Opini Pos Kupang

Pastor yang Berteater vs Umat Kritikus

Pater Yohan Wadu, SVD adalah seorang pastor yang berteater. Tungku Haram merupakan judul keenam jika dilihat dari Allah

Pastor yang Berteater vs Umat Kritikus
ilustrasi

Kalau mau dibilang secara jujur, banyak yang mengkritik pementasan Tungku Haram sejak pertama kali di Ende (10 November 2017), di Labuan Bajo (14 April 2018) dan Kupang (27 Juli 2018). Kritikan diikuti apresiasi.

Kritikan muncul karena seni teater tidak bebas kritik dan apresiasi datang karena sebuah pementasan yang berbeda, unik, dan khas.

Betapa banyak penulis karya sastra dan seniman pegiat teater yang mengabadikan hampir sebagian besar hidupnya untuk kegiatan menulis dan teater: menulis puisi, cerpen, novel, menulis naskah teater dan mementaskannya, bahkan terlibat intens dalam kegiatan diskusi, perlombaan, menjadi juri dari satu kota ke kota lain, membawakan makalah kritik sastra dalam berbagai level.

Tetapi karya mereka di hadapan pembaca pada umumnya jadi biasa-biasa saja. Sementara, ada segelintir penulis dan seniman teater yang belum terdengar namanya, seketika menggemparkan jagat buku dan teater di Indonesia.

Jika J.K. Rowling dengan aliran sastra fantasinya tiba-tiba melejit namanya karena Harry Potter, maka Yohan Wadu bukan siapa-siapa. Beliau pastor yang berteater dan ditampar dengan kritikan yang manis serentak pedas. Namun, ini adalah sebuah dinamika berteater yang diinginkan oleh beliau. Mengapa demikian?

Dalam konteks umat atau masyarakat NTT, pastor yang berteater itu jarang. Kalau Romo Mangun tampak begitu mencintai pinggiran Kali Kode dan menulis roman terkenal, maka Yohan Wadu sangat mencintai teater dan berani mementaskan ini dengan membaca berbagai konskuensi yang bakal terjadi.

Maka, ketika kritikan datang dari banyak kalangan penikmat teater, seniman pegiat teater, dan bahkan umat atau masyarakat, maka ini merupakan realitas murni yang menampilkan interaksi sosial religius dari altar ke pasar.

Altar ke Pasar

Pastor berhadapan dengan umat pengkritik adalah sebuah ruang perjumpaan yang natural dan tidak bisa disangkal. Hemat saya, ini normal karena seni memberikan pesan moral dan membawa misi kemanusiaan yang luas dan tanggung jawab moral yang besar.

Apalagi Kelompok Teater Evergrande Syuradikara memilih anak-anak SMAK Swasta Katolik Syuradikara dan SMK Syuradikara sebagai subyek yang memerankan penokohan dalam setiap adegan Tungku Haram ini.

Halaman
1234
Editor: Putra
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help