Opini Pos Kupang

Kampus, Kempis dan Koruptor

Penelikungan etika dan moral akademik sedang terjadi secara banal dan vulgar di republik ini. Nilai pencerahan seakan

Kampus, Kempis dan Koruptor
Shutterstock
ilustrasi 

Dalam Ethical Leadership And Decision Making In Education: Applying Theoretical Perspectives To Complex Dilemmas, Shapiro dan Stefkovich (2011) mengatakan bahwa ada dilema etis yang sangat kompleks di dunia pendidikan saat ini.

Baca: Ayahnya Sakit Kanker, Artis Drakor Winter Soneta, Park Yong Ha Memilih Bunuh Diri, Tragis!

Dilema tersebut muncul karena perkembangan dunia jauh lebih cepat daripada perkembangan aspek-aspek utama peradaban yang pendidikan menjadi salah satu variabel utamanya.

Implikasinya, pendidikan harus memilih antara mengabdi pada kebenaran etis atau menyembah nilai-nilai liberalisme. Persoalannya, menurut Shapiro dan Stefkovich, banyak orang melihat dan memandang etika dan moral sebagai sesuatu yang abstrak.
Mahasiswa di titik yang lain lebih suka membaca hal-hal yang nyata dan obyektif.

Akibatnya, materi-materi yang bersifat teknis laris manis sementara yang berisi abstraksi dibuang ke tempat sampah. Shapiro dan Stefkovich sebenarnya ingin menggugat sistem pendidikan yang mengedepankan pendidikan teknis dan mengabaikan pendidikan sosial humaniora.

Dalam bahasa yang agak berbeda, Shapiro dan Stefkovich ingin mengatakan bahwa pendidikan karakter itu penting. Sebab, di sana terkandung nilai-nilai dasar kemanusiaan.

Dalam penjelasan lain, Shapiro dan Stefkovich malah menganjurkan pendidikan etika dan filsafat di perguruan tinggi harus diberikan selama satu setengah tahun (tiga semester). Di sana, etika, nilai dan moralitas tidak saja dihafal di kelas tetapi sekaligus dipraktikkan minimal di lingkungan kampus.

Pendidikan Kita

Wacana pendidikan karakter harus didukung oleh semua elemen bangsa. Selanjutnya pendidikan karakter harus pula dimulai dengan mengubah karakter pendidikan kita. Mengubah karakter pendidikan berarti mengubah perlahan-lahan orientasi pendidikan kita.

Harus dipahami bahwa pendidikan kita saat ini lebih cenderung mengabdi kepada kekuatan liberalisme. Kapitalisasi pendidikan adalah contoh paling wahid bagaimana pendidikan kita diarahkan untuk kepentingan pragmatis rezim liberalisme. Kapitalisasi pendidikan tidak hanya dilihat dari mahalnya biaya pendidikan tetapi menusuk lebih dalam ke jantung pertahanan pendidikan yakni kurikulum.

Telah menjadi rahasia umum bahwa setiap pergantian rezim di negeri ini maka kurikulum pun berganti dengan sendirinya. Seolah-olah terdapat logika linear bahwa kurikulum adalah fungsi dari bergantinya Menteri Pendidikan.

Halaman
1234
Editor: Putra
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved