Inovasi Sistem Usaha Tani di NTT

Legum Herba 'Terbangkan' Rp 130 Juta ke Saku Petani

Sebanyak 42 peserta mengikuti workshop cara merotasi tanaman legum herba dengan jagung sebagai inovasi sistem usaha tani di Nusa Tenggara Timur (NTT).

Legum Herba 'Terbangkan' Rp 130 Juta ke Saku Petani
ISTIMEWA
JAGUNG LAMURU-Seorang petani di Lorotokus, Kabupaten Malaka, berada di kebun jagung miliknya yang bertumbuh subur setelah diintervensi oleh BPTP NTT melalui Program Revolusi Pertanian Malaka (RPM). Sang petani pun bakal memperoleh pendapatan Rp 6,3 juta/hektar. 

"Pendapatan petani bawang merah di desa-desa pengembangan jagung di Malaka mencapai Rp 130 juta/ha. Nilai ini sangat luar biasa bagi petani Malaka. Sebelumnya tidak pernah terjadi dalam sejarah mereka bisa memperoleh pendapatan seperti ini."

STEF Ludji (50) melangkah pelan menuju ruang pertemuan di Hotel On The Rock Kupang, Jumat (22/6/2018). Anggota Kelompok Tani Filadelfia dari Kabupaten Kupang itu bergabung bersama teman-temannya dari Kelompok Tani Suka Maju dan Miara Muri.

Stef, bersama 42 peserta lainnya dari Dinas Pertanian NTT, Dinas Pertanian Kabupaten Kupang, Dinas Peternakan NTT dan LSM, mengikuti workshop cara merotasi tanaman legum herba dengan jagung sebagai inovasi sistem usaha tani di Nusa Tenggara Timur (NTT).

Workshop selama dua hari hingga Sabtu (23/6/2018) itu, diselenggarakan Balai Pengkajian Teknologi Pertanian (BPTP) NTT dan Australian Centre for International Agricultural Research (ACIAR), bekerjasama dengan Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian NTT.

"Saya beruntung mengikuti workshop ini untuk menambah pengetahuan dan mengubah cara kami bertani. Ini hal baru yang saya ikuti, mudah-mudahan ada inovasi yang kami dapat untuk meningkatkan hasil usaha tani kami, khususnya jagung," Stef berharap.

Kepala BPTP NTT, Dr. Ir. Syamsuddin, M.Sc, ketika membuka workshop menyebut NTT memiliki lahan kering terluas di Indonesia. Dan, untuk mendukung program pemerintah yang menjadikan NTT sebagai Provinsi Jagung, workshop ini diharapkan dapat memberikan rumusan paket rekomendasi teknologi yang dapat diadopsi para petani NTT.

"NTT mempunyai karakteristik wilayah pertanian lahan kering, hampir sama dengan Australia. Permasalahan yang terjadi juga tidak jauh beda. Produktivitas kurang dan di bidang peternakan tingginya kematian anak sapi. Australia sangat senang dengan workshop ini untuk meningkatkan produktivitas para petani kita dalam mengolah lahan," Dr. Werner Stur, Direktur ACIAR Bidang Penelitian, menambahkan.

Pencerahan gambaran materi yang disampaikan Syamsuddin dan Werner Stur membuat Stef Ludji dan para petani lainnya sangat senang karena mereka masih berusaha tani secara tradisional, selain kekurangan sarana dan prasarana. "Memang kami mendapat penyuluhan dari penyuluh, namun hasilnya kurang maksimal," tuturnya.

Workshop hari pertama dibagi dalam dua sesi. Pertama, penyajian hasil-hasil penelitian tentang inovasi integrasi tanaman herba dengan tanaman pangan (jagung/padi). Materi ini dipaparkan Dr. Evert Y Hosang. Kedua, sesi demo praktis penanaman legum herba (menyiapkan benih, pemangkasan legum herba, produksi). Semuanya dipandu peneliti lapangan ACIAR dan BPTP NTT.

Hari kedua, para peserta melakukan kunjungan lapangan pada lahan pertanian milik kelompok tani di Desa Oesao dan Bipolo, Kabupaten Kupang, binaan BPTP NTT. Di sini, Stef dan peserta lainnya melihat dan belajar langsung tentang inovasi penanaman legum herba rotasi gandaria-jagung dan rotasi lamtoro-jagung dan teknik pengawasan pertumbuhannya hingga keuntungan yang berdampak pada produksi.

Halaman
1234
Penulis: Benny Dasman
Editor: Benny Dasman
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved