Opini Pos Kupang

Sekolah, Solidaritas dan Kecerdasan

Menggagas sekolah bermutu tetap harus diperjuangkan, sedikit demi sedikit, untuk sebuah pembaharuan dan

Sekolah, Solidaritas dan Kecerdasan
Ilustrasi

Kita susah keluar dari lingkaran maut ini, justru ketika sedang dihantam oleh sejumlah stigma yang tidak sedap: Provinsi terkorup dan terkebelakang dalam pencapaian mutu pendidikan nasional. Sanggupkah kita membenah sektor pendidikan dengan lebih serius dalam konteks masyarakat seperti ini?

Baca: Ayahnya Sakit Kanker, Artis Drakor Winter Soneta, Park Yong Ha Memilih Bunuh Diri, Tragis!

Ketika sekolah-sekolah di Provinsi lain sudah bergerak sangat maju, bahkan sampai pada tingkat penerapan high level, kita masih terbelenggu oleh sarana prasarana yang jauh dari harapan, mentalitas pendidik yang tidak tekun dan disiplin serta birokrasi yang koruptif.

Dalam proses dialektika berpikir tentang menggagas sekolah bermutu, beriman dan berkarakter, dibutuhkan upaya pencerdasan yang seimbang, agar tidak hanya menjadi privilese sekolah-sekolah yang boleh disebut sebagai sekolah primadona atau favorit.

Ada tiga hal penting yang bisa digarisbawahi. Pertama, identifikasi persoalan yang menjadi kegelisahan publik ketika idealisme kecerdasan hendaknya menjadi milik banyak orang, termasuk orang miskin.

Kedua, konsep marginalisasi orang miskin di sekolah bermutu berdasarkan pandangan para pemerhati pendidikan. Sebagai peserta Lokakarya Nasional Pendidikan di Ende pada tahun 2016, saya merasa terinspirasi oleh gagasan Ketua MNPK tentang pentingnya peradaban cinta kasih dalam Lembaga Pendidikan Katolik.

Pastor Darmin mengutip beberapa ide pokok dari Eko Prasetyo dalam buku yang berjudul Orang Miskin dilarang Sekolah ( 2004) dengan mengklaim sebuah istilah yang sangat mengerikan: kanibalisasi dunia pendidikan.

Ketiga, introspeksi segenap komponen pendidikan agar bisa menjadi lebih bermutu, tanpa terjebak dalam sikap menyalahkan institusi mana pun. Ada gagasan restorasi dalam dunia pendidikan, ketika untuk meningkatkan mutu pendidikan bukan hanya tugas institusi agama.

Sekolah negeri pun harus bisa membenah diri untuk menghasilkan sekolah yang lebih bermutu sebagaimana diperjuangkan sekolah swasta. Apa yang bisa diharapkan dari sikap guru yang tidak mau mengembangkan kemampuan dirinya, merasa berpuas diri dengan kesejahteraan dan sertifikasi yang ada dan mengabaikan unsur profesionalitas dalam kinerjanya.

Ketika orang sangat mengagungkan sekolah-sekolah favorit dan primadona seperti seminari dan sekolah Katolik tua lainnya, perasaan kemanusiaan kita pun kemudian dihentakkan pada tuntutan belarasa dan solidaritas untuk melahirkan dan membimbing generasi muda yang beriman, cerdas dan berkarakater.

Paus Fransiskus dalam surat apostoliknya Evangelii Gaudium (EG) menyerukan perutusan kemanusiaan Gereja dengan pintu terbuka di tengah dunia yang dilanda globalisasi ketidakpedulian.

Halaman
123
Editor: Putra
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help