Jurnalisme Warga

Drivers for Change: Catatan Inspiratif Anak Muda Mollo dari Inggris (6-Habis)

Seperti kata Jude Kelly sejak awal di Liverpool, sebelum menolong orang lain pastikan dirimu sudah tidak punya masalah. Wellbeing penting

Drivers for Change: Catatan Inspiratif Anak Muda Mollo dari Inggris (6-Habis)
ISTIMEWA
Dicky Senda 

Penting untuk mengenali siapa pendengar kita. Ketika kita ingin presentasi ke pemerintah atau ke donatur, atau ingin menjual ide dari proyek SE kita ke sebuah pasar ide, penting untuk mengetahui pihak yang menjadi target kita. “Apa yang ingin kamu mau orang lain rasakan ke dalam ceritamu?”

Mulailah ceritamu dengan ‘why’, mengapa kamu mau bikin proyek ini, mengapa proyek ini harus ada.
Balik lagi ke sesi emosional. Jude Kelly membawakan sesi penutupan yang bikin banyak orang menangis, terpaku, terdiam. Drivers for Change lebih dari sekadar perjalanan untuk belajar SE. Ia sekaligus menjadi ruang untuk mawas diri bagi setiap peserta.

Sebuah proyek SE akan sia-sia tanpa pribadi yang mawas diri, kenal dengan setiap proses perubahan yang terjadi dalam dirinya. Ia haruslah seorang yang kuat dan peka. Jude melatih kami untuk peka pada diri sendiri lalu peka pada orang lain dan situasi di sekitar.

Karena sekali lagi, SE bukan seperti bisnis murni yang mencari keuntungan sebanyak-banyaknya, atau CSR dan charity act yang membagi-bagi uang begitu saja.

Ada banyak nilai dan prinsip yang harus dijalankan secara etis dan dipertanggungjawabkan demi sebuah bisnis yang bisa hidup lebih lama dan bisa memberi kesempatan kepada lebih banyak orang untuk berkembang. Jelas bukan pekerjaan yang mudah. Terima kasih Drivers for Change, terima kasih British Council.

Saya pun bangga, sebagai anak Mollo, anak Timor akhirnya dapat kesempatan 2 menit berbicara di House of Lords, gedung parlemen Inggris di depan beberapa anggota parlemen, para aktivis kewirausahaan sosial dan seniman. Bangga dan senang rasanya, sebab ini mungkin yang pertama dan terakhir kali.

Saya belajar banyak dari perjalanan ini dan ingin segera kembali ke Indonesia untuk melanjutkan kewirausahaan sosial yang sudah saya rintis sejak tahun 2016, Lakoat.Kujawas.

Dari Drivers for Change, ada beberapa teman yang berniat berkolaborasi dengan Lakoat.Kujawas, misalnya Boriana seorang mahasiswi film dan Giang Anh keturunan Vietman yang juga tertarik menjadi volunteer.

Saya bilang ke mereka bahwa komunitas kami sudah membuka kesempatan residensi bernama Apinat-Aklahat kepada seniman, mahasiswa, peneliti atau siapapun yang mau bikin project kreatif bersama warga desa Taiftob di Mollo. Yang pasti kami sedang bersemangat melakukan riset dan persiapan Sandalwood Heritage Trail dibantu teman-teman dari Universitas Indonesia dan Kesengsem Lasem.*

Dicky Senda adalah penulis, pegiat makanan dan pendiri kewirausahaan sosial Lakoat.Kujawas. Pernah menjadi guru di Jogja dan Kupang, lalu memutuskan pulang kampung dan memulai bisnis sosial yang terintegrasi dengan perpustakaan warga dan komunitas kesenian.

Editor: Putra
Sumber: Pos Kupang
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help