Berita Provinsi NTT

Anwar Pua Geno Prihatin Terbakarnya Kampung Gurusina di Ngada

Ketua DPRD NTT, Anwar Pua Geno, S.H prihatin, sedih dan turut berduka atas terbakarnya kampung adat megalitikum Gurusina di Kabupaten Ngada

Anwar Pua Geno Prihatin Terbakarnya Kampung Gurusina di Ngada
ISTIMEWA
Ketua DPRD NTT, Anwar Pua Geno

Laporan Reporter POS-KUPANG.COM, Kanis Jehola

POS-KUPANG.COM | KUPANG - Ketua DPRD Provinsi NTT, Anwar Pua Geno, S.H menyatakan sangat prihatin, sedih dan turut berduka atas terbakarnya kampung adat megalitikum Gurusina di Kabupaten Ngada, Senin (13/8/2018).

"Saya sangat prihatin, sedih dan turut berduka atas terbakarnya kampung adat megalitikum Gurusina di Kabupaten Ngada," kata Anwar kepada POS-KUPANG.COM melalui layanan WhatsApp (WA), Selasa (14/8/2018) pagi.

Anwar meminta aparat hukum dan pemerintah daerah segera mengadakan penyelidikan tuntas sebab-sebab terbakarnya kampung adat ini.

Baca: Presiden Jokowi Memperkenalkan Teknologi Rumah Sehat Tahan Gempa

"Ambil tindakan hukum yang tegas apabila ada indikasi tindak pidana karena kampung adat ini simbol ritual adat dan budaya serta persatuan masyarakat," katanya.

Pemerintah daerah, kata Anwar, juga diminta segera mengambil langkah-langkah persiapan untuk rehabiitasi dan pembangunan kembali kampung adat ini ke depan.

Sebelumnya diberitakan, Kampung Adat Gurusina di Desa Watumanu, Kecamatan Jerebu'u Kabupaten Ngada terbakar, Senin (13/8/2018) pukul 17.00 Wita.

Api menghanguskan 27 rumah dari total 33 unit rumah adat. Tidak ada korban jiwa dalam peristiwa kebakaran hebat itu.

Tokoh adat Desa Watumanu, Paulus Suri (55) menjelaskan warga kaget dan panik karena api begitu cepat melalap rumah adat.

"Kami kaget karena tiba-tiba dengar bunyi bambu. Teriak warga itu masih satu rumah yang terbakar, tepat di pintu masuk di bagian kiri masuk kampung Gurisina. Kami langsung lari saat itu dan melihat api persis di bubungan rumah beratap alang-alang," ujar Paulus.

Saat kejadian banyak warga yang masih berada di kebun sehingga tidak sempat menyelamatkan barang-barang. Warga sempat mencari air dan mencoba untuk memadamkan api saat itu tapi tidak berhasil.

"Beberapa orang menyelamatkan satu rumah yang dihuni oleh orangtua yang tidak bisa sendiri ke luar rumah. Jarak antara rumah itu hanya tiga meter saja. Api begitu cepat merambat ke rumah lain karena saat itu juga angin begitu kencang," tutur Paulus.

"Saat itu kami selamatkan manusia saja. Karena memang kesulitan sekali mau selamatkan barang-barang. Tidak ada korban jiwa saat ini," tambahnya.

Paulus mengatakan, semua barang warisan adat ludes. Yang selamat hanya yang ada di enam unit rumah di bagian utara.

"Harta benda di dalam rumah adat tidak ada yang diselamatkan. Kami hilang akal," ujar Paulus yang mengaku rumahnya juga ikut dimakan si jago merah. (*)

Penulis: Kanis Jehola
Editor: Kanis Jehola
Sumber: Pos Kupang
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help