Opini Pos Kupang

Malaka dan Tradisi Dokumentasi

Begitulah, Kabupaten Malaka. Sebuah kabupaten berusia belum terlalu lama. Pada status kabupaten, wilayah ini terberi

Malaka dan Tradisi Dokumentasi
ilustrasi

Berbicara tentang kaum klerus, banyak juga. Profesional di berbagai bidang jelas tersebar di mana-mana. Intinya, kualitas manusia Malaka adalah profil serpihan bintang-bintang intelektual yang tersebar di berbagai bidang dan tempat, lahir dari rahim tanah penuh celaka.

Sayangnya, dalam politik, maaf harus dikatakan. Manusia Malaka, terkesan tak kompak. Dalam urusan representasi politik elektoral di tingkat nasional, sebagai misal, manusia Malaka selalu kalah pamer, meski mereka punya pamor.

Karena itu ada semacam ironi. Meski banyak manusia pandai dari Malaka, tetapi nihil spirit solidaritas perutusan. Mengutus putra terbaik masuk Senayan, hanya semacam bayang-bayang yang terus melayang nun jauh tak terpandang. Apakah gejala ini muncul karena ada semacam "kebiasaan" tersembunyi, bahwa banyak manusia pandai di situ selalu ada kompetisi tersembunyi di dalamnya yang saling meniadakan?

Apakah juga di mana banyak manusia cerdas, justru di situ mereka tak saling mendorong, tak terorganisir, malah berkompetisi saling menghancurkan? Entahlah! Para sosiolog lebih pantas menerangkan dengan baik.

Faktanya, hingga hari ini, tak ada wakil rakyat masuk Senayan dari Malaka. Yang dipilih justru selalu orang salah yang silih lewat di situ. Lebih menyedihkan, dan tentu saja mengharukan, kemampuan intelektual aktor yang dipilih justru jauh di bawah anak-anak Malaka. Ini sejenis kecelakaan dan tentu saja petaka.

Baca: Pemkab Malaka Genjot Promosi Pariwisata

Namun, setelah lepas dari Kabupaten Belu, Malaka berjalan sendiri. Semua realitas politik Kabupaten Belu dibaca sebagai sejarah.

Kini Malaka kabupaten baru, dan baru mencatatkan diri daerah otonom baru yang baru memulai pembangunan di sana di bawah kendali Dokter Stef Bria Seran, Bupati Perdana dan Wakil Bupati Daniel Asa (alm). Jejak politik Dokter Stef Bria Seran,MPH, dapat ditelusuri sejak masa kecil di tepi sungai Benanain hingga kini menjadi bupati perdana Malaka.

Dia anak kepala desa. Ibunya disiplin, fokus, tetapi menyelimuti anak-anaknya dengan tenunan petuah bermakna sebagai via ticum perjalanan nasib mereka masing-masing. Ayah mereka dikenal sebagai pemimpin yang menjalankan roda kepemimpinannya sangat keras.

Mimpi tunggalnya, pembebasan rakyatnya. Konon ayah keluarga Bria ini, tak tanggung-tanggung menggunakan tangan besi. Khas pemimpin zaman lama.

Satu-satunya optio fundamentalis sang ayah ialah membawa bani rakyat kampungnya keluar dari derita. Dia sendiri lalu beri contoh. Dia mengharuskan anak-anaknya pergi sekolah.

Halaman
1234
Editor: Putra
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help