Catatan Sepakbola

Di atas Keindahan Bola, Bertahta Sang Pengadil

Para pengadil itu terus berlari sepanjang permainan, seperti juga para pemain bola yang terus berlari. Bedanya, kaki dan bagian

Di atas Keindahan Bola, Bertahta Sang Pengadil
ilustrasi 

Ulasan Bola Viktus Murin
Jurnalis Pos Kupang 1992-1995

POS-KUPANG.COM - Hitam-hitam. Berbaju hitam dan bercelana hitam. Inilah penanda utamanya. Bila harus berganti warna kostum, itu hanya sesekali, demi makna estetis seremonial belaka.

Lazimnya mereka memang berkostum hitam sehingga acapkali dijuluki korps berbaju hitam. Filosofis hitam adalah misteri. Merekalah sang pengadil. Tanpa mereka, apa makna sebuah pertandingan? Bila sang pengadil tak hadir, akankah muncul keindahan bola?

Para pengadil itu terus berlari sepanjang permainan, seperti juga para pemain bola yang terus berlari. Bedanya, kaki dan bagian tubuh para pengadil tidak boleh menyentuh bola. Mereka harus selalu menjaga jarak aman dengan dan sekaligus dari bola.

Sekali saja bola membentur tubuh mereka, irama pertandingan pun terinterupsi. Di saat begini, para pemain pun ikut kikuk.

Seorang pengadil berlari-lari sepanjang pertandingan dengan mata yang awas. Berwajah nyaris tanpa senyum. Kalau harus tersenyum, paling-paling di saat rehat laga, atau mungkin ada kejadian lucu di lapangan. Tapi yang begini amatlah jarang. Begitu pula dengan dua hakim garis di dua sisi lapangan.

Dua-dua berlari berjarak seukuran setengah lapangan pada sisi berlawanan. Separoh mirip dengan panglima mereka di tengah lapangan hijau yang berlari dalam jarak penuh.

Para pengadil. Mereka lazim disebut wasit, dengan dua asisten wasit pemegang bendera sinyal pelanggaran yang berlari-lari seukuran setengah lapangan. Siapakah yang peduli untuk menghafal nama-nama korps hitam-hitam ini.

Siapa peduli? Sangat mungkin, tak sampai seperhitungan 10 jari, nama-nama wasit dapat muncul dari benak apabila ditanya nama-nama mereka. Sungguh berbeda dengan saat kita menghafal nama-nama bintang sepakbola sebuah negara atau sebuah klub yang menjadi idola.

Hanya ada satu atau dua wasit yang menempel lengket namanya di benak. Kenalkah kita pada nama Colina? Pitana? Ya, betul. Pierllugi Colina, si wasit botak dengan wajah sangar dan agak kurang lazim. Colina adalah wasit dari Italia yang kini tidak lagi merumput.

Halaman
1234
Editor: Putra
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved