Berita Kota Kupang

PMKRI Cabang Kupang Gelar Seminar Kebangsaan

PMKRI Cabang Kupang, Santo Fransiskus Xaverius menggelar Seminar Kebangsaan. Seminar di Aula Universitas Katolik Widiya Mandira ui Kupang

PMKRI Cabang Kupang Gelar Seminar Kebangsaan
pos kupang.com/tomy mbenu nulangi
Perhimpunan Mahasiswa Katolik Republik Indonesia (PMKRI) Cabang Kupang, Santo Fransiskus Xaverius menggelar Seminar Kebangsaan di Aula Universitas Katolik Widiya Mandira Kupang, Jumat (10/8/2018). 

Laporan Reporter POS-KUPANG.COM, Tommy Mbenu Nulangi

POS-KUPANG.COM | KUPANG-Perhimpunan Mahasiswa Katolik Republik Indonesia (PMKRI) Cabang Kupang, Santo Fransiskus Xaverius menggelar Seminar Kebangsaan. Seminar berlangsung di Aula Kampus Universitas Katolik Widiya Mandira (Unwira) Kupang, Jumat (10/8/2018).

Seminar kebangsaan tersebut mengangkat tema “ Meneguhkan Kembali Semangat Kita Indonesia". Seminar menghadirkan sejumlah pemateri di antaranya Rektor Unwira Kupang, Pater Dr. Philipus Tule, Sekretaris Jenderal Pengurus Pusat PMKRI Thomson S. Silalahi,  Pdt. Niko Lumba Kaana dari Sinode GMIT dan Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) NTT, H.  Abdul Kadir Makarim.

Rektor Unwira Kupang, Pater Dr. Philipus Tule dalam materinya mengatakan, sebagai sebuah bangsa, seluruh masyarakat termasuk kaum muda yang terpelajar harus sama-sama menentang kelompok radikalisme yang ingin mengantikan dasar negara Pancasila dengan tetap setia dan komitmen terhadap NKRI.

Menurut Pater Philipus, yang harus dilakukan oleh masyarakat Indonesia dalam menangkal kaum radikalisme yaitu dengan dua instrumen.

Pertama dengan intrumen agama, artinya semua umat beragama harus dapat menggunakan kekuatan agama untuk menangkal radikalisme dengan mengetahui pengertian agama serta menghayati dengan baik agamanya.

“ Mahasiswa Katolik harus mengerti agamanya, dan menghayati agamanya sendiri. Kalau tidak gampang sekali dirasuki oleh ideologi lain, atau gerakan-gerakan radikalisme lainnya. Mahasiswa harus kuat pengetahuan tentang agamanya sehingga tidak terombang-ambing,” ungkap Pater Philipus.

Pater Philipus menjelaskan, umat beragama harus menghayati agama secara benar dengan membangun sikap-sikap agama yang inklusif. Hal itu dilakukan untuk dapat merangkul orang yang beragama lain.

“ Agama kita mempunyai nilai, nilai lintas agama sesuai dengan teologi katolik bahwa di luar gereja ada keselamatan,” kata Pater Philipus.

Kedua, tambah Pater Philipus, adalah instrumen kebudayaan. Menurutnya, kebudayaan di NTT itu sangat banyak dan yang paling luar biasa adalah keberadaan ruma adat aturannya masing-masing. Namun ada rumah kebudayaan yang menunjukan nilai adat dan budaya sebagi pemersatu pemersatu.

Halaman
12
Penulis: Thomas Mbenu Nulangi
Editor: Ferry Ndoen
Sumber: Pos Kupang
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help