Opini Pos Kupang

Mengenang 101 Tahun Kritikus Sastra HB Jassin

Sudah 18 tahun HB Jassin yang dikenal sebagai Paus Sastra Indonesia meninggalkan kita semua, meninggalkan

Mengenang 101 Tahun Kritikus Sastra HB Jassin
ilustrasi

Oleh Yohanes Sehandi
Penulis Buku "Sastra Indonesia di NTT dalam Kritik dan Esai"

POS-KUPANG.COM -- Tak terasa, pada 31 Juli 2018 ini, kritikus sastra legendaris Indonesia, HB Jassin (Hans Bague Jassin), genap 101 tahun. Beliau lahir di Gorontalo pada 31 Juli 1917, meninggal dunia di Jakarta pada 11 Maret 2000, dalam usia 83 tahun.

Sudah 18 tahun HB Jassin yang dikenal sebagai Paus Sastra Indonesia meninggalkan kita semua, meninggalkan dunia sastra Indonesia. Julukan Paus Sastra Indonesia diberikan Gayus Siagian dalam sebuah simposium sastra (1965).

Seperti gajah meninggalkan gading, HB Jassin pun meninggalkan nama besar dan tenar sebagai kritikus dan sebagai dokumentator sastra Indonesia. Sebagai kritikus merangkap sebagai dokumentator sastra itulah yang menyebabkan kedudukan HB Jassin bersifat legendaris, yang tak tergantikan sampai dengan saat ini.

Baca: Ramalan Zodiak Hari Ini 6 Agustus 2018, Scorpio Sibuk, Zodiak Lain Bagaimana?

Baca: Intip Cara Marah Cewek Berdasarkan Zodiak, Seperti Apa Ya

Ada sejumlah nama besar kritikus setelah HB Jassin meninggal, namun tidak merangkap sebagai dokumentator sastra yang andal dan tangguh.

HB Jassin menempuh pendidikan formal di HIS Gorontalo (1932), MBS-B di Medan (1939), Fakultas Sastra UI (1957), dan Yale University, Amerika Serikat (1958-1959) bidang Studi Ilmu Perbandingan Kesusasteraan. Dosen luar biasa di Fakultas Sastra UI (1953-1959, 1961-1975). Pernah dipecat dari UI karena terlibat dalam penandatanganan Manifes Kebudayaan pada masa Demokrasi Terpimpin era Presiden Soekarno.

HB Jassin pernah bekerja di Lembaga Bahasa dan Budaya (1954-1973) yang kini bernama Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa, Kemendikbud RI. Pada 24 Agustus 1970 Gubernur DKI Ali Sadikin mengangkat HB Jassin sebagai anggota Akademi Jakarta yang diketuai Sutan Takdir Alisjabana, keanggotaan Jassin berlaku seumur hidup.

Pada tahun 1975 HB Jassin mendapat anugerah Doktor Honoris Causa (Dr. HC) dari UI, dengan orasi berjudul "Sastra Indonesia sebagai Warga Sastra Dunia."

Sejumlah kritikus sastra akademik aliran Rawamangun (tempat Fakultas Sastra UI pada waktu itu) yang mendapat bimbingan langsung dari HB Jasin, antara lain Boen S. Oemarjati, M. Saleh Saad, M.S. Hutagalung, J.U. Nasution, dan Bahrum Rangkuti. HB Jassin dianugerahi 11 penghargaan dan tanda jasa, antara lain Satyalencana Kebudayaan dari Pemerintah RI (1969) atas jasa-jasanya di bidang kebudayaan, dan hadiah Martinus Nijhof (1973) dari Prins Bernhard Fonds di Den Haag (Belanda) atas terjemahan novel Max Havelaar karya Multatuli.

Menerima hadiah Magsaysay dari Yayasan Magsaysay Filipinan (1987), dan anugerah Bintang Mahaputera Nararaya oleh Pemerintah RI (1994).

Baca: Ciri Orang Suka Selingkuh, Kamu Termasuk? Pikir 4 Hal Ini Sebelum Berselingkuh Ya

Baca: Membaca Bahasa Tubuh Lawan Bicaramu, Seperti Apa Sebenarnya Niat dan Tujuannya

Halaman
123
Editor: Putra
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved