Berita Edisi Minggu

Heinrich Dominggus Dengi : Ingin Petani Sukses

Ia bermimpi suatu saat para petani di Sumba Timur akan sukses di bidang pertanian, meski daerah ini tergolong kering.

Heinrich Dominggus Dengi : Ingin Petani Sukses
ISTIMEWA

Sejauh ini, apakah sudah ada petani yang Anda bimbing untuk mandiri?
Ya yayasan kita baru berdiri tahun 2015 namun karena dukungan dari para petani dan Tuhan, kini kita sudah membimbing sekitar 20 lebih kelompok tani. Dan masing-masing kelompok tani beranggotakan sekitar minimal 20 orang. Kalau kita rata-ratakan ya sudah ratusan lebih petani yang yayasan kita bimbing.
Sebanyak 20 lebih kelompok tani ini, menyebar dan bukan hanya di Sumba Timur tetapi sudah sampai Sumba Barat. Pemerintah sangat mendukung ini.

Sumba Timur merupakan daerah kering hanya dengan padang savana dan batu karang. Tapi Anda punya niat harus tanam sayuran organik, bagaimana anda melakukannya?
Awalnya saya melihat ada potensi di Sumba Timur banyak lahan tidur di bantaran sungai yang tidak pernah digunakan para petani.
Selama ini warga sebagai petani hanya menanam jagung dan padi saat musim hujan, setelah itu saat musim kering daerah di bantaran sungai tidak digunakan padahal potensi airnya berlimpah. Di Australian itu, ada daerah keringnya seperti kita di Sumba ini, mungkin juga kita lebih baik, tapi mereka bisa panen sayur yang begitu berlimpah dan kualitas sayur sangat baik, padahal di tengah musim kering. Saat saya belajar baik teori maupun praktik di lapangan bertemu lansung para petani dan para ahli di bidang pertanian organik pada awal tahun 2017. Saya tinggal selama satu bulan di Brisbane Australia dan Belajar tentang pertanian lahan kering di The University of Queensland Australia. Saya tergerak hati. Dalam hati saya katakan kita di Sumba Timur juga pasti bisa, kita punya air melimpah. Sehingga saya pulang saya ingin terapkan ilmu itu di Sumba Timur.
Memang ada masyarakat yang tidak seberapa membudidayakan tanaman sayuran organik, tetapi susah sekali memperoleh air. Mereka harus menggunakan tenaga atau gunakan mesin pompa air, harus menggunakan BBM.
Ini pemborosan uang petani, maka kita manfaatkan teknologi jaman sekarang yakni penggerak air dengan menggunakan tenaga surya, tenaga mata hari dan yayasan kami dengan menggunakan pompa barsha.
Pompa barsha ini produknya dari Aqysta Belanda dan pompa barsha ini memompa air hanya dengan menggunakan tenaga arus air tanpa menggunakan BBM fosil. Hasil pompa air ini juga bisa memompa air 30 ribu liter perhari.
Kita juga membimbing para petani yang punya lahan di pinggiran sungai atau daerah aliran sungai (DAS) untuk menanam sayuran dan bawang.

Baca: Sejarawan Solo Sebut Cucu Jokowi Mengingatkannya pada Seniman Jawa

Apakah dari para kelompok petani yang Anda bimbing itu, sudah ada yang berhasil dan mandiri seperti Anda inginkan?
Semua kelompok yang kita bimbing itu hampir semuanya sudah mandiri untuk tanam sayur sendiri, buat pupuk sendiri dan buat pestisida sendiri. Kita hanya bimbing di tanam sayur pertama saja begitu juga buat pupuk sendiri dan peptisidanya.
Kita hanya sistem kontrol saja setelah itu, apalagi pompa barsha. Pompa barsha itu kita sewahkan kepada para kelompok tani tersebut. Hal ini kita lakukan dengan tujuan para petani itu punya tanggung jawab untuk terus bekerja untuk membudidayakan tanaman sayur untuk jual, ya hasilnya ini demi meningkatkan pendapatan ekonomi rumah tangga mereka dan juga stok sayuran untuk kebutuhan masyarakat di Kabupaten Sumba Timur tersediah cukup,
tanpa harus impor sayur dari daerah lainya.

Bagaimana perasaan Anda melihat para petani yang anda bimbing itu bisa mandiri dan berhasil?
Kita cukup senang karena hasil panen sayur dari para petani yang kita bimbing tersebut bagus, karena mereka bisa jual hasil sayur tersebut untuk menambah pendapatan ekonomi para petani itu sendiri. Kita juga siap membimbing para petani dimana saja biar di luar pulau Sumba yang penting ada kemauan dan semangat kerja dari para petani itu sendiri. Di Sumba Barat contohnya para petani di GKS Hupumada Wanokaka, para kelompok tani begitu antusias membudidayakan sayuran. Rata-rata semua kelompok tani yang kita bimbing itu semangat. Pak Bupati Sumba Barat Niga Dapa Wole datang saat panen sayur perdana di kelompok tani itu borong sayur sampai 48 juta.
Ini contoh motivasi pak bupati kepada para kelompok itu sendiri dan juga kepada masyarakat lainya di Sumba Barat. Baru panen perdana saja para kelompok tani yang hanya beranggotakan puluhan orang jemaat sudah bisa peroleh hasil 48 juta. Ini sangat lumayan untuk peningkatan pendapatan ekonomi para petani itu sendiri, dan ini baru pertama kali, belum ke depannya.

Baca: 15 Orang Wisatawan Asing Lompat dan Berenang Menyelamatkan Diri saat Kapal Molise Terbakar di Padar

Apa harapan Anda kepada para petani lain yang mungkin punya lahan tidur di bantaran kali yang belum dioptimalkan secara baik?
Harapan saya agar lahan tidur di Sumba ini khususnya di daerah bantaran sungai semakin banyak dikerjakan atau diolah oleh para petani dengan menggunakan sumber air yang ada apalagi didukung dengan teknologi penggerakan air yang cukup banyak seperti dengan menggunakan tenaga matahari, salah satunya pompa barsha yang tanpa menggunakan BBM fosil hanya dengan menggunakan tenaga air.
Saya mau melalui program-program yang kami laksanakan agar masyarakat petani itu mandiri. Mandiri itu dalam artian begini, bisa belajar pupuk organik sendiri, bisa buat pestisida untuk sayur organik sendiri, sehingga tidak bergantungan kepada orang lain. Karena bergantungan kepada orang lain tentu akan menguras tenaga dan keuangan rumah tangga, apalagi dia dari wilayah Desa yang jauh dari perkotaan. (*)

Baca: Jangan Beli 4 Tipe Ponsel Berikut, Bisa-Bisa Rugi di Kemudian Hari

Suka Menyiar

SUAMI dari Monika, S.Si, MPH, Apt, ini juga memiliki kesukaan sebagai penyiar radio. Saat kuliah di Fakultas Farmasi Airlangga Surabaya Heinrich sudah belajar banyak tentang bagaimana menjadi seorang penyiar radio.

Menurutnya radio juga adalah salah satu bagian yang penting dalam kehidupan masyarakat terutama untuk memberikan informasi dan hiburan.

Melalui radio juga mengajak masyarakat untuk berbuat baik, ada hal baik dibagikan melalui radio. Seperti sekarang salah satu program radio yaitu bengkel bahasa, selain itu berbicara tentang sejarah Sumba, kesehatan, budaya dan lain sebagainya. "Apalagi ada di kota begini biar agak ramai sedikit kalau ada radio,"ungkap Heinrich.

Baca: Setelah Bebas dari Penjara, Ahok Akan Segera Nikah Lagi. Begini Bocoran dari Kakak Angkatnya

Dikatakannya pada saat masa kuliah dulu, ia juga sebagai penyiar radio sehingga dirinya berusaha untuk mendirikan radio swasta miliknya yakni Radio Max FM Waingapu.

Halaman
123
Penulis: Robert Ropo
Editor: Apolonia Matilde
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help