Berita Nasional

PPP Klaim Program Pengentasan Kemiskinan Jokowi Lebih Baik daripada SBY

Sekjen PPP, Arsul Sani mengklaim program pengentasan kemiskinan di era Presiden Joko Widodo lebih baik ketimbang di era pemerintahan SBY.

PPP Klaim Program Pengentasan Kemiskinan Jokowi Lebih Baik daripada SBY
KOMPAS.com/MAULANA MAHARDHIKA
Presiden Joko Widodo menyapa para pendukungnya usai mendaftar sebagai calon presiden di Kantor KPU, Jakarta, Jumat (10/8/2018). 

POS-KUPANG.COM | JAKARTA - Sekjen PPP, Arsul Sani mengklaim program pengentasan kemiskinan di era Presiden Joko Widodo lebih baik ketimbang di era pemerintahan Susilo Bambang Yudhoyono (SBY).

Hal itu disampaikan Arsul di sela pelatihan juru bicara tim kampanye nasional pasangan bakal capres dan cawapres Jokowi-Ma'ruf Amin di Hotel Oria, Menteng, Jakarta, Senin (13/8/2018).

"Cara Pak Jokowi katakanlah memperhatikan kesejahteraan kaum miskin, itu kan berbeda dengan Pak SBY. Kalau dulu Pak SBY, begitu mau pemilu, kurang dari setahun, dia dengan BLT. Bantuan Langsung Tunai. Yang itu nilainya paling berapa sih? Rp 100 ribu - Rp 200 ribu," kata Arsul.

Baca: Anggota DPRD Nagekeo Soroti Kasus Kekerasan Terhadap Calon TKW asal Nagekeo

Sementara itu, di era Jokowi, Arsul menilai, program pengentasan kemiskinan yang dinamai Program Keluarga Harapan (PKH) jauh lebih baik dari jumlah uang yang didapatkan, jangka waktu, dan proses pencairan.

Di era SBY, lanjut Arsul, BLT dicairkan dengan cara mengantre sehingga menimbulkan kehebohan dan program tersebut digagas saat mendekati pemilu.

Sedangkan PKH digagas sejak awal Jokowi berkuasa dan dengan nominal lebih besar serta pencairannya tak perlu mengantre panjang karena dicairkan di bank dan kantor pos terdekat.

"Jangan menimbulkan kesan bahwa zaman pemerintahan Pak SBY itu lah perhatian terhadap kelompok masyarakat kita yang masih tergolong dalam kemiskinan itu seolah lebih wah, lebih heboh. Yang kaya begini kan yang harus dijelaskan," lanjut Arsul. (*)

Editor: Kanis Jehola
Sumber: Kompas.com
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help