiat kapitalisme dan neoliberalisme sadar betul bahwa pendidikan adalah alat dan pusat transformasi yang paling ampuh di jagat ini.

Dengan menggenggam pendidikan berarti kapitalisme dan neoliberalisme telah memegang jantung peradaban. Memengaruhi dunia pendidikan dilakukan melalui substansi kurikulum. Maka, kita bisa melihat perubahan dan gonta-ganti kurikulum dilakukan seturut kemauan dan kepentingan dua rezim ini.

Yang pasti bahwa peserta didik dilatih menjadi manusia terampil di pasar kerja dengan tujuan akhir adalah akumulasi kapital. Uang akhirnya menjadi ukuran atau standar baku perkembangan dunia. Korupsi yang dilakukan oleh elit yang berpendidikan tinggi bisa dipahami di sini.

Dalam diri kapitalisme dan neoliberalisme, wajah pendidikan menjauh dari corak humanistik dan lebih cenderung bermuka pragmatis, teknis dan serba kalkulatif. Pendidikan nilai sebisa mungkin diabaikan karena pendidikan nilai dianggap dapat menghambat pertumbuhan ekonomi dan perkembangan kapitalisme.

Kurikulum seperti ini menghasilkan manusia-manusa teknis, pasif, dan robot yang siap dikontrol oleh sistem besar kapitalisme. Pendidikan nilai jangan tanya dulu, sebab telah dikubur dalam-dalam oleh mekanisme pasar.

Pendidikan akhirnya menjadi pasar tempat jual beli kursi, alat-alat laboratorium, buku, gengsi sampai status sosial.

Setiap manusia yang masuk di dalamnya dilatih untuk menjadi pelaku pasar dengan logika utama untung-rugi, laba vs defisit dan berbagai embel-embel ekonomisasi lainnya. Pendidikan teknis-ekonomis mendapat kepenuhan di sini.

Saatnya Berubah

Halaman
1234
Editor: Putra
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help