Berita Kabupaten Ngada
Ini yang Dilakukan PKK Wolomeze Menyongsong HUT ke-73 RI
Memeriahkan Hari Ulang Tahun (HUT) RI ke -73 PKK Kecamatan Wolomeze menggelar aneka kegiatan.
Penulis: Gordi Donofan | Editor: Kanis Jehola
Laporan Reporter POS-KUPANG.COM, Gordi Donofan
POS-KUPANG.COM | BAJAWA -- Memeriahkan Hari Ulang Tahun (HUT) RI ke -73 PKK Kecamatan Wolomeze menggelar aneka kegiatan.
Kegiatan kali ini yaitu Jambore tingkat Kecamatan Wolomeze. Rupanya PPK di Kecamatan ini tidak pernah sepi kegiatan.
Hampir setiap tahun rutin gelar kegiatan. Sedangkan kegiatan Jambore baru pertama kali dilaksanakan.
Baca: Ini Pengakuan Tiga Pelajar SMPK Sint Vianney SoE Setelah Ikut Perlombaan Opsi Tingkat Nasional
Saat ini mereka menggelar Jambore PKK tingkat kecamatan sekaligus menyambut dan meriahkan hari kemerdekaan RI ke-73.
Jambore PKK tingkat Kecamatan Wolomeze dibuka oleh Camat Wolomeze Kasmin Belo, sekaligus sebagai tanda dimulainya berbagai pertandingan dan perlombaan menyambut HUT RI ke-73 yang dipusatkan di Desa Wue, Sabtu (11/8/2018).
Sebelum menggelar Jambore tingkat kecamatan, beberapa desa menggelarnya di tingkat desa, di antaranya Desa Nginamanu dan Desa Mainai.
Jambore yang dirangkaikan dengan perayaan HUT RI ke-73 berlagsung hingga tanggal 17 Agustus mendatang pada perayaan HUT RI tahun ini.
Pada Jambore ini PKK menyelenggarakan sejumlah lomba yang melibatkan ibu-ibu PKK dari tujuh desa, antara lain: desa Turaloa, desa Mainai, desa Denatana Timur, desa Nginamanu Selatan, desa Nginamanu, desa Wue dan desa Denatana.
Ketua Tim Penggerakan PKK Kecamatan Wolomeze, Ny. Nurhayat S. Belo, saat meninjau sejumlah stan pameran mengatakan, berbagai jenis lomba digelar dalam jambore ini, diantaranya lomba stan pameran, lomba penyuluhan, lomba cerita rakyat.
Ia mengatakan, melalui Jambore ini, setiap peserta dari masing-masing desa menampilkan berbagai hasil kerja PKK yang dikemas dalam kegiatan pameran.
"Di masing-masing stand, ibu-ibu PKK dari desa-desa memamerkan berbagai produk kerajinan tangan, seperti anyaman dari bahan bambu, olahan pangan lokal yang menghasilkan berbagai jenis penganan, dan karya kerajinan lain," jelas Nurhayat.
Nurhayat mengatakan, kegiatan ini sekaligus ingin mendapatkan konfirmasi potensi-potensi yang dimiliki di masing-masing desa.
Selain itu, merangsang ibu-ibu untuk kembali mengangkat berbagai jenis kerajinan tangan tradisional seperti tikar dan bere yang era ini sudah ditinggalkan oleh generasi muda.
Kegiatan ini juga mendorong ibu-ibu di rumah tangga supaya mulai memanfaatkan pangan lokal sehingga dapat meningkatkan ketahanan pangan rumah tangga, dengan jenis pangan non beras.