Berita Kabupaten TTS

Diperdaya Paman Sendiri, Gadis 14 Tahun Asal TTS Jadi Korban Trafficking

Mardyana Sonlay (16) warga Desa Sebot, Kecamatan Mollo Utara menjadi korban tindak pidana human trafficking di Batam.

Diperdaya Paman Sendiri, Gadis 14 Tahun Asal TTS Jadi Korban Trafficking
surya/haorrahman
Ilustrasi korban human trafficking 

Laporan Reporter POS-KUPANG.COM, Dion Kota

POS-KUPANG.COM | SOE - Mardyana Sonlay (16) warga Desa Sebot, Kecamatan Mollo Utara menjadi korban tindak pidana human trafficking yang dipekerjakan di Batam.

Mirisnya, Mardyana menjadi korban dari paman sendiri, Paulus Baun alias Ambros yang membujuk korban agar mau dibawa ke Batam.

Romo Chrisanctus Paschalis Saturnus yang melakukan pendampingan kepada korban menceritakan, kisah malang yang dialami korban bermula ketika Paulus Baun datang bertamu ke rumah korban di Desa Sebot pada 24 Februari 2016 lalu.

Baca: Rusia Hancurkan 26.000 Ton Produk yang Diimpor dari Negara Barat

Baca: Siapa Cawapres Jokowi dan Prabowo? Inisial M Cawapres Jokowi, dan A Cawapres Prabowo

Baca: Ini Perbedaan Besar Harta Kekayaan Jokowi dan Prabowo yang Bakal Bertarung dalam Pileg 2019 Nanti

Kepada orangtua korban, Paulus mengutarakan niatnya untuk membawa korban yang saat itu masih berusia 14 tahun ke Batam dengan maksud untuk menjaga anaknya yang masih kecil.

Karena percaya dengan pelaku yang masih berstatus keluarga sendiri, orang tua korban pun memberikan ijin kepada korban untuk ikut ke Batam.

Namun sayangnya, sesampainya di Batam, Pelaku bukan membawa korban ke rumahnya, tetapi dibawa ke PT Tugas Mulia selaku penyalur tenaga kerja lokal untuk dipekerjakan sebagai pembantu rumah tangga.

"Paman korban sendirilah yang berperan sebagai perekrut korban. Pelaku menipu orang tua korban untuk bisa membawa korban keluar dari TTS. Sesampainya di Batam, oleh PT Tugas Mulia, korban dipekerjakan sebagai pembantu rumah tangga di rumah milik Yuliana Fitri Wijaya selama dua tahun lebih," ungkap Romo Chrisanctus.

Selama dua tahun bekerja sebagai asisten rumah tangga, lanjut Romo Chrisanctus, korban tidak pernah menikmati gajinya. Tidak hanya itu, korban pun tidak dapat berkomunikasi dengan keluarganya di Kabupaten TTS.

"Tahun pertama, korban digaji 1,5 juta per bulan. Sedangkan tahun kedua, korban digaji 1,6 juta perbulan. Semua gaji korban langsung disetor oleh majikan korban kepada PT Tugas Mulia selaku penyalur tenaga kerja. Korban sama sekali tidak mendapatkan haknya. Selain itu, selama 1,6 tahun berada di Batam, korban tidak bisa menghubungi keluarganya yang berada di TTS karena dilarang oleh pamannya," ujarnya.

Halaman
1234
Penulis: Dion Kota
Editor: Kanis Jehola
Sumber: Pos Kupang
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved