Berita Manggarai Timur

Komodo Bersarang di Goa-goa Batu Pesisir Pantai Watu Payung Flores

Kawasan hutan di pesisir Pantai Watu Payung, di Pota, Kecamatan Sambirampas, Manggarai Timur, menjadi tempat bersembunyinya komodo flores.

Komodo Bersarang di Goa-goa Batu Pesisir Pantai Watu Payung Flores
ARSIP YAYASAN KOMODO SURVIVAL PROGRAM (KSP) INDONESIA
Penyelamatan komodo yang ditangkap warga di Pulau Flores, NTT. 

POS-KUPANG.COM | BORONG - Kawasan hutan di pesisir Pantai Watu Payung, di Pota, Kecamatan Sambirampas, Kabupaten Manggarai Timur, Flores, Nusa Tenggara Timur (NTT), menjadi tempat bersembunyinya komodo flores.

Goa-goa dalam batu raksasa di kawasan hutan pesisir pantai itu menjadi tempat bersarang komodo flores. Biasanya warga dan nelayan setempat sering melihat komodo berjemur di pantai saat matahari terbit.

Jejak-jejak kaki di pasir di Pantai Watu Payung sering dilihat oleh warga setempat. Selain itu warga juga sering melihat binatang purba itu menyeberangi jalan negara Transutara Maumere-Labuan Bajo.

Baca: Cerita Pencarian TKI di Yordania Setelah Hilang 13 Tahun, Simak Beritanya

Setelah kita disuguhkan informasi penyebaran terbatas komodo flores dari Pulau Ontoloe dan kawasan barat dan Utara, selatan dari Pulau Flores, kini kita disegarkan kembali dengan informasi komodo flores yang hidup dan tinggal di kawasan hutan di Pota, Kecamatan Sambirampas, Manggarai Timur.

Beberapa tahun lalu, komodo flores yang hidup dan tinggal di kawasan itu ditangkap warga dan sempat dibawa ke Pantai Cepi Watu untuk dipromosikan oleh pemerintah setempat.

Namun, langkah itu menuai kritikan tajam dari berbagai kalangan dan pemerhati binatang langka itu sehingga akhirnya pemerintah setempat mengembalikannya ke habitat aslinya di kawasan Pota.

Informasi awal dari kehidupan naga purba di kawasan hutan Pota diperoleh dari warga setempat sehingga seorang peneliti binatang dari AS melakukan penelitian tentang keberadaan binatang itu. Terbukti bahwa komodo flores ada di kawasan hutan tersebut.

Almarhum Rofinus Kant, mantan jurnalis pernah mendampingi peneliti AS. Saat itu mereka memancing komodo dari persembunyian dengan daging kambing yang digantung di sebuah kayu di sekitar tempat persembunyian. Alhasil, komodo itu keluar dari sarangnya dan makan daging kambing tersebut.

Beberapa tahun berikutnya, warga setempat menangkap komodo karena memakan ternak milik warga sekitar perkampungan di Pota.

Menelusuri informasi itu, para pemburu berita dari media nasional dan lokal sering mengadakan liputan khusus tentang keberadaan komodo flores di Pota. Bahkan, beberapa tahun lalu, media massa pernah mengadakan field trip ke kawasan Pota untuk meliputan berbagai keunikan-keunikan alam semesta di kawasan itu, mulai dari pantai terpanjang Watu Payung sampai di Pantai Lok, Bukit Cinta Pota serta sejumlah obyek wisata yang unik di kawasan itu.

Selain pantai pasir putih, ada juga hamparan persawahan yang sangat luas di Pota, di mana media-media nasional dan lokal sudah berkali-kali mempublikasikan obyek wisata di kawasan itu.

Alhasil, agen-agen perjalanan wisata di Pulau Flores menjual paket perjalanana wisata ke kawasan Pota dan sekitarnya. Bahkan danau teratai terbesar kedua di dunia ada di Pota.

Berbagai informasi tentang keberadaan komodo flores di Pota, mulai dari hasil penelitian sampai pemberitaan di media direkam oleh Peneliti Komodo Survival Program (KSP) bekerja sama dengan Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) NTT untuk melakukan penelitian tentang keberadaan komodo flores di Pota.

Beberapa kali penelitian dilakukan tentang keberadaan dan penyebaran binatang langka ini dengan memasang kamera pengintai di beberapa tempat. Hasilnya membuktikan keberadaan komodo flores di kawasan tersebut. (*)

Editor: Kanis Jehola
Sumber: Kompas.com
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help