Berita Edisi Minggu

Heinrich Dominggus Dengi : Ingin Petani Sukses

Ia bermimpi suatu saat para petani di Sumba Timur akan sukses di bidang pertanian, meski daerah ini tergolong kering.

Heinrich Dominggus Dengi : Ingin Petani Sukses
ISTIMEWA

Laporan Reporter POS-KUPANG.COM, Robert Ropo

POS-KUPANG.COM|KUPANG - Punya keinginan dan niat yang tulus untuk membangun masyarakat khususnya para petani di tanah kelahiranya di Kabupaten Sumba Timur.

Ia bermimpi agar suatu saat nanti para petani khususnya di Sumba Timur akan sukses di bidang pertanian, meski daerah ini tergolong kering. Itulah yang tertanam dalam diri Heinrich Dominggus Dengi, S.Si.,Apt.

Baginya, uang akan datang dengan sendirinya kalau kita mulai bekerja keras, banyak belajar, dan tak lupa berdoa, sebab melalui kerja keras, banyak belajar dan berdoa pasti apa yang diimpikan itu terjawab.

Baca: Polisi dan Anggota KKB Terlibat Baku Tembak di Puncak Jaya

Bermula dari kisah hidup yang benar-benar mulai dari nol, namun punya keingian dan tekad yang kuat ahirnya kini sukses mendirikan stasiun swasta Radio Max FM Waingapu dan juga memiliki Yayasan Komunitas Radio Max Waingapu.
Yayasan Komunitas Radio Max Waingapu tersebut bergerak di bidang pertanian organik.

Bagaimana dan apa saja motivasinya untuk membuka Yayasan Komunitas Radio Max Waingapu.

Ikuti wawancara Wartawan Pos Kupang, Robertus Ropo, dengan Heinrich Dominggus Dengi, S.Si, Apt, di Studio Radio Max FM Waingapu.

Baca: Politisi Gerindra Sebut Anies Baswedan Masih Masuk Daftar Cawapres Prabowo

Anda punya mimpi agar para petani di Sumba Timur sukses. Tetapi Anda punya pendidikan di bidang farmasi dan apoteker. Bagaimana petani itu berhasil?
Ya saya melakukan ini memulai dari perjalanan hidup, saya memang mengantongi sarjana farmasi kemudian ambil keahlian apoteker di Universitas Airlangga Surabaya. Saya juga pernah bekerja jadi apoteker di Sidoarjo Jawa Timur. Setelah pulang ke Sumba Timur kerja di rumah sakit Kristen Lindimara dan juga pegawai kontrak serta pernah bekerja jadi Dosen di Akademi Keperawatan di Sumba Timur. Namu karena ada niat yang kuat dan banyak belajar dari teman-teman yang memiliki keahlian di bidang pertanian khususnya di pertanian organik. Saat itu saya juga sudah punya Radio Swasta Max FM Waingapu.

Anda sudah memiliki Radio sendiri, Tetap juga anda ingin membuka yayasan itu.
Ya karena saya pikir radio inikan siarannya bermacam-macam ada kesehatan, pendidikan dan juga salah satunya radio juga bergerak di bidang pertanian, tapi saya tidak mau masyarakat itu hanya mendengar teori dari pertanian yang baik, tetapi harus punya aksi nyata atau praktik nyata di lapangan bagi para petani. Awalnya saya tidak tahu apa-apa tentang pertanian apalagi di bidang organik, sehingga atas dukungan dari teman-teman, akhirnya saya belajar dari teman-teman yang punya pengalaman. Akhirnya saya melihat ternyata kita juga bisa berperan juga.
Sehingga saya berpikir sudah ada radio, kita juga buka yayasan kecil dengan nama Yayasan Komunitas Radio Max Waingapu.

Baik, Anda sudah punya pengalaman di bidang pertanian organik karena belajar dari teman-teman anda. Apa saja yang anda lakukan kepada para petani melalui yayasan itu?
Melalui Yayasan ini, kemudian kita juga lansung membimbing para petani di bidang pertanian organik, seperti bagamana cara menanam sayur yang baik, membuat pupuk sendiri dari bahan alamia dan juga membuat obat pestisida buatan petani sendiri.
Jadi dengan harapan petani itu bisa mandiri dengan sendiri tanam sayur yang baik, juga bisa buat pupuk sendiri dan buat obat pestisida itu sendiri, tanpa harus membelinya yang harus mengeluarkan uang lagi.
Contohnya begini, misalnya petani A atau kelompok petani A membudidayakan tanaman sayur tapi tidak tahu membuat pupuk cair organik sendiri, begitu juga dengan pestisida, sehingga terpaksa dia harus ke kota lagi dengan menggunakan biaya transportasi yang tinggi dan juga biaya pembelian obat dan pupuk.Jadi pengeluaran biaya dua kali lipat.
Kalau petani sudah bisa mandiri, maka dia tidak membutuhkan biaya yang begitu besar lagi, tapi dengan memanfaatkan bahan alamia berupa dedauan yang ada dia sudah bisa menciptakan pupuk atau obat pestisida itu sendiri.

Baca: Hangzhou China Memperkenalkan Logo Asian Games 2022. Ini Bentuknya

Sejauh ini, apakah sudah ada petani yang Anda bimbing untuk mandiri?
Ya yayasan kita baru berdiri tahun 2015 namun karena dukungan dari para petani dan Tuhan, kini kita sudah membimbing sekitar 20 lebih kelompok tani. Dan masing-masing kelompok tani beranggotakan sekitar minimal 20 orang. Kalau kita rata-ratakan ya sudah ratusan lebih petani yang yayasan kita bimbing.
Sebanyak 20 lebih kelompok tani ini, menyebar dan bukan hanya di Sumba Timur tetapi sudah sampai Sumba Barat. Pemerintah sangat mendukung ini.

Sumba Timur merupakan daerah kering hanya dengan padang savana dan batu karang. Tapi Anda punya niat harus tanam sayuran organik, bagaimana anda melakukannya?
Awalnya saya melihat ada potensi di Sumba Timur banyak lahan tidur di bantaran sungai yang tidak pernah digunakan para petani.
Selama ini warga sebagai petani hanya menanam jagung dan padi saat musim hujan, setelah itu saat musim kering daerah di bantaran sungai tidak digunakan padahal potensi airnya berlimpah. Di Australian itu, ada daerah keringnya seperti kita di Sumba ini, mungkin juga kita lebih baik, tapi mereka bisa panen sayur yang begitu berlimpah dan kualitas sayur sangat baik, padahal di tengah musim kering. Saat saya belajar baik teori maupun praktik di lapangan bertemu lansung para petani dan para ahli di bidang pertanian organik pada awal tahun 2017. Saya tinggal selama satu bulan di Brisbane Australia dan Belajar tentang pertanian lahan kering di The University of Queensland Australia. Saya tergerak hati. Dalam hati saya katakan kita di Sumba Timur juga pasti bisa, kita punya air melimpah. Sehingga saya pulang saya ingin terapkan ilmu itu di Sumba Timur.
Memang ada masyarakat yang tidak seberapa membudidayakan tanaman sayuran organik, tetapi susah sekali memperoleh air. Mereka harus menggunakan tenaga atau gunakan mesin pompa air, harus menggunakan BBM.
Ini pemborosan uang petani, maka kita manfaatkan teknologi jaman sekarang yakni penggerak air dengan menggunakan tenaga surya, tenaga mata hari dan yayasan kami dengan menggunakan pompa barsha.
Pompa barsha ini produknya dari Aqysta Belanda dan pompa barsha ini memompa air hanya dengan menggunakan tenaga arus air tanpa menggunakan BBM fosil. Hasil pompa air ini juga bisa memompa air 30 ribu liter perhari.
Kita juga membimbing para petani yang punya lahan di pinggiran sungai atau daerah aliran sungai (DAS) untuk menanam sayuran dan bawang.

Baca: Sejarawan Solo Sebut Cucu Jokowi Mengingatkannya pada Seniman Jawa

Apakah dari para kelompok petani yang Anda bimbing itu, sudah ada yang berhasil dan mandiri seperti Anda inginkan?
Semua kelompok yang kita bimbing itu hampir semuanya sudah mandiri untuk tanam sayur sendiri, buat pupuk sendiri dan buat pestisida sendiri. Kita hanya bimbing di tanam sayur pertama saja begitu juga buat pupuk sendiri dan peptisidanya.
Kita hanya sistem kontrol saja setelah itu, apalagi pompa barsha. Pompa barsha itu kita sewahkan kepada para kelompok tani tersebut. Hal ini kita lakukan dengan tujuan para petani itu punya tanggung jawab untuk terus bekerja untuk membudidayakan tanaman sayur untuk jual, ya hasilnya ini demi meningkatkan pendapatan ekonomi rumah tangga mereka dan juga stok sayuran untuk kebutuhan masyarakat di Kabupaten Sumba Timur tersediah cukup,
tanpa harus impor sayur dari daerah lainya.

Bagaimana perasaan Anda melihat para petani yang anda bimbing itu bisa mandiri dan berhasil?
Kita cukup senang karena hasil panen sayur dari para petani yang kita bimbing tersebut bagus, karena mereka bisa jual hasil sayur tersebut untuk menambah pendapatan ekonomi para petani itu sendiri. Kita juga siap membimbing para petani dimana saja biar di luar pulau Sumba yang penting ada kemauan dan semangat kerja dari para petani itu sendiri. Di Sumba Barat contohnya para petani di GKS Hupumada Wanokaka, para kelompok tani begitu antusias membudidayakan sayuran. Rata-rata semua kelompok tani yang kita bimbing itu semangat. Pak Bupati Sumba Barat Niga Dapa Wole datang saat panen sayur perdana di kelompok tani itu borong sayur sampai 48 juta.
Ini contoh motivasi pak bupati kepada para kelompok itu sendiri dan juga kepada masyarakat lainya di Sumba Barat. Baru panen perdana saja para kelompok tani yang hanya beranggotakan puluhan orang jemaat sudah bisa peroleh hasil 48 juta. Ini sangat lumayan untuk peningkatan pendapatan ekonomi para petani itu sendiri, dan ini baru pertama kali, belum ke depannya.

Baca: 15 Orang Wisatawan Asing Lompat dan Berenang Menyelamatkan Diri saat Kapal Molise Terbakar di Padar

Apa harapan Anda kepada para petani lain yang mungkin punya lahan tidur di bantaran kali yang belum dioptimalkan secara baik?
Harapan saya agar lahan tidur di Sumba ini khususnya di daerah bantaran sungai semakin banyak dikerjakan atau diolah oleh para petani dengan menggunakan sumber air yang ada apalagi didukung dengan teknologi penggerakan air yang cukup banyak seperti dengan menggunakan tenaga matahari, salah satunya pompa barsha yang tanpa menggunakan BBM fosil hanya dengan menggunakan tenaga air.
Saya mau melalui program-program yang kami laksanakan agar masyarakat petani itu mandiri. Mandiri itu dalam artian begini, bisa belajar pupuk organik sendiri, bisa buat pestisida untuk sayur organik sendiri, sehingga tidak bergantungan kepada orang lain. Karena bergantungan kepada orang lain tentu akan menguras tenaga dan keuangan rumah tangga, apalagi dia dari wilayah Desa yang jauh dari perkotaan. (*)

Baca: Jangan Beli 4 Tipe Ponsel Berikut, Bisa-Bisa Rugi di Kemudian Hari

Suka Menyiar

SUAMI dari Monika, S.Si, MPH, Apt, ini juga memiliki kesukaan sebagai penyiar radio. Saat kuliah di Fakultas Farmasi Airlangga Surabaya Heinrich sudah belajar banyak tentang bagaimana menjadi seorang penyiar radio.

Menurutnya radio juga adalah salah satu bagian yang penting dalam kehidupan masyarakat terutama untuk memberikan informasi dan hiburan.

Melalui radio juga mengajak masyarakat untuk berbuat baik, ada hal baik dibagikan melalui radio. Seperti sekarang salah satu program radio yaitu bengkel bahasa, selain itu berbicara tentang sejarah Sumba, kesehatan, budaya dan lain sebagainya. "Apalagi ada di kota begini biar agak ramai sedikit kalau ada radio,"ungkap Heinrich.

Baca: Setelah Bebas dari Penjara, Ahok Akan Segera Nikah Lagi. Begini Bocoran dari Kakak Angkatnya

Dikatakannya pada saat masa kuliah dulu, ia juga sebagai penyiar radio sehingga dirinya berusaha untuk mendirikan radio swasta miliknya yakni Radio Max FM Waingapu.

"Selain itu disaat saya sudah mempunyai radio, juga saya banyak belajar. Saya belajar jadi penyiar radio juga di Belanda saya tinggal Belanda selama 1 bulan untuk belajar menjadi penyiar radio, bagaimana cara penulisanan naskah radio, anggel yang menarik dan bagaimana produksinya,"kata Heinrich.

Kata dia saat tinggal di Amsterdam Belanda dan Belajar Radio dari Radio Nederland Werelomroep RNW Siaran Bahasa Indonesia di Hilversum Belanda Februari sampai dengan Maret 2008.

Selain itu, Heinrich juga mengikuti pelatihan di Kantor Berita Radio (KBR) yang juga memberikan pelatihan tentang bagaimana jurnalis radio, dan lain sebagainya.

"Dan akhir-akhir ini juga saya belajar banyak dari Radio Voice of America (VoA) siaran Indonesia, karena mereka memberikan pelatihan yang baik sekali. Sehingg saya tidak gugup mengahadapi dalam era digitalisasi sekarang baik online radio, streaming radio dan lain sebagainya,"ungkap Heinrich. (rob)

Data Diri :
Nama: Heinrich Dominggus Dengi, S.Si, Apt
TTL :Waingapu, Sumba Timur, 22 Juni 1970
Usia. :48 tahun
Istri :Monika, S.Si, MPH, Apt.

Pendidikan:
# Sekolah Dasar Masehi (SDM) Payeti 1 Waingapu
# Sekolah Menengah Pertama (SMP) Kristen Payeti Waingapu.
#Sekolah Mengah Atas (SMA) Negeri 1 Waingapu
# Universitas Airlangga Surabaya
Karier:
# Apoteker Pembantu di Apotek Zentrum 2 Surabaya
#Apoteker Pengelola Apotek Zentrum 3 Sidoarjo
#Pengelola Kamar Obat RSK Lindimara
#Apoteker Pengelola Apotik Kalu Waingapu
#Dosen Tidak Tetap di Akademi Perawat Kupang Prodi Waingapu

# Penyiar/Jurnalis Radio Max FM Waingapu Tahun 2005-2018 sekarang.
#Kontributor Kantor Berita 68H / Kantor Berita Radio tahun 2007-2018 sekarang.
#Bekerja Bersama Petani di Sumba Timur tahun 2012-2018 sekarang.
# Mendirikan Yayasan Komunitas Radio Max Waingapu 2015.

Penulis: Robert Ropo
Editor: Apolonia Matilde
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help