Opini Pos Kupang

Memimpin Gereja di Era Demokrasi, Refleksi Terpilihnya Uskup baru Maumere

Pengangkatan Ewaldus Martinus Sedu oleh tahta suci menjadi Uskup Maumere tidak bermakna politis melainkan sakramental

Memimpin Gereja di Era Demokrasi, Refleksi Terpilihnya Uskup baru Maumere
POS KUPANG/EUGENIUS MOA
Mgr.Ewaldus Martinus Sedu, Pr 

Oleh: Dr. Norbert Jegalus
Staf Pengajar Fakultas Filsafat Unwira Kupang

POS-KUPANG.COM - Berikut ini adalah sebuah refleksi seorang beriman Katolik tentang kepemimpinan sakramental Gereja di era demokrasi seperti sekarang ini dan sekaligus sebuah catatan seorang teman kelas atas Rm Ewaldus Martinus Sedu yang dipilih oleh tahta suci menjadi Uskup Maumere.

Refleksi kepemimpinan sakramental adalah perlu mengingat kita baru saja melakukan pilkada untuk melegitimasi kepemimpinan politis suatu daerah dan itu dilakukan menurut kerangka demokrasi.

Dengan demikian, ucapan "habemus episcopum" (kami mempunyai uskup) atas terpilihnya Rm Ewaldus Martinus Sedu oleh tahta suci menjadi Uskup Maumere tidak bermakna politis melainkan sakramental. Kepemimpinan yang dijalankan oleh seorang uskup adalah kepemimpinan sakramental.

Itu artinya, uskup baru itu mendapat legitimasi kekuasaan untuk memimpin Keuskupan Maumere itu tidak dari umat atau dipilih oleh umat Maumere, seperti kita memilih Gubernur NTT oleh rakyat NTT menurut kerangka "demokrasi" (kekuasaan rakyat), melainkan menurut kerangka "kristokrasi".

Tantangan kepemimpinan seorang uskup di era demokrasi sekarang ini adalah bahwa umat menuntut demokrasi di dalam Gereja.

Tentang tuntutan demokrasi itu sudah dijawab oleh Yoseph Ratzinger, yang kemudian menjadi Paus Benediktus XVI yang mengatakan bahwa "Die Kirche ist keine Demokratie" (Gereja bukanlah sebuah demokrasi), melainkan, katanya, sebuah "Christokratie" (Kristokrasi).

Gereja tidak bisa dijalankan menurut kerangka demokrasi dalam institusi politik. Menurut Ratzinger, Gereja memiliki tujuan yang berbeda dengan masyarakat politik, karena yang diperjuangkan oleh Gereja bukan sekadar sesuatu yang baik dan bernilai melainkan lebih dari itu, yakni kebenaran Injil Kristus.

Betul bahwa Gereja Vatikan II adalah "Gereja umat Allah". Namun yang harus diingat di sini adalah bahwa pengertian "Gereja Umat Allah" sama sekali tidak menghapus sifat sakramental dari Gereja, dimana Kristus adalah sakramen dasarnya. Jadi, istilah "Umat Allah" tidak boleh mengaburkan sifat sakramentalitas dari Gereja.

Baca: Ini Jadwal Lengkap Tahbisan Uskup Maumere, Mgr. Ewaldus

Di dalam sifat sakramentalitas Gereja tidak pertama-tama ditekankan tentang Gereja sendiri melainkan tentang misteri Allah yang menyatakan diriNya melalui Kristus. Karena itu, Gereja hanya berarti sejauh beriman akan Kristus; Gereja hanya berarti sejauh berhubungan dengan Kristus.

Halaman
123
Editor: Putra
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help