Jurnalisme Warga

Drivers for Change: Catatan Inspiratif Anak Muda Mollo dari Inggris (5)

Kami belajar tentang SE pagi itu justru bukan dari keasyikan melihat kastil dan bangunan tua atau taman kota yang indah di bawah langit biru

Drivers for Change: Catatan Inspiratif Anak Muda Mollo dari Inggris (5)
FOTO DICKY SENDA
Aktivitas peserta Drivers for Change di Inggris 

Kami tiba di Birmingham dan langsung menuju Impact Hub Birmingham sebuah ruang kerja kolaborasi yang mempertemukan banyak orang muda kreatif di Birmingham. Ini sesi yang sebenarnya paling kurang menarik sejauh perjalanan Drivers for Change.

Kami dibagi ke dalam beberapa kelompok untuk sesi lokakarya dan saya kebagian di sesi yang bicara tentang bagaimana menggunakan cara-cara kreatif untuk menarik perhatian dan keterlibatan banyak orang dalam aksi sosial kita. Daniel sang fasilitator menggunakan pengalaman dia di bidang teknologi khususnya desain, video dan film.

Namun di sesi berikutnya sangat menarik, bukan saja karena bintang tamunya selebriti yang banyak membintangi film terkenal (salah satunya Twilight) melainkan pengalaman dan cara pandang ia memulai aksi sosialnya yang bagi saya menarik. Sesuatu yang terlihat kontras dengan dirinya yang selebriti dan punya banyak hal yang bisa diurusi atau dinikmati.

Mikhael Sheen adalah aktor besar yang mau pulang kampung dan berbuat sesuatu untuk kampung halamannya. Refleksinya adalah perjalanan hidupnya yang sulit dan penting untuk membuka kesempatan kepada generasi muda Port Talbot lewat penciptaan ruang-ruang seni yang cukup progresif. Seni sangat memungkinkan untuk mengubah sebuah lingkungan masyarakat, imbuhnya.

Sheen mengkritik bagaimana kredit mencekik rakyat miskin, karena orang miskin yang kesulitan finansial akan membayar lebih banyak. Ini bukan soal malas atau bodoh, tapi orang miskin tidak mendapat banyak akses dan kesempatan. Ini yang mendorong ia rela membagi waktu antara aktor dan aktivis. Kuncinya, komitmen sebab baginya kedua hal tersebut penting.

Profesinya sebagai orang terkenal membantunya menyuarakan berbagai isu sosial yang ia kerjakan dan membantu untuk menarik lebih banyak perhatian publik khususnya pemerintah. Kunci kedua adalah waktu, harus selektif membagi waktu antara syuting dan bekerja sebagai aktivis. “Life is hard, so we must help each other.”

Kami mengakhiri sesi hari ini dengan makan malam di kampus Universitas Bimingham yang punya menara jam yang tinggi dan masih aktif berbunyi setiap jam. Terlalu banyak roti lapis mala mini, roti lapis yang rasanya hambar.

Saya mengeluarkan sambal lu’at produksi kewirausahaan sosial Lakoat.Kujawas di Mollo untuk membunuh rasa hambar itu. Teman-teman asal Brasil seperti biasa mulai berkerumun dan menonton pertadingan piala dunia melalui telepon selular. Malam ini kami menginap di Wolverhampton University yang di setiap toilet umumnya ada mesin penjual kondom. *

* Dicky Senda adalah penulis 3 buku cerpen, pegiat makanan dan sejak dua tahun terakhir bergiat di sebuah komunitas warga bernama Lakoat.Kujawas di Desa Taiftob, Kapan, Kecamatan Mollo Utara, Kabupaten Timor Tengah Selatan, Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT).

Lakoat.Kujawas merupakan komunitas yang mengintegrasikan kewirausahaan sosial dengan perpustakaan warga, ruang berkesenian, toko online produk khas Mollo, homestay dan ruang arsip.

Editor: Putra
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help