Editorial Pos Kupang

Piala Gubernur 2018 Cerminan Wajah Sepakbola NTT

Kejuaraan ini menjadi cerminan prestasi sepakbola di NTT. Pembinaan berkelanjutan sangatlah penting

Piala Gubernur 2018 Cerminan Wajah Sepakbola NTT
pos kupang.com/ricko wawo
Pemain PS Kota Kupang vs PS Malaka dalam laga Liga 3 Piala Gubernur tahun 2018, di Lapangan TNI Penfui, Kupang, Kamis (19/7/2018) 

POS-KUPANG.COM - Asosiasi Provinsi (Asprov) Persatuan Sepakbola Seluruh Indonesia (PSSI) NTT bekerjasama dengan Dinas Pemuda dan Olahraga (Dispora) saat ini menggelar kompetisi Liga 3 Zona NTT yang digandeng dengan Piala Gubernur NTT. Juara dari kompetisi ini nantinya mewakili Zona NTT berlaga di kualifikasi tingkat regional.

Sudah hampir separuh dari event ini bergulir. Lapangan TNI AU di Penfui, Kota Kupang dijadikan lokasi pertandingan.

Jangan tanya apakah lapangan ini layak atau tidak. Kompetisi Liga 3 Indonesia berlangsung di lapangan yang tak rata, tanpa tribun apalagi podium. Kuat kesan bahwa kompetisi digelar hanya untuk memenuhi persyaratan dari PSSI Pusat.

Ada banyak komentar minor tentang penyelenggaraan kompetisi Piala Gubernur NTT tahun ini. Lumayan riuh di media sosial. Asprov PSSI disebut tidak siap.

Dispora NTT menggelar hanya karena sudah ada anggaran. Seharusnya tak boleh dipaksakan kompetisi berlangsung di Kota Kupang kalau memang lapangan tidak siap karena renovasi Stadion Oepoi belum selesai. Ada banyak daerah yang lapangannya lebih layak dan siap menggelar kalau ditunjuk.

Tak sampai di situ. Kualitas wasit dalam turnamen ini kerap menimbulkan protes. Sebut saja pada pertandingan antara PSKK vs Malaka atau pada pertandingan antara Perseftim melawan Perss SoE.

Wasit tidak memberi sanksi pemain yang menendang lawannya. Pelanggaran dibiarkan. Wasit terlihat hanya berlari-lari kecil di tengah lapangan, bukan sebagai seorang pengadil.

Apakah ini tandanya pembinaan sepakbola di NTT jalan di tempat? Tidak! Sepakbola NTT sedang bergeliat. Lihat saja kualitas anak-anak muda yang bermain di kompetisi ini. Meski hanya diikuti sepuluh tim, namun kualitas anak-anak NTT sudah membaik.

Sejumlah pengurus kabupaten malah terus berbenah, kendati ada juga beberapa daerah yang harap gambang. Satu tim materi pemainnya 80 persen pemain dari luar daerah.

Lihat pemain muda dari PS Ngada, Perss SoE, PSKK, PS Malaka, Persab Belu, Perseftim dan lainnya. Semua menunjukkan kualitas yang menjanjikan. Bahkan, ada penonton yang sudah berkomentar, kalau dengan materi yang ada, bila diseleksi dengan benar, tim NTT sudah layak bertanding di PON Papua 2020.

Para pegiat bola tentu berharap pembinaan sepakbola di NTT terus berlanjut. Sebentar lagi akan ada Piala Soeratin U-17 di Larantuka, Flores Timur. NTT hanya menggelar Soeratin U-17, meski ada Soeratin U-15 dan U-13. Entah apa alasannya, belum pernah diumumkan secara terbuka oleh Asprov PSSI NTT.

Ada harapan yang merekah. Ada impian yang mulai dirajut. Apakah itu akan tercapai? Asprov PSSI NTT harus berani menunjukkan bahwa meskipun dalam aneka keterbatasan, sepakbola NTT akan mampu bersaing di event nasional. *

Penulis: PosKupang
Editor: Putra
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help