Opini Pos Kupang

Pemimpin Demokratis dan Pengakuan Akan Kritik

Demokrasi tanpa kritik adalah demokrasi yang semu dan pemerintahan tanpa kritik adalah pemerintahan yang bercorak otoriter.

Pemimpin Demokratis dan Pengakuan Akan Kritik
ilustrasi

Oleh: Frano Kleden
Tinggal di Waibalun, Flores Timur

POS-KUPANG.COM - Sebuah kritik, apapun itu, berpotensi menusuk perasaan dan meruntuhkan rasionalitas manusia yang sudah berdiri kokoh. Di tengah konteks negara demokrasi seperti Indonesia, kritik merupakan sebuah ekspresi yang wajar dan bahkan wajib. Kritik memang perlu demi perjalanan suatu roda pemerintahan.

Demokrasi tanpa kritik adalah demokrasi yang semu dan pemerintahan tanpa kritik adalah pemerintahan yang bercorak otoriter. Pemimpin yang arif adalah seorang yang mempunyai kesabaran yang tinggi jika menghadapi berbagai kritik atas kebijakan-kebijakan kepemimpinannya. Ia tidak marah dan berusaha membentengi diri dengan seribu satu cara.

Kritik sebagai Komunikasi Khas Manusia

Tugas komunikasi adalah menjadi alat kontrol untuk menjaga keseimbangan dalam hidup berkomunitas. Salah satu pesan komunikasi adalah kritik. Kritik bertujuan mengkritisi kebijakan atau tindakan seseorang atau lembaga, baik formal maupun non formal, untuk melihat apakah tindakan itu sesuai dengan prosedur dan tata aturan yang berlaku atau justru menyimpang dari ketentuan-ketentuan baku.

Namun kritik bukanlah sembarang kritik. Kritik yang benar hendaknya disampaikan secara objektif dan jernih.

Di tengah keberagaman, melalui kritik, komunikasi memungkinkan orang untuk memahami pribadi lain dan juga pribadinya sendiri. Pribadi manusia sesungguhnya dapat bertumbuh dan berkembang dalam interaksinya dengan pihak lain.

Dalam pribadinya, manusia menghadirkan sebuah komunikasi yang melahirkan semangat untuk berkomunitas. Jika manusia tidak membina kemampuan berkomunikasi ataupun menyalahgunakan kemampuan berkomunikasi, maka komunitas secara keseluruhan akan rusak.

Atas dasar itu, kehadiran kritik dibutuhkan dalam sebuah komunitas. Kritik dibutuhkan karena beberapa alasan berikut. Pertama, kritik penting untuk proses pemberdayaan manusia (self-formative process).

Komunitas sebagai masyarakat dengan rasionya perlu merefleksikan rintangan-rintangan yang ada dalam komunitas dan komunikasi itu sendiri. Kritik berperan sebagai refleksi diri yang menghasilkan emansipasi dan pencerahan dalam proses pembudayaan manusia dalam komunitas.

Halaman
123
Editor: Putra
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved