Berita Tamu Kita

Djemi Lassa, ST : Mimpi Anak NTT Jadi Wirausahawan

Baginya, uang akan datang dengan sendirinya kalau kita sudah mulai bekerja keras, bekerja cerdas dan bekerja kreatif.

Djemi Lassa, ST : Mimpi Anak NTT Jadi Wirausahawan
ISTIMEWA
Djemi Lassa, ST 

Laporan Reporter POS-KUPANG.COM, Apolonia Matilde Dhiu

POS-KUPANG.COM, KUPANG - Bermula dari kisah hidupnya yang benar-benar mulai dari nol di kota SoE, Kabupaten TTS dan akhirnya menjadi pengusaha di Kota Kupang, ia bermimpi bahwa suatu saat anak-anak NTT harus menjadi wirausahawan baru.

Pemahaman yang keliru terkait menjadi pengusaha harus memiliki modal atau uang yang cukup harus dihilangkan.

Baginya, uang akan datang dengan sendirinya kalau kita sudah mulai bekerja keras, bekerja cerdas dan bekerja kreatif. Karena, menjadi wirausahawan susah-susah gampang.

Butuh ketekunan dan kerja keras sehingga bisa sukses. Itulah yang dilakukan oleh Djemi Lassa. Bersama teman-teman pengusaha muda di Kota Kupang, ia membuka sebuah sekolah enterpreneur yang menjaring anak-anak NTT, siapapun dia untuk masuk di sekolah ini.

Ia ingin agar anak-anak NTT tidak sekolah untuk menjadi PNS tetapi bagaimana menjadi wirausahawan baru yang bisa melihat peluang dan potensi yang ada di NTT untuk dikembangkan demi kemajuan daerah dan kesejahteraan masyarakatnya.

Bagaimana dan apa saja yang memotivasinya untuk membuka sekolah enterprenur di Kota Kupang. Ikuti wawancara wartawati Pos Kupang, Apolonia Matilda Dhiu dengan Djemi Lassa, ST, di Swiss Belin Kristal Kupang beberapa waktu lalu.

Sukses yang Anda dapatkan seperti saat ini, ternyata memulainya dari nol. Bagaimana sampai anda meraih semua ini?
Yah. Saya melakukan segala sesuatu saat ini dimulai dari perjalanan hidup. Saya adalah anak kedua dari enam bersaudara. Bapa seorang petani dan mama adalah pembuat kue. Saya bersyukur kepada Tuhan bisa melewati masa kecil di kota dingin SoE. Sejak kelas 4 SD, mama sudah mengijinkan saya untuk menjual kue setiap hari, saat pagi sebelum ke sekolah dan siang hari sepulang sekolah. Saya lakoni pekerjaan menjual kue sampai di bangku SMP.
Saat duduk di bangku SMA saya tetap berjuang untuk hidup dengan membuat batako dan pikul kayu dari hutan untuk membantu bapak sehingga bisa mendapat uang jajan.
Ketika tamat SMA, dilema karena apakah mau melanjutkan penididkan atau bekerja. Saya bersyukur mendapatkan beasiswa dari Universitas Kristen (UK) Petra Surabaya. Tapi perjuangan belum berakhir karena saya harus tetap membantu bapak dan mama untuk biaya hidup selama kuliah di Surabaya.
Saya bekerja di perpustakaan untuk bertahan hidup dan menjadi sallesman.

Ketika Anda tamat kuliah apakah berpikir untuk pulang NTT atau mencari pekerjaan di sana?
Saya pulang ke Kupang dan merintis bisnis komputer bekas. Saya pasang iklan pertama kali di Pos Kupang dan saya bersyukur karena Pos Kupang turut berjasa dalam karier hidup saya sehingga sampai di titik ini. Dari komputer bekas, saya mulai perlahan berkembang dan menjual komputer baru, menjadi distributor beberapa merek komputer, merek printer, sampai akhirnya saya diberikan kesempatan membuka bisnis lain. Yakni menjadi distributor sparepart motor dan lain sebagainya. Semua bukan karena kekuatan dan kemampuan saya tetapi karena kasih karunia dari Tuhan semata.
Di satu sisi saya melihat kalau dulu di kampung, banyak orang-orang yang berjuang seperti saya dan di Kota Kupang sata ini juga masih ada anak-anak yang berjuang untuk hidup, hati saya merasa teriris. Sehingga, saya berpikir bagaimana caranya anak-anak ini bisa mempunyai masa depan. Satu-satunya cara untuk melahirkan entrepreneur adalah saya menjadi partnernya mereka dengan membuka sekolah enterpreneur.

Kenapa Anda berpikir membuka sekolah enterpreneur dan tidak menggandeng pemerintah?
Seharusnya pendidikan menjadi tanggung jawab pemerintah karena memiliki semuanya. Hanya masalah entrepreneur ini tidak segampang yang dipikirkan, karena pemerintah hanya mencetak sarjana. Mencetak sarjana gampang, tahun ini keluar 500 sarjana selesai. Tetapi mencetak entrepreneur ini, orang bilang sangat kompleks. Saya belajar dari Ciputra. Ciputra mengatakan kalau mau seorang menjadi entrepreneur atau mencetak seorang pemuda menjadi entrepreneur maka dia harus mempunyai tiga hal.

Apa itu?
Pertama, dia punya mimpi, dia punya visi dulu, tahu bahwa masa depan dia itu jadi entrepreneur atau wirausaha. Itu mimpi atau visi. Dan visi atau mimpi harus didukung dengan paradigm atau cara berpikir. Cara berpikir yang mengatakan bahwa kami ini orang dari kampung, kami ini bapa bukan pegawai negeri, mana mungkin kami jadi entrepreneur harus dihilangkan dulu. Dan, ini yang dialami oleh anak muda kita. Saya dulu berpikir jadi entrepreneur, ah, kayaknya tidak mungkin deh. Pemikiran ini terlalu di awing-awang, tapi akhirnya berhasil, karena apa, karena ada hal-hal yang saya lewati, ini cara berpikir, kalau cara berpikir kita ubah maka bisa lebih gampang untuk memasuki tahap-tahap berikut.
Kedua, yang lebih penting adalah masalah pengetahuan dan juga skill. Saya berharap gubernur terpilih bisa kerjakan saat ini.Skill apa. Kalau dia mau menjadi seorang yang mau membangun restoran yang enak, setidaknya dia mempunyai skill memasak. Kalau dia menjadi seorang tukang jahit yang baik, dia harus mempunyai skill menjahit, kalau dia ingin menjadi pemilik bengkel yang besar, harus memiliki skill servis itu. Terkait pengetahuan. Pengetahuan apa. Misalnya bikin keripik dan pengetahuan bagaimana supaya keripik pisang itu laku, bagaimana bisa menjualnya, pengetahuan tentang bagaimana anak NTT ini bisa berpikir bahwa pisang yang ada di sini bagaimana caranya supaya bisa dikirim ke seluruh Indonesia. Dalam bentuk keripik yang dia buat, bagaimana supaya orang berpikir bahwa ini keripik yang paling enak di seluruh Kota Kupang. Ini mimpi-mimpi sederhana, pengetahuan sederhana.
Ketiga, yang lebih penting adalah karakter. Karena karakter tidak pernah diajarkan di sekolah. Karakter itu apa, itu masalah kejujuran. Dia berbisnis dengan tanggung jawab Rp 100 ribu, bisa jujur dengan Rp 100 ribu, jujur dengan Rp 1 juta, jujur dengan Rp 5 juta, Rp 10 juta dan seterunya.
Saya memulai bisnis ini dari nol, karena orangtua saya sederhana sekali, tetapi orangtua saya tidak mungkin dengan bisnis mau support saya dengan modal yang ada. Modal saya adalah kejujuran, yang ketika saya memulai bisnis ini, saya tidak tahu, tetapi saya dipercaya, terkadang supplier bisa kirim barang yang harga 500 juta, 200 juta, nanti baru bayar, kenapa? Karena masalah kejujuran. Jujur mulai dari yang kecil sampai yang besar. Maka kepercayaan akan diberi terus-menerus. Ini sulit didapat. Terkait keberanian, orang kita ini sebenarnya untuk fight di jalan, misalnya petarung jalan orang sudah berani, tidak takut. Tetapi kenapa mengurus bisnis takut, ini sesuatu yang lucu. Sehingga ketika dipilih sebagai Ketua Kadin, Wakil Ketua Hipmi BPD NTT, visinya satu, bahwa entrepreneur itu harus semakin banyak di NTT.

Apakah para pengusaha yang sudah ada saat ini tidak merasa akan disaingi karena tumbuh banyak wirausahawan muda di NTT?
Prinsip saya bahwa pengusaha di Kota Kupang masih sangat sedikit. Kota Kupang mau bertumbuh ekonominya, justru enterpreneurnya harus semakin banyak. Kenapa, karena harus makin banyak orang yang mau melihat Kota Kupang ini sebagai nilai tambah. Bayangkan, kalau rumput laut yang berton-ton kita kirim ke Pulau Jawa setiap hari atau setiap minggu, kita kirim bukan sebagai rumput laut, tapi kita kirim sebagai bentuk olahan dari rumput laut, maka nilai tambah uang akan semakin besar masuk di NTT.
Potensi lain adalah garam. Kalau perlu kita kirim jangan dalam bentuk garam mentah, kita olah menjadi sesuatu yang bernilai tambah sehingga uang jauh lebih banyak. Begitupun potensi lainnya seperti jagung, kopi dan sebagainya. Ini dikerjakan oleh siapa. Ini yang dikerjakan oleh pengusaha, sehingga saya berpikir, urusan berkat itu urusan Tuhan, ada orang kerja setengah mati berkatnya begitu-begitu saja, ada orang yang kerjanya sedikit berkatnya banyak. Jadi bagaimana pengusaha-pengusaha mulai berpikir menjadi bapak asuh untuk anak-anak NTT, anak-anak Kota Kupang, anak-anak TTS, dan semua yang mulai ingin belajar wirausaha. Makin banyak anak asuh, makin baik pula, saya yakin anak-anak NTT lebih sejahtera.

Terkait tiga hal yang Anda sampaikan yakni visi, pengetahuan dan skill serta karakter. Apa yang Anda lihat dari anak-anak muda NTT?
Ini bukan hal yang terlalu gampang, tidak mudah juga, butuh perjuangan. Karena mengedukasi orang untuk sekolah entrepreneur bukan hal yang mudah. Tetapi ini juga bagian dari perjuangan saya. Perlu kampanye untuk sekolah entrepreneur dan kalo bisa butuh kerja sama dari pemerintah sehingga sekolah-sekolah seperti ini bisa hidup.

Bagaimana animo anak muda NTT masuk di sekolah enterpreneur?
Pertama, walaupun membutuhkan perjuangan kami tetap melakukan edukasi kepada masyarakat. Kedua, saya baru merasakan bagaimana membentuk laboratorium di dalam lingkungan enterpreneur yang begitu sulitnya. Karena anak-anak yang masuk ini dengan karakter yang sudah berpuluh-puluh tahun hidup di keluarga yang tidak membentuk mereka dengan baik dan sampai di sekolah, kami harus membentuk mulai dari cara berkomunikasi, cara untuk tetap berani maju, berani bikin sesuatu, berani mencoba sesuatu. Ini perjuangan kami, dan semoga bermunculan banyak sekolah enterpreneur di NTT.

Bagaimana dengan para siswa yang sekolah di sekolah enterpreneur yang Anda dirikan?
Kalau anak asuh saya sekarang ada yang mulai berbisnis sparepart dengan menjual melalui online, bikin grup facebook, terus dia pasang barang-barang disitu, sudah coba-coba mulai jualan kue keliling, ada yang mau rintis bisnis sepatu, makanan salad. Menurut saya, keberhasilan tidak bisa dilihat dalam satu tahun, tetapi harus jangka panjang. Karena para pengusaha saat ini juga pernah mengalami perjuangan panjang dan membutuhkan semangat yang terus-menerus.

Djemi Lassa, ST

From Zero to Hero

PENGALAMAN hidup yang mulai segala sesuatu dari nol dan menjadi sukses atau From Zero to Hero pantas disematkan pasa pengusaha yang satu ini, yakni Djemi Lassa. Pria kelahiran Soe- TTS, 13 Juni 1977 ini tidak segan-segan untuk memulai dan terus mencoba dan mencoba.
Keberanian untuk memulai, keberanian untuk mencoba menjadi salah satu motivasi yang dilakukanya kepada para siswanya di Sekolah Enterpreneur yang didirikanya.
Kepada Pos Kupang di Swiss Belin Kristal Kupang, istri dari Eliyana Wirawan, dan ayah tiga anak ini, mengatakan, ia merasa senang kalau para siswanya mulai mencoba dan tidak putus asa untuk berjuang untuk menjadi wirausahawan baru ketika tamat dari sekolah tersebut.
"Terus terang pengalaman hidup saya kalau bisa digambarkan, bisa menjadi judul buku from zero to hero. Jadi, semuanya selalu start dari nol. Orang yang hebat itu adalah orang yang bisa memulai dari nol dan yang menghasilkan. Kalau memulai dari yang banyak dan dia punya banyak, ah, itu biasa. Itu tidak terlalu susah," ujar Djemi yang suka berolahraga ini.
Baginya, ketika seseorang mulai dari nol dan bisa menghasilkan sesuatu yang dibanggakan barulah dikatakan hebat.
"Kalau dikatakan bahwa orang punya sesuatu dulu baru bisa berhasil, lalu apa yang bisa saya banggakan dari diri saya. Maka kita akan mengatakan bahwa yang bisa jadi orang kaya adalah orang kaya, yang bisa jadi pengusaha adalah orang kaya dan kalau di dalam ilmu hidup saya, saya tidak kenal yang begitu," tantangnya. (*)

Penulis: Apolonia Matilde
Editor: Apolonia Matilde
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved