Opini Pos Kupang

Mengenang 101 Tahun Kritikus Sastra HB Jassin

Sudah 18 tahun HB Jassin yang dikenal sebagai Paus Sastra Indonesia meninggalkan kita semua, meninggalkan

Mengenang 101 Tahun Kritikus Sastra HB Jassin
ilustrasi

Awal karier cemerlangnya pada tahun 1940, di mana HB Jassin mengambil keputusan meningalkan tanah kelahiran Gorontalo hijrah ke Jakarta dan bekerja di Balai Pustaka (1940-1942) atas permintaan Sutan Takdir Alisjahbana (1908-1994).

Pada waktu tinggal di Jakarta dalam usia 23 tahun itulah HB Jassin mulai melakukan kegiatan dokumentasi sastra Indonesia sampai wafanya tahun 2000. Jadi, beliau melakukan kegiatan dokumentasi sastra Indonesia selama 60 tahun, dari tahun 1940 sampai 2000.

Hasilnya adalah Pusat Dokumentasi Sastra HB Jassin (PDS HB Jassin) yang kini berpusat di Taman Ismail Marzuki, Jakarta. PDS HB Jassin adalah pusat dokumentasi sastra terbesar di Indonesia, diresmikan 28 Juni 1976.

Di samping bekerja di Balai Pustaka, HB Jassin juga menjadi redaktur majalah Pudjangga Baroe (1940-1942), majalah Pandji Poestaka (1945-1947), majalah Pantja Raja (1945-1947), dan majalah Mimbar Indonesia (1947-1966).

Akhirnya, hampir semua penerbitan majalah sastra dan budaya di Indonesia pada pertengahan abad XX tidak luput dari sentuhan tangan dingin HB Jassin, antara lain: Zenith, Kisah, Sastra, Bahasa dan Budaja, Seni, Buku Kita, Bahasa dan Sastra, dan Horison.

Di samping penerbitan majalah, penerbitan buku-buku sastra pun mendapat campur tangan HB Jassin: Balai Pustaka, Gapura, Gunung Agung, Nusantara, Pembangunan, dan Pustaka Jaya (Puji Santosa, 2017).

Jenis kritik sastra HB Jassin khas, bersifat impresif, bertujuan mendidik, teori kritik sastra digunakan seperlunya saja. Sebagai kritikus sastra, HB Jassin telah menerbitkan minimal 65 judul buku, dengan perincian sebagai berikut.

Pertama, sebagai penulis asli, Jassin telah menerbitkan 14 judul buku, antara lain berjudul Tifa Penyair dan Daerahnya (1952), Kesusastraan Indonesia Modern dalam Kritik dan Esei (4 Jilid, 1954, 1955, 1962, 1967), Heboh Sastra 1968 (1970).

Baca: Mata Tak Bisa Bohong, Apa Arti Dari Tatapan Mata Seseorang Ketika Bicara, Jujur Atau Bohong?

Baca: Waspada, Tantangan Game Momo Challenge di Whatsapp, Sudah Banyak Korban Tewas

Kedua, sebagai editor buku-buku sastra, Jassin telah menerbitkan 26 judul buku, antara lain berjudul Gema Tanah Air: Prosa dan Puisi (1948), Kesusastraan Indonesia di Masa Jepang (1948), Pujangga Baru: Prosa dan Puisi (1963), Angkatan 66: Prosa dan Puisi (1968).

Ketiga, sebagai penerjemah, Jassin telah menerbitkan 25 judul buku, antara lain berjudul Al Quran Bacaan Mulia (1978) terjemahan puitis atas Kita Suci Al Quran dan novel Max Havelaar (1972) karya Multatuli seorang novelis kelahiran Belanda.

Halaman
123
Editor: Putra
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help