Berita Timor Tengah Selatan

Inilah Hasil Kajian IRGSC Mengenai Kasus Perdagangan Orang di Kabupaten Timor Tengah Selatan

Latar belakang sebagian besar keluarga buruh migran adalah petani atau sebesar 89,7 persen. Faktor ekonomi diakui

Inilah Hasil Kajian IRGSC Mengenai Kasus Perdagangan Orang di Kabupaten Timor Tengah Selatan
ISTIMEWA
Diseminasi hasil penelitian pekerja migran Indonesia di TTS 

Ketiga, tingginya angka perdagangan orang dari Kabupaten TTS perlu diantisipasi oleh Dinas Nakertrans Kabupaten TTS di antaranya dengan melakukan kerja sama dengan pemerintah desa untuk melakukan sosialisasi terpadu khususnya tentang cara aman untuk melakukan migrasi.

Keempat, angka migrasi yang tinggi sangat dipengaruhi oleh faktor ekonomi. Berdasarkan hasil survei yang dilakukan pada 360 responden di tiga kecamatan, penduduk desa yang menjadi buruh migran sebagian besar berasal dari keluarga yang setiap bulannya berpenghasilan di bawah Rp 100 ribu, yakni sebanyak 28 persen.

Latar belakang sebagian besar keluarga buruh migran adalah petani atau sebesar 89,7 persen. Faktor ekonomi diakui sebagai faktor utama yang membuat orang pergi (96,4 persen).

Rendahnya tingkat pendapatan warga di desa ditemui dengan minimnya uang tunai yang diperoleh per keluarga di tingkat desa menunjukkan perlunya upaya khusus untuk meningkatkan pendapatan keluarga-keluarga miskin yang berdiam di desa.

Upaya menghidupkan Bumdes, dan pengembangan model-model alternatif pertanian lahan kering amat dibutuhkan. Sebanyak 77,8 persen responden menyatakan pekerjaan di tempat rantau lebih besar dibandingkan mengolah lahan pertanian di kampung. Alasan lain yang membuat mereka memutuskan untuk pergi adalah mencari pengalaman (46 persen) dan mencari uang sendiri (34 persen).

Kelima, sektor pendidikan membutuhkan prioritas perhatian pemerintah. Penduduk yang melakukan migrasi untuk berkerja ke luar daerah rata-rata berusia produktif. Sebanyak 40,3 persen pelaku migrasi berusia 19 hingga 24 tahun. Bahkan, ada pelaku migrasi yang masih di bawah umur atau berusia anak.

Hasil survei menunjukkan 20,6 persen pelaku migrasi dengan rentang usia 15-18 tahun. Khusus untuk migrasi anak menunjukkan posisi anak yang sangat rentan selain untuk menjadi pekerja anak, tetapi juga menjadi korban perdagangan orang (human trafficking). Kabupaten TTS merupakan salah satu kantong korban perdagangan orang.

Dari mereka yang berangkat bermigrasi lulusan SD dan SMA ada di peringkat paling atas atau keduanya sama-sama ada dalam posisi 25,6 persen, disusul dengan tamatan Sekolah Menengah Pertama (SMP) sebanyak 22,8 persen.

Selain itu sebanyak 39 orang (41,5 persen) dari mereka yang putus sekolah disebabkan karena karena tidak ada biaya. Alasan lain, mereka yang putus sekolah karena malas sebanyak 9 orang (28,1 persen), dan 7 orang (21,9 persen) putus sekolah karena sakit.

Minimnya keberadaan guru yang berkualitas , fasilitas sekolah yang mendukung, maupun jauhnya akses terhadap fasilitas pendidikan dari rumah anak-anak telah membuat angka putus sekolah tinggi, dan rendahnya kualitas pendidikan yang diterima anak-anak.

Halaman
123
Editor: Putra
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved