Opini Pos Kupang

Mengenang 101 Tahun Kritikus Sastra HB Jassin

Sudah 18 tahun HB Jassin yang dikenal sebagai Paus Sastra Indonesia meninggalkan kita semua, meninggalkan

Mengenang 101 Tahun Kritikus Sastra HB Jassin
ilustrasi

Pada tahun 1968 HB Jassin terlibat kasus pidana penodaan agama karena memuat cerpen berjudul "Langit Makin Mendung" karya Kipanjikusmin dalam majalah Sastra Nomor 8, Agustus 1968. Pemuatan cerpen ini menyulut peristiwa yang dikenal dengan nama Heboh Sastra 1968.

Terjadi perdebatan panas di kalangan sastrawan, pengamat dan kritikus sastra, serta alim ulama, karena cerpen itu dianggap menistakan agama Islam.

Karena banyak kalangan yang menentang isi cerpen itu, maka pada 22 Oktober 1968 Kipanjikusmin (nama samaran yang sampai kini tidak diketahui siapa nama aslinya) meminta maaf kepada publik dan menyatakan mencabut cerpen tersebut dari majalah Sastra dan menganggap cerpen itu tidak pernah ada.

Namun demikian, HB Jassin sebagai redaktur majalah Sastra yang bertanggung jawab atas pemuatan cepen tersebut tetap berurusan dengan pengadilan karena HB Jassin tidak mau membuka identitas asli penulis Kipanjikusmin. Jassin bersikukuh mempertahankan pendapatnya bahwa karya sastra adalah urusan imajinasi, bersifat fiktif.

Baca: Kenal Lebih Dekat 7 Member Exo, KPop Korea Yang Tak Kalah Ganteng Plus Suara Merdunya

Baca: Kurang Tidur, Bosan Dan 8 Kebiasaan Ini Bikin Badanmu Gemuk, Bagaimana Bisa?

Kebenaran karya sastra adalah kebenaran keyakinan, bukan kebenaran faktual yang bersifat objektif. Jassin pun menjalani masa-masa persidangan lebih dari satu tahun, sejak 30 April 1969 sampai 28 Oktober 1970. Pada 28 Oktober 1970 HB Jassin divonis satu tahun penjara dengan masa percobaan dua tahun.

Mengapa HB Jasin bersikukuh membela cerpen "Langit Makin Mendung" dan penulisnya Kipanjikusmin?

Menurut Bagus Takwin dalam tulisan "Hasrat dan Semesta Sastra HB Jassin" (2011), ada empat dimensi dalam hasrat sastrawi HB Jassin yang membuatnya teguh membela karya sastra dan sastrawan, yakni untuk kemajuan/kebaruan sastra, sastra mempunyai daya pikat luar biasa, sastra bersifat universal, dan perjuangan di bidang sastra penuh risiko. *

Editor: Putra
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved